PUISI PERTAMA MEREKA DI JENDELA SASTRA | Obrolan Santai

oleh -154 views


 

 

 

PUISI PERTAMA MEREKA DI JENDELA SASTRA

 

Lama sebelum Cahayati/CAH, Lilik Puji Astutik/LPA, Suyatmi/SUY, Ifa Arifin Faqih/IAF, Indah Sri Hartati/ISH telah akrab dengan 4334. Telah banyak 4334 gubahannya diunggah di beberapa grup sastra dunia maya. Namun dalam hal produktifitas penulisan 4334 ISH tidak seperti IAF, LPA. SUY, dan CAH.

 

Tulisan ini tidak akan membuat cerita tentang banyak sedikitnya gubahan mereka tapi akan mwencuplik puisi pertama mereka masing-masing yang diunggah di Jendela Sastra.

 

Selain mereka berlima akan diangkat juga puisi pertama Memeth Jack Jamhari/MMJ yang minggu lalu puisi pertamanya ditampilkan di Jendela Sastra. Nama ini diangkat karena ia tampak fokus pada 4334 pada 3 pertama puisinya.

 

Dalam tulisan ini kita akan meraba tema yang mereka usung.

 

Pertama kita lihat bisikan ISH lewat TEPIAN RASA. Suasana “melihat ke dalam” sangat kental pada puisi ini. Baris dan baitnya terasa nyaman untuk diikuti.

 

Dimulai dengan bait pertama yang menampakkan kegamangan atas situasi dan kondisi yang dihadapi ia menambatkan rasa yang utuh pada bait terakhir :

 

Kudiamkan deburan jiwa yang bergolak
Kutimang dengan alunan nama-Nya sepenuh hati
Teredam ombak menjadi riak
Mengalun memeluk tepian rasa damai
 

 

Selengkapnya inilah TEPIAN RASA Indah Sri Hartati.

 

TEPIAN RASA 

Indah Sri Hartati

Kutanggalkan apa yang harus kulepas
Keriuhan yang membingungkan seringkali membuat cemas
Bising yang mengelabui pendengaran
Membuat nanar tatapan
 

 

Aku menepi dari kerancuan rasa
Yang sering kali berdebat dalam dada
Mengagungkan ego semata
 

 

Aku menjauh dari arah tanpa tujuan
Menyusur jalan setapak kehidupan
Menuju-Mu tempat akhir haribaan
 

 

Kudiamkan deburan jiwa yang bergolak
Kutimang dengan alunan nama-Nya sepenuh hati
Teredam ombak menjadi riak
Mengalun memeluk tepian rasa damai
 

 

Bogor, 150720

 

 

KABUT SUMYI Cahayati menyimpan rasa pedih. KABUT SUNYI seutuhnya menampakkan penderitaan yang selalu mendera. Rangkaian kata, baris, dan bait demi bait menyampaikan pesan kekecewaan.

 

Dan sampai pada bait terakhir kita tetap berada dalam perjalanan yang tidak ada akhirnya.

 

Kucoba tuk pahami semua ini

Namun terlalu sulit kuselami

Makna dari sebuah arti

Suatu pengorbanan diri tak berarti

Seutuhnya inilah KABUT SUNYI Cahayati :

 

 

 

KABUT SUNYI

Cahayati 

 

Tak bisa ku mengeja pagi ini

Tak kudengar lagi nyanyian ilalang pagi

Tak kudengar lagi kicauan burung bernyanyi

Tak kudengar lagi sapa indah mentari

 

Kabut sunyi menghitam kelam

Kedukaan nabastala menghujam

Rinai hujan derasnya merajam

 

Seperti inikah perih yang kurasa

Terlalu sakit derita nestapa

Selalu dalam penantian siksa

 

Kucoba tuk pahami semua ini

Namun terlalu sulit kuselami

Makna dari sebuah arti

Suatu pengorbanan diri tak berarti

 

Ruang hampa, 25122020

 

 

Lilik Puji Astutik menyuguhkan suasana yang hampir sama dengan KABUT SUNYI. Namun suasananya terasa lebih mencekam.

Pada KELANA RASA terasa lebih pedih.

Kita tidak tahu siapa “dia” yang dimunculkannya pada bait terakhir baris terakhir.

 

Kegalauan yang ditumpahkan LPA pada KELANA RASA sepenuhnya karena “dia”.

 

Dialah yeng menjadi inspirator lahirnya KELANA RASA sebagai puisi pertamanya di Jendela Rasa.

 

Seutuhnya inilah KELANA RASA Lilik Puji Astutik :

 

KELANA RASA

Lilik Puji Astutik

 

Rasa tak bersayap tak pula berkaki

Tapi mengapa terus terbang dan berlari

Apa sebenarnya yang dicari

Lelah jiwa harus terus menuruti

 

Angin pagi kembali mengaduk rasa

Tak memahami bagaimana lelah jiwa

Terus bermain api pada belantara aksara

 

 

Pena terhunjam pada seribu makna

Aksara menari pada lembah tak berlentera

Gulita hingga tersesat langkah entah kemana

 

Rasa tak bersayap juga tak berkaki

Tapi terus saja bermain ilusi

Mengajak menghadirkannya di sini

Walau dia telah lama pergi dan tak pernah kembali

 

Krian 2 September 2020

 

IAF dalam KAPAN PERGI mudah terbaca. Dari pilihan kata dan susunan bait-baitnya kita bisa segera kenal. IAF adalah seorang guru. IAF dengan jelas melihat “penderitaan” anak didiknya dalam situasi pendemi ini. Coba tengok sejenak :


tangisan mereka mendera jiwa
tawa mereka hilang seketika
bosan di rumah tiada teman sebaya

 

IAF lebur dalam apa yang dirasakan oleh anak didiknya dan situasi itulah yang mebuat ia bertanya KAPAN PERGI :

 

KAPAN PERGI

Ifa Arifin Faqih 

 

pagi ini masih setumpuk rindu
belum lunas untuk menjamu
rasa yang seharusnya kuracik mesra
kembali menuai resah dan kecewa

 

mengapa rindu tersembunyi
saat merajalela covid pandemi
ketakutan kekhawatiran merobek hati

 

tangisan mereka mendera jiwa
tawa mereka hilang seketika
bosan di rumah tiada teman sebaya

 

jiwa-jiwa mereka mulai meraung dahaga
bermain sesuka hati mulai dipaksa berhenti
hanya diam, memandang buku tanpa suara
“sampai kapan suasana ini pergi?” tanyaku dalam hati

 

Probolinggo, 27 Juli 2020

 

Suyatmi dalam BILAH TAJAMnya bercerita tentang kondisi perasaan yang sangat menyiksa diri. Tidak satu katapun yang mengajak kita keluar dari suasana duka dan luka yang dalam. Ia bercerita dan ceritanya tentu saja belum tentu kondisinya sendiri.

 

Suyatmi bisa saja mendengar cerita orang lain lalu mengkristalkan kisah itu seolah-olah dirinya seendiri.

 

Pilihan katanya sederhana namun terasa kesannya ketika dibaca.

 

Iniah BILAH TAJAM Suyatmi

 

 

BILAH TAJAM

Suyatmi 

 

Pergi tanpa kata

Meninggalkan duka lara

Isak sengal terbata

Jiwa merana sengsara

 

Rayuan manis berbisa

Mencekik nyeri mencekam

Nafas tersendat sekarat

 

Belaian menggores rasa

Setajam bilah menikam

Luka menganga mengarat

 

Tatapan tajam menghujam

Menusuk jiwa kelam

Luka membiru lebam

Berbalut mantera malam

 

Yogya, 30082020 15.54 115

 

 

 

 

RUMAH TERAKHIR

Memeth Jack Jamhari

 

Kemboja…. Kemboja…. Kemboja

Nisan-nisan dibawahnya

Sepekan dalam cengkrama

Dua tiga hinga lima

 

Kemboja putih telah letih

Naungi berseragam putih

Mengubur luka dan pedih

 

Kemboja merah masih tegar

Berpulang tentunya qodar

Mengapa kurang ikhtiar

 

Kemboja…. Kemboja…. Kemboja…….

Sempit hanya satu kali dua

Sendiri tanpa daya

Rumah terakhir tanpa jendela

 

Cariu, 11072021

 

Baris terakhir pada bait terakhir “rumah terakhir tanpa jendela” terasa sebagai kesimpulan yang utuh dari baris-baris dan bait-bait sebelumnya.

 

Kematian yang akhir-akhir ini tampak menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja diangkat ooleh Memeth Jack Jamhari untuk tetap menjadi peringatan bahwa kematian adalah saat seseorang dijadikan penghuni rumah tanpa jendela.

 

Kemboja putih telah letih

Naungi berseragam putih

Mengubur luka dan pedih

 

Bait ini kita cuplik untuk mencatat bahwa kejadian kematian yang menjadi inspirasi MJJ adalah kematian saat pandemi, Dan kematian, pandemi atau tidak pandemi adalah untuk mengubur luka dan pedih.

 

Demikian tulisan kecil ini dibuat untuk bercerita tentang puisi mereka yang pertama. Paling tidak yang telah diunggah ke Jendela Sastra.

 

Wancimwekar Kotabaru Karawang

20 Juli 2021 0754

 





Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.