PUISI. GITU AJA KOK REPOT | Obrolan Santai

oleh -16 views


PUISI. GITU AJA KOK REPOT

 

Pedang yang dibuat asal jadi dipastikan tidak akan menarik perhatian. Kue atau makanan yang dibuat asal jadi rasanya tidak akan seenak kue atau makanan yang dibuat dengan resep yang baku.

 

Bisakah puisi dianalogikan dengan kue atau makanan. Tentu saja tidak. Mengapa. Karena puisi bukan untuk konsumsi jasadiah melainkan konsumsi batiniah.

 

Puisi dan makanan sama ditangkap oleh rasa tapi puisi bukan ditangkap oleh rasa pada lidah. Puisi ditangkap oleh rasa hati. Dan tentu saja bukan hanya hati yang menimbang. Pikiran ikut. Pikiran dan perasaan bersama-sama menimbang-nimbang dan hasilnya sangat tergantung pada kerja pikiran dan perasaan pembacanya.

 

Tampaknya yang paling menentukan apakah puisi itu hinggap dengan nyaman adalah situasi kejiwaan pembacanya. Sedangkan situasi kejiwaan pembacanya sangat dipengaruhi oleh suasana di sekitarnya. Apa puisi yang dibacanya, siapa pengarangnya, mengapa ia membaca puisi itu, kapan dia membacanya, di mana dia membacanya, dan bagaimana dia membacanya.

 

Rumit. Nyaris tidak ada kesimpulan untuk pertanyaan, apa dan bagaimana puisi indah itu. Karawang Bekasi Chairil Anwar jika dibaca sekitar Agustus kesannya akan lebih tajam ketimbang pada bulan-bulan lainnya. Itupun harus dilihat usia berapa pembacanya.

 

Yang usianya sudah masuk wilayah sepuh akan menangkap Karawang Bekasi dengan lebih tajam ketimbang yang usia muda. Yakin. Tidak juga karena bagi sepuh yang tipis rasa kebangsaannya bisa jadi Karawang Bekasi tidak lebih dari membaca aturan makan obat.

 

Apakah ketajaman rasa kebangsaan itu tidak ada pada mereka yang berusia muda? Belum tentu.

 

Singkat kata tak ada definisi yang sempurna untuk menetapkan keindahan sebuah puisi.

 

Ada keindahan yang sama-sama bisa kita nikmati yaitu ada keterbukaan hati dan pikiran kita terhadap semua jenis puisi yang ada.

 

Nyaman membacanya lanjutkan. Tidak nyaman skip aja. Gitu aja kok repot.

 

 

MARI TERUS BERPUISI  

 

mari berpuisi terus teman tanpa keinginan dipuja dipuji

kalau toh ada puja dan puji jangan diredam jangan dipendam

lepaskan ke langit tempat puji datang dan puji pergi

celoteh benci dan senang biarkan pergi ke balik malam

 

mari berpuisi terus teman kisahkan tentang hidup dan kehidupan

pakai ukuran dan timbangan diri jangan pakai katanya

gubahan yang jadi adalah bahasa murni bahasa jiwa

 

mari berpuisi teman berkisah tentang apa itu keindahan

jangan jauh mencarinya karena keindahan ada dalam dada

terpateri di sanubari disaring oleh pikir dan rasa

 

mari terus berpuisi bersama matahari dan bulan jaditeman

susunlah huruf menjadi kata susun kata menjadi kalimat

kalimat menjadi bait puisi terus terus jangan pernah bosan

jika ada puja dan puji lepaskan di hati jangan melekat

 

201711080855 Kotabaru Karawang

 

Mari kita merdeka. Merdeka berpikir merdeka berkarya. Karya yang santun, karya yang anggun.

 

 

202012031423 Kotabaru Karawang

 

 

 

 





Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *