Pemilik Kebebasan Bicara Terakhir –

oleh -121 views


: Kepada Saut Situmorang


Muhammad Yasir

TAK ADA suatu hal menarik dari Jakarta selain kenangan sejarah pusat kolonialisme dan kebangkitan nasional senantiasa terbayang dalam benak pejalan kaki kebanyakan yang berjalan menunduk semacam menanggung beban masa lalu dan hari ini atau bahwa itu telah terbawa arus Kali Ciliwung yang kotor dan berbau busuk. Akan tetapi, ini bukan menyoal Jakarta, melainkan perjalanan dua orang penyair; seorang akan segera dihukum dan seorang lagi muridnya, di dalam sebuah kereta Jakarta-Yogya lima tahun lalu.

“Indonesia adalah mimpi dimana aku tak perlu lagi bermimpi seperti ini!” kata si penyair kepada muridnya. Kemudian dia melanjutkan, “Bagaimana mungkin seorang polisi dan seorang hakim bisa memercayai pembodohan sejarah ini hanya dengan membaca pengaduan belaka? Dunia yang satu ini milik kita, bukan mereka. Mereka cuma bandit yang telah melecehkan dunia kita. Maka, seorang demi seorang dari mereka mesti dicatat dan diingat sebaik-baiknya!”

Demikianlah kemarahan keduanya membuncah kemudian habis dilumat deru kereta dan derit roda besinya yang menjadi semacam hymne perjalanan pulang para penumpang, orang-orang orient, yang sejak kereta meluncur Meninggalkan Jakarta duduk bermenung semacam begitu banyak beban persoalan dunia di pundak mereka, sedangkan Gambir telah tertinggal jauh.

Ada seorang perempuan dan seorang anak perempuan, cucunya, duduk persis di hadapan penyair dan muridnya. Si perempuan sepertinya seorang terpelajar dan memiliki wibawa. Bagaimana pun, cara sepasang matanya mengamati setiap objek yang ada menunjukkan bahwa dia seorang teliti. Juga cara dia bicara kepada cucunya, ketika cucunya bertanya tentang bagaimana jalur kereta api dibuat:

“Mandor sekaligus Gubernur Jendral Hindia-Belanda itu bernama Baron Sloet van de Beele merupakan orang pertama yang mengancam orang-orang Semanarang dan Vorstenlanden (Yogyakarta) untuk melakukan pencangkulan jalur kereta api pertama di Desa Kemijen pada tanggal 18 Juni 1864. Aku membayangkan bagaimana mereka yang bekerja di bawah ancaman, mengerjakan rel kereta dengan lebar 1435 milimeter itu dengan kuku-kuku pada jemari mereka yang terluka dan mulai membusuk.”

“Bukan main,” si perempun melanjutkan. “Satu… empat… enam… sepuluh… setiap pekerja berhitung sebagai tanda jumlah rekan mereka yang gugur di ujung moncong senjata dan kengerian kelaparan. Oh… apakah guru-gurumu di sekolah pernah menceritakan tentang kekelaman ini?”

Si cucu menggeleng.

“Memang demikian, karena kalian dididik hanya untuk menjadi domba-domba yang belajar mengaum seperti anjing dan serigala. Itu sangat mungkin terjadi.”

Murid si penyair itu turut serta mendengarkan percakapan si perempuan dan cucunya, tetapi dia tak memiliki suatu apa untuk dipertanyakan. Dia merasakan pengetahuan si perempuan seperti setiap anak yang melambaikan tangan ketika per sekian detik kereta melintasi kampung mereka; harap-harap suatu saat kelak mereka akan duduk mengisi setiap kursi sembari mengenakan dasi dan menebalkan gincu.
***

Pada stasiun kesekian, kereta api berhenti. Beberapa orang penumpang turun, berganti. Beberapa orang penumpang baru duduk sebagaimana mestinya; tak ada perbedaan dari airmuka mereka, kemurungan tampak menguasai dan mengontrol setiap gerak-gerik anggota tubuh mereka. Pun, tak ada sekata pun keluar dari mulut mereka sebagai sapaan dan keramah-tamahan bangsa terjajah, seakan-akan kebahagiaan di tanah-air ini telah lama hilang.

Setengah jam setelah kereta api kembali meluncur, terjadi percakapan antara si penyair dan si perempuan untuk kali pertama.

“Negeri ini telah kehilangan harkat-martabatnya sebagai sebuah negeri yang memiliki sejarah perbudakan dan perlawanan yang panjang. Bukankah demikian?” kata si penyair, memancing.

“Tidak, kurasa,” kata si perempuan.

“Negeri ini tetap memiliki harkat-martabat sebagai sebuah negeri yang memiliki sejarah perbudakan dan perlawanan yang panjang,” dia melanjutkan. “Kita, tentu saja dapat melihat dan meraba itu melalui teks demi teks yang ditulis dari berbagai versi.”

“Justru teks demi teks itu dilahirkan untuk mengaburkan sejarah. Para penguasa dan bandit di tatanan pemerintah memiliki misi lain selain melakukan penindasan dan perampasan hak setiap orang di tanah ini. Di antaranya, kupikir, ialah membuat seseorang merasa risih dengan ilmu pengetahuan, dengan begitu sendirinya orang tersebut akan menjadi bungkam. Dan ya… aku belum menyebut jumlah orang yang dibunuh dan mati dalam penjara, ya!” kata si penyair.

“Kita bisa memakan makanan enak, karena kita memiliki uang yang cukup. Demikian pula, kita mengetahui sejarah dengan melakukan pembacaan teks sejarah,” kata si perempuan.

“Aku seorang sinis,” lanjut si perempuan. “Namun sikap sinis ini tak kudapat dari sejarah atau teks demi teks tentang itu, melainkan pengalaman empirik yang telah kulalui, mungkin juga kau. Ada satu hal yang menjadi penekanan penting bagi kita, yaitu sikap politik yang jelas serta komitmen terhadap perlawanan yang kuat dan berdasar. Bukankah selama ini kita lebih suka mendengarkan kotbah dari seorang terididik Barat ketimbang orang-orang sendiri? Apa standarisasi untuk itu? Serta mengapa orang-orang sendiri yang digadang-gadang mampu menjadi semangat zaman malah dicap sebagai angkatan gagal dan pongah? Heh! Kurasa justru kita kita ini yang gagal, ‘kan?”

“Seekor domba tak mungkin bisa melolong seperti seekor srigala dan anjing, karena dia seekor domba! Dan seorang manusia, apalagi dari bangsa terjajah, sudah semestinya mampu membuat rumusan atau konsepsi untuk melawan penjajahnya. Bagiku, argumenmu seperti argumen negara. Banyak narasi yang coba kau kaburkan. Soal Barat, mungkin maksudmu Max Havelaar dan Kartini yang mengaduh-aduh kepada kolega Belanda-nya tentang kegelisahannya melalui surat demi surat ironi yang dianggap luhur dan dipuja-puja oleh orang-orang masa kini. Soal orang-orang sendiri, bukankah mereka memiliki cita-cita yang sama, yaitu menjadi kolaboratoris atau native orientalis?! Jika “kita kita” yang kau sebut termasuk aku di dalamnya, aku menolak itu. Aku menolak menjadi bagian dari “habis gelap, terbitlah terang” yang justru dikomodifikasi menjadi “habislah gelap, sehabis-habisnya!””.

Tak ada percakapan lagi setelahnya. Semua yang tampak dan terlewati menjadi dingin dan getir.

Si perempuan dan cucunya turun dari Gerbong A, ketika kereta tiba di Solo.

“Senang berbicara dengan kau. Kuharap kita akan jumpa di gerbong kereta yang sama!” kata si perempuan kepada si penyair.
Si penyair semringah, kemudian berkata, “Berhati-hatilah!”
***

Hanya ada beberapa penumpang bertampang jelek yang naik, selebihnya hanya kekosongan belaka. Dalam keadaan demikian murid si penyair tak ingin dilumat kebosanan perjalanan. Dia pun berkata, “Suhu, ketika mendengarkan percakapan tadi, aku teringat perkataanmu tentang “Memancinglah tanpa mata kail. Bagaimana itu?”

“Semua, ada ceritanya. Begini bila kuceritakan, dengarkan baik-baik:

“…LELAKI TUA nyaris menghabiskan sepanjang hari duduk di atas batu di tepi sungai yang membelah bebukitan, besertanya joran kayu dan buku. Orang kebanyakan memanggilnya si penyabar ulung, karena tabiatnya sabar menunggu.. Namun, Lelaki Tua tak menggubris orang kebanyakan. Baginya, orang kebanyakan semacam belatung di dalam daging bangkai seekor babi. Dari atas batu itu nampak ikan-ikan mondar-mandir semacam ada ketakutan melanda. “Ikan-ikan yang menyedihkan! Haha,” gumam Lelaki Tua.

Sebelum matahari meninggalkan senja, Lelaki Tua duduk di beranda rumahnya. Dia membuka kiriman dari seorang kawan lama yang jauh. Kiriman itu berisi sebuah novel The Old Man And The Sea karya Ernest Hemingway. Lembar demi lembar dibacanya dengan teliti seakan ia tak ingin melewati sekata pun, hingga malam yang basah tiba.

Suara jangkrik mengerik terhembus angin dingin. Bagi para katak betina, inilah saatnya bertelur. Lelaki Tua menutup novel itu kemudian masuk ke dalam rumah. Sebelum tidur, dia pandangi foto istrinya yang tergantung di dinding. Dia teringat ucapan istrinya. Begini:

“Bukan umurmu yang membuatku mencintaimu, tetapi keberanianmu menghadapi musuh-musuh ideologismu dan kejujuranmu menjalani kehidupan yang balau. Jika bagi perempuan kebanyakan menikah adalah penahbisan diri ini kepada kuasa lelaki, maka aku beranggapan lain. Bagiku, bersepakat bahwa kita menikah dan menjalani hidup bersama adalah sikap politis yang revolusioner. Mengapa? Karena kita akan dihadapkan pada sebuah jalan lain; jalan paling sunyi dari jalan sunyi. Di sana kita akan diuji apakah kau dan aku berhasil atau tidak melawan segala rintang. Jika berhasil, jadilah kita sebagai revolusioner bagi diri sendiri. Jika tidak, lebih baik mati!”

Pukul 07.00 pagi, setelah menyiram bunga makam istrinya di laman belakang rumah, Lelaki Tua pergi ke sungai sembari menenteng sebuah joran kayu dan novel The Old Man And The Sea. Tak lama kemudian, dia duduk di atas batu. Sembari menunggu ikan terpancing, dia melanjutkan bacaannya. Begitu saja selama berjam-jam.

“Dapat, Pak?” tanya seorang pemancing; pemuda, kurus, dekil.

“Apakah joranku mengganggu joranmu, bedebah kecil?”

Pemuda itu diam.
Lima menit kemudian, si pemuda bertanya lagi, “Dapat, Pak?”

“Apakah ikan-ikan dipaksa memakan umpan?”

“Ndak. Ada masalah apa, Pak?”

“Ada. Masalahku adalah ketika kau bertanya!”

Kali kedua pemuda itu diam.

Karena sudah kepalang sore, Lelaki Tua pulang—pemuda itu telah pulang sebelum sore—dan meninggalkan joran kayunya di atas batu.

Keesokan hari, pukul 07.00 pagi Lelaki Tua pergi ke tepi sungai dan duduk di atas batu, kemudian membaca sembari menunggu ikan-ikan terpancing. Rupanya, pemuda yang kemarin mati kutu mengikuti Lelaki Tua. Dia duduk di sebelah Lelaki Tua di sebuah batu yang sama berat dengan badannya. Berbeda dengan Lelaki Tua, si pemuda dalam sebatang rokok lima sampai enam ekor ikan didapatnya. Berbeda dengan Lelaki Tua.

“Buku apa itu, Pak?”

Lelaki Tua itu menatapnya sesaat kemudian berkata, “Yang jelas bukan buku biografimu dan presiden negeri ini, bedebah kecil!”

“Lalu?”

“Sebuah novel. Lelaki Tua yang memancing di laut.”
Pemuda itu diam sembari membayangkan jika Lelaki Tua itu menyinggung dirinya sendiri.

“Kenapa kau semringah? Apa yang salah denganku atau buku ini?”

“Tidak ada, Pak. Aku, e, aku juga pernah membaca sebuah novel.”

Si pemuda kemudian panjang-lebar menceritakan isi novel yang bertajuk Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer yang telah dibacanya. Kemudian berkata, “Ya, Pak. Akhirnya semua orang berkhianat!”

Lelaki Tua tersenyum.
“Mengapa kau tersenyum, Pak?”

“Anak Muda, tak ada soal bagiku tentang sebuah pengkhianatan, karena pengkhianatan menunjukkan kepada kita siapa sebenarnya yang berkhianat itu. Lantas, apa pula yang kau kecewakan? Bukankah kau sendiri juga pengkhianat? Ya! Kau datang ke sini untuk menangkap banyak ikan, bukan?!

“Maksudnya?”

“Bodoh! Masih muda saja kau tak mampu memaknai itu, apalagi tua kelak?”

Lelaki Tua beranjak pergi.

Tinggallah pemuda itu seorang diri. dia terdiam; mati kutu. Ia kemudian menatap air sungai, tampak dirinya kalah. Kemudian dia beranjak ke batu tempat Lelaki Tua duduk. Dan betapa terkejutnya dia, ketika mengangkat joran kayu milik Lelaki Tua. Ternyata joran kayu itu tanpa mata kail!…”

Kedua penyair itu tertawa terbahak seakan-akan dengan “ha-” yang keluar dari mulut mereka merupakan kebebasan yang terakhir.

Sampit, 21 Januari 2021



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.