PROLOG INGATAN PADA IBS –

oleh -31 views



Raudal Tanjung Banua *

Suatu hari dalam tahun 1996, kami baru saja selesai makan malam dengan menu favorit: tempe goreng dan sayur oseng daun pepaya. Saat masih duduk melingkar di ruang tengah rumah Bedahulu bersama Bung Umbu Landu Paranggi, terdengar deru motor di halaman. Seorang kawan datang, dan segera menyatakan bahwa ia baru saja dari sebuah toko buku di bilangan jalan utama Kota Denpasar. Ia melihat buku puisi Iman Budhi Santoso (IBS), Dunia Semata Wayang, baru saja terbit.

Umbu senang sekali mendengar berita itu. Wajahnya cerah. Apalagi ketika kawan itu cerita bahwa yang memberi Prolog pada buku tersebut adalah Emha Ainun Nadjib dan yang memberi Epilog tidak lain Linus Suryadi AG. “Sudah pas itu!” kata Umbu. Kebiasaannya menjentik-jentikkan jari pada kardus bekas plat cetak Bali Post yang menjadi karpet istimewa kami, jadi semakin kencang saja. Jari itu seolah menari-nari menyimbolkan girang hati.

Sayang, kawan itu tidak membawa buku dimaksud. “Belum gajian,” katanya, sumringah. ”Besok kalau sudah gajian saya beli. Sepulang kerja tadi saya diberi tahu Ema, langsung saya cek ke toko buku, ternyata benar.”

Ema yang dia maksud adalah Ema Sukarelawanto, wartawan Harian Nusa Tenggara yang memang kerap memberi info terbitan buku baru. Selain Bli Ema, ada Bang Muchsin Lubis, juga wartawan Nusa yang suka bersikap serupa. Beliau ini pernah meminta saya untuk segera mencari Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang baru terbit sebab sebentar pasti akan hilang, katanya. Benar saja, sehari setelah saya beli, sisa buku itu raib dari rak toko buku.

Nah, kawan yang baru datang tadi mungkin memang tak perlu bergegas membeli Dunia Semata Wayang. Kejaksaan Agung mungkin masih disibukkan buku Pram. Rasanya mustahil pula buku puisi cepat ludes diborong konsumen. Jadi sementara, info yang dia sampaikan sudah cukup memunculkan kesegaran puitik malam itu.

Ia menambahkan telah membaca hampir separoh puisi IBS. Enaknya, toko buku zaman jadul, kita bebas membuka dan membaca buku di rak. Maklum belum ada teknologi srink (bungkus plastik) seperti sekarang yang membuat kita hanya menduga-duga isi sebuah buku.

Kemudian kawan baik itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya,”Saya bawa ini,” katanya.

Ia membawa dua lembar kertas yang ternyata ia sobek dari buku Dunia Semata Wayang, persis pada puisi “Dunia Semata Wayang”, halaman 56—di baliknya, halaman 55 ada puisi “Amsal Perkutut”! Satu lagi halaman 13 dengan puisi “Lelaki Empat Penjuru: kepada ULP” dan di baliknya, halaman 14 puisi “Kemamang di Tepi Hutan Mantingan”.

Kami tak ingat lagi bagaimana kami menanggapi cara tak senonoh kawan tersebut, namun yang jelas sobekan itu langsung menjadi rebutan untuk dibaca dan diresepsi bersama-sama.

Ya, kami, anggota Tensut Bedahulu (Tendangan Sudut Bedahulu) atau Intens Beh (Institut Tendangan Sudut Bedahulu), nama yang diberi Umbu untuk kawan-kawan penyair muda yang tinggal dan ngumpul di sebuah rumah Jalan Bedahulu XV/28, segera berebut membacanya dan ada yang membacakannya keras-keras. Yang lain menyimak dengan takzim.

Termasuk membacakan puisi “Lelaki Empat Penjuru” yang ditujukan IBS untuk Umbu, seteru sekaligus sekutunya itu:

Seorang lelaki Sumba lahir kembali di Jawa
memanggang diri, menggunting alamat pulang
menuntun puisi pandai mengundang
dipikul juga rindu murid berguru
ditantang pula cinta mengusut makna
……….

Pembacaan puisi lantas menggugah pembicaraan panjang lebar tentang kepenyairan dan lebih khusus lagi tentang kepenyairan Iman Budhi Santoso.

Umbu sendiri, seperti biasa, tidak berkomentar. Ia lebih senang mendengar obrolan kawan-kawan yang entah bagaimana ternyata cukup banyak tahu sepak-terjang IBS.

Saya pun heran dan takjub dengan pengetahuan kawan-kawan tersebut. Pengetahuan saya sendiri minim tentang sosok yang malam itu jadi bintang imajinatif kami.

Meski pengetahuan beberapa orang kawan tentang sosok IBS itu, bukan perkara aneh sebenarnya. Nama IBS sudah cukup santer menyebar dalam referensi dan literasi sastra Tanah Air, apalagi di Bali yang notabene ada Umbu Landu Paranggi sebagai karibnya dulu di PSK. Tambah lagi yang kami bicarakan dunia kepenyairan, plus Yogya tempo doeloe sebagai “pusat” kepenyairan dengan segala keanehan dan polanya. Alhasil memang pembicaraan kami lebih banyak tentang romantisisme.

“Katanya, Mas Iman jarang mandi,” kata kawan yang membawa sobekan buku itu.

“Ia mengunjungi tempat yang ia tulis dan mengamati semuanya dengan telaten,” kata yang lain.

“Ia tak mau jadi pegawai negeri, meninggalkan jabatannya sebagai mandor perkebunan dan kembali ke jalan yang lurus,” kata yang lain lagi, berseloroh.

“Ayah tirinya pengarang sastra Jawa terkenal, Any Asmara, dan saudara tirinya sama-sama seangkatan dengannya di PSK, Teguh Ranusastra. Begitu, ya, Bung?”

“Yaaa!”

Tidak ada yang disanggah Umbu. Laki-laki kuda itu hanya mesem-mesem dan dalam beberapa tindak tertawa terbahak-bahak ketika apa yang disampaikan para cantriknya mungkin mengenai tepat memori nostalgisnya. Kami menghabiskan malam itu dengan bahagia sekaligus rasa penasaran.

Waktu itu, penerbitan buku, apalagi buku puisi dan masuk toko buku besar pula, boleh dikatakan peristiwa langka. Buku sastra yang terbit kebanyakan ala komunitas yang dicetak sederhana dan terbatas, bahkan banyak yang hanya difoto copy dan diklip seadanya.

Besoknya kawan itu datang lagi. Buku Dunia Semata Wayang tergenggam elegan di tangannya.

Katanya, Ema Sukarelawanto telah membelikannya, dan Ema berpesan supaya bisa dibaca ramai-ramai di hadapan Umbu. Buku itu bercover putih, bergambar/skets berupa perempuan arca dalam tatahan wayang. Di bagian belakang ada sedikit warna merah, mungkin untuk memunculkan kesan bendera merah-putih supaya identik dengan nama penerbitnya, Yayasan untuk Indonesia (YUI).

Kami langsung membuka buku itu, tapi ternyata tak ada halaman 13-14 dan halaman 55-56! Tak ada puisi “Laki-laki Empat Penjuru”, “Kemamang di Tepi Hutan Mantingan”, “Amsal Perkutut” dan “Dunia semata Wayang”!

Lhadallah, ternyata itu buku bekas sobekan si kawan tempo hari! Saat Bli Ema membelinya justru terambil buku yang “disakiti” itu!

Anehnya, kawan tersebut belum menyadarinya. Mungkin ia belum membukanya lagi atau belum sempat mencek seluruhnya. Sejenak ia bengong.

Kami segera bersorak,”Karmapahla!”

Umbu yang mendengar ribut-ribut segera keluar kamarnya. Ternyata ia sudah menyimak pembicaraan kami dari awal. Ia langsung bilang,”Yaaah, itulah, dunia semata wayang, tak bisa dipisahkan, tak bisa dicaplok, ia akan kembali ke alamatnya…”

Kami mengangguk-angguk, sebagian masih tertawa-tawa, dan yang lain mulai menarik tali-temali filosofi.

Kawan itu, baik sekarang saya sebut namanya, Komang Harbali. Dia sudah meninggal beberapa tahun lalu (semoga almarhum berbahagia). Ia dikenal sebagai dokumentator dan tukang kliping sastra yang kemudian ia bagikan kepada kawan-kawan. Kami sangat menghormatinya dalam hal itu. Selain membawakan kliping, koran, majalah dan buku baru atau informasi tentang buku yang baru terbit, ia juga rutin membawa minuman, kadang merk luar negeri. Maklum ia bekerja sebagai bartender di sebuah hotel berbintang di Kuta. Itulah minuman terbaik yang kami peroleh secara cuma-cuma dan nyaris secara teratur pula.

Tanpa kehilangan akal, hasil sobekan buku kemarin malam yang masih ia simpan di dalam tasnya, langsung ia tempel kembali di halaman yang hilang. Dunia Semata Wayang pun kembali pada tempatnya.

Itulah kenangan yang tak pernah terlupakan ketika saya mengingat puisi-puisi IBS. Sebab sejatinya, sejak itulah saya benar-benar membaca langsung puisinya, lebih dari sekedar membayangkan sebab hanya namanya yang lebih banyak berkelabat. Sesekali, memang saya membaca juga puisinya di Republika atau Kedaulatan Rakyat dan Minggu Pagi yang entah bagaimana ada dalam kliping Harbali, tapi dalam buku “by insiden” itulah pertama kali saya baca puisinya secara utuh.

Kelak, ketika saya pindah ke Yogya, pertemuan langsung dengan IBS membuka eksemplar kisah tersendiri yang lebih panjang….

Ah, baiknya sekarang saya tampilkan puisi “Dunia Semata Wayang” (1997):

Memburu anak semata wayang
rindu berganti ibu
bertarung sungguh demi selendang
sampai tua minta ditunggu
bahu kekar, senyum mawar, selimut beledu

Dulu bocah sekarang bocah
tak sanggup menerima kalah
sebentar berani, sebentar sembunyi
mudah mendekat sukar didekati
karena ia tak beralamat
karena ia tak merasa jahat
meninggalkan kerabat tanpa permisi
segan bersurat di mana berdiri saat ini

Selebar apa pun dunia
anak semata wayang, kembali juga
ke kamarnya. Lengang dan laba-laba
lebih dipercaya menetapkan kuburnya nanti
mengatakan sepotong lidi
atau bintang yang nekat masuk atmosfer bumi


***

*) Raudal Tanjung Banua, sastrawan kelahiran Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat juga Harian Haluan, Padang. Kemudian merantau ke Denpasar, Bali, bergabung Sanggar Minum Kopi, serta intens belajar kepada penyair Umbu Landu Paranggi. Lalu ke Yogyakarta; menyelesaikan studi di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia. Mendirikan Komunitas Rumah Lebah, dan bergiat di Lembaga Kajian Kebudayaan AKAR Indonesia (Sebuah Lembaga Budaya yang Menerbitkan Jurnal Cerpen Indonesia). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, esei, dipublikasikan di pelbagai media massa pun antologi. Buku-bukunya: Pulau Cinta di Peta Buta (2003), Ziarah bagi yang Hidup (2004), Parang Tak Berulu (2005), Gugusan Mata Ibu (2005), Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai (2018), dll. Penghargaan yang diterimanya: Sih Award dari Jurnal Puisi, dan Anugerah Sastra Horison untuk cerpen terbaik dari Majalah Sastra Horison.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *