Puisi-puisi Ashif Hasanuddin

oleh -27 views















PINTU

Dari bara yang jadikan lelaki
setengah merdeka
aku datang
mengetuk palung dalammu.
Dengan telinga
yang serupa radar api
aku mencarimu,
meniti sayap dan gerigi.
Seperti jengkrik
kususun segala bunyi,
agar rautmu yang pasi
tumbuh rerumbai,
semacam puisi
atau bebunga padi,
Yang menuju putih,
seputih jalan yang diberkati
di saat dedaun bersih
oleh sisa embun pagi,
oleh mimpi.
Lia, adakah waktu
yang lebih indah
dari bunyi-bunyian ini?
Bunyi yang kucari
hingga ke akar daun
dan tunas sepi.
Sebab bunga,
semua bunga,
melindur,
mengumamkan
nama kendur
yang tak terlipur kamus
dan kitab anggur.
(2010)
TIRAI
Lantaran usialah aku temukan rasa
dengan rantai mawar yang melukis kamar
seperti perahu di bawah cahaya layar
kata-kata telah renta
saat surya menaiki tangga-tangga
tak sempat bercengkrama
sebab isyarat telah mendengung mesra
dari ubunku yang tua, menggapai bunga-bunga
di atas sana, di mana sang taman
membalas doa-doa dengan butiran hujan.
(2010)
PENDAMPING
Dengan baju kudus 
sehabis perjamuan.

Puan itu datang 
dalam pembaringan.

Ia adalah baju baru 
seperti cermin waktu.
(2010)

Ashif Hasanuddin lahir di Gresik, 29 Maret 1987. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Bergiat di Komunitas Rabo Sore di kampusnya. 

NB: Puisi-puisi di atas adalah puisi-puisi Ashif Hasanuddin yang dimuat di Koran Tempo edisi 9 Januari 2011. Tentu saja itu adalah biodata tahun 2011 karena sekarang Ashif Hasanuddin sudah lulus dari Unesa. Teman satu komunitas di Komunitas Rabo Sore.


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *