PENGGAGAS BAHASA PERSATUAN INDONESIA DARI PAMEKASAN MADURA –

oleh -131 views


Mashuri *


(Mohammad Tabrani dan Mohammad Yamin)

Oktober merupakan salah satu bulan penting yang patut dikenang oleh bangsa kita. Selain sebagai bulan Sumpah Pemuda, Oktober juga bulan kelahiran M. Tabrani, penggagas bahasa persatuan Indonesia. M. Tabrani lahir di Pamekasan, Madura, pada tanggal 10 Oktober 1904 dengan nama lengkap Mohammad Tabrani Soerjowitjitro.

M. Tabrani menggagas bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sejak ia bekerja sebagai insan pers di harian Hindia Baru, mulai Juli 1925. Dalam kolom ‘Kepentingan’ yang ia asuh di lembaga pers tersebut, pada tanggal 10 Januari 1926, dimuat tulisannya berjudul “Kasihan”, yang memunculkan gagasan awal untuk menggunakan nama bahasa Indonesia.

Ketika itu, M. Tabrani menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan bangsa. Konsep kebangsaan yang muncul dari gagasan M. Tabrani tersebut merujuk pada kondisi nyata keberagaman orang-orang Hindia Belanda yang masih bersifat kedaerahan atau kesukuan dan masih mengutamakan kepentingan suku atau pun daerahnya masing-masing sebagaimana terbentuknya organisasi-organisasi kepemudaan pada masa itu.

“Bangsa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bangsa Indonesia itu! Bahasa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bahasa Indonesia itu!” demikianlah gelora Tabrani sebagaimana dituliskannya dalam koran Hindia Baru (edisi 11 Februari 1926) pada kolom ‘Kepentingan’ yang dengan penuh keberanian diberi judul “Bahasa Indonesia”.

Ditegaskan, penerbitan bahasa Indonesia itu bertujuan agar pergerakan persatuan anak-Indonesia akan bertambah keras dan cepat. Menurut dia, jika kita membuat bahasa itu bahasa Melayu, kita salah. Hal itu karena sebutan tersebut dipastikan mengandung sifat imperialisme dari bahasa Melayu terhadap bahasa lainnya yang digunakan bangsa kita.

Itulah sikap tegas M. Tabrani yang terungkap pada kolom ‘Kepentingan’. Pada bagian akhir kolom itu, Tabrani menutup tulisannya dengan sebuah visi luar biasa: “karena menurut keyakinan kita, kemerdekaan bangsa dan tanah air-kita Indonesia ini terutama akan tercapai dengan jalan persatuan anak-Indonesia yang antara lain-lain terikat oleh bahasa Indonesia”. Sebagai penutup kolom, disebutkan nama penulis: Tabrani D.I. Penggunaan singkatan nama D.I. itu dijelaskan secara terpisah: bukan nama organisasi Darul Islam, melainkan Dienaar Indie, berarti ‘Abdi Indonesia’.

Gagasan berani dan mendahului zaman M. Tabrani tersebut bukan tanpa halangan. Disebut berani, karena pada masa itu, 1926, Indonesia masih berupa Hindia Belanda. Bahkan terkait gagasan itu, kawan seperjuangannya, yaitu Mohammad Yamin, menyebut gagasan tersebut sebagai lamunan M. Tabrani dalam Kongres Pemuda Pertama, 1926. Sahdan, Yamin sampai ‘naik pitam’ karena Tabrani menyetujui seluruh pidato Yamin, tetapi menolak konsep usul resolusinya pada Kongres Pemuda Pertama 1926 (terutama usulan Yamin pada butir ketiga: menjunjung bahasa persatuan, bahasa Melayu, sedangkan M. Tabrani mengusulkan bahasa persatuan bahasa Indonesia). Pada saat itu, M. Tabrani bertindak sebagai Ketua Kongres dan dia baru berusia 22 tahun.

Atas perbedaan pendapat antara Yamin dan Tabrani tersebut, kebijaksanaan yang diambil adalah keputusan terakhir itu, tentang bahasa persatuan, ditunda sampai dengan Kongres Pemuda Indonesia Kedua pada tahun 1928. Pesan Kongres Pemuda Pertama dititipkan kepada M. Yamin dengan catatan penting bahwa nama bahasa Melayu diganti menjadi bahasa Indonesia. Terbukti bahwa Yamin selaku penulis dalam Kongres Pemuda Kedua menunaikan amanat itu dengan baik, sehingga butir ketiga pun disepakati bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia, yang merupakan ikrar atau kesepakatan pemuda, dan sekarang dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Sungguh, ‘lamunan’ Tabrani tidak percuma. Cita-cita ‘persatuan anak-Indonesia’ terwujud dengan persatuan anak manusia Indonesia yang kala itu masih berpikir dan bertindak sebagai orang Melayu, Jawa, Sunda, dan lain-lain, yang berbeda atribut kemanusiaannya dalam hal suku, ras, agama, golongan, dan bahasa. Dari atribut kemanusiaan itu, Tabrani memilih bahasa sebagai cara berpikir sekaligus membentuk pikiran bersama untuk berjuang, bekerja sama dan bersatu untuk menjadi sesama anak-Indonesia.

Pilihan M. Tabrani berupa bahasa Indonesia merupakan perjuangan gemilang yang tak terbilang, yang tidak hanya dalam hal penamaannya, tetapi juga penggunaannya. Geliat perjuangan penggunaan bahasa Indonesia diketahui sangat gigih bermula dari Volksraad (Dewan Rakyat), yang turut mendukung Kongres Bahasa Indonesia (KBI) Pertama di Solo pada tahun 1938. Pada saat KBI itu M. Tabrani pun membuat prasaran “Penyebaran Bahasa Indonesia”. Sementara itu, untuk melembagakan nama bahasa ini, prasaran “Institut Bahasa Indonesia” juga diusung oleh Sanusi Pane: orang yang menopang pendirian M Tabrani dalam perdebatan dengan Yamin pada tanggal 2 Mei 1926 ketika gagasan bahasa persatuan Indonesia dibuat dalam Kongres Pemuda Pertama.

M. Tabrani, sang penggagas bahasa persatuan Indonesia wafat pada tanggal 12 Januari 1984 dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta. Sejatinya, makam itu adalah situs memori untuk menapaktilasi M. Tabrani, selain kota kelahirannya di Pamekasan Madura dan beberapa tulisannya di media massa tempo doeloe. Tanda jasa Perintis Kemerdekaan telah dianugerahkan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia pada 1975. Pada tahun 2019, M. Tabrani juga telah mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun, tanda jasa dan penghargaan itu masih perlu ditambahkan mengingat jasa-jasa M. Tabrani bagi bangsa dan negara. Untuk itu, pada tanggal 30 Maret 2021, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, dan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan segenap elemen masyarakat di Kabupaten Pamekasan melakukan sosialisasi pengajuan penghargaan negara berupa gelar pahlawan nasional kepada M. Tabrani karena gagasan besarnya melahirkan bahasa Indonesia yang terbukti mempersatukan manusia Indonesia yang berbeda-beda. Bahasa Indonesia pun menemukan martabat dan marwahnya sebagai bahasa persatuan!

Mudah-mudahan, segalanya lancar dan bermanfaat!

MA, On Siwalanpanji, 2021


Teks merujuk pada laman Badan Bahasa dan beberapa sumber lainnya.
***

*) Mashuri, lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1976. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan terhimpun di beberapa antologi. Dia tercatat sebagai salah satu peneliti di Balai Bahasa Jawa Timur. Tahun 2018, bersama Sosiawan Leak dan Raedu Basha, dipercaya jadi kurator yang bertugas memilih narasumber dan menyeleksi para peserta Muktamar Sastra. Hubbu, judul prosanya yang mengantarkan namanya meraih predikat juara 1 Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), tahun 2006. Dia menggeluti hal-ihwal terkait tradisionalitas dan religiusitas. Mashuri, merupakan lulusan dua pesantren di tanah kelahirannya. Dia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Di luar aktivitas pendidikannya, berkiprah di Komunitas Teater Gapus, dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.