Puisi-Puisi D. Zawawi Imron –

oleh -44 views


Beduk I
Jawa Pos, 14 Sep 2008

Beduk dan kokok ayam bersahutan dinihari
Mengolah ufuk timur merentang senar-senar cahaya
Gita dari getar gitar hidupku
Beduk itulah yang memanduku tersenyum
agar senyumku tak terhapus usia

Aku berwudu untuk bersubuh, kubasuh wajahku agar keramahan
menjadi bahasa kasih yang tak bisa diterjemahkan
kecuali oleh bahasa embun yang menetes pada mawar

Kubasuh kedua tanganku
agar aku mampu merias wajah kampung halaman ibuku,
ibu dari seluruh bangsaku
sambil kuharap, keringat menderap menjadi bagian takdir Tuhan
yang masih tersimpan di balik cakrawala

Kuusap kepalaku
agar aku bisa membedakan pecahan kaca dengan berlian
Aku rindu pada secercah kunang-kunang yang mekar dalam sanubari
tempat beduk sejati bertalu
dan belum tentu sekali
bertalu dalam hidupku

Kubasuh kakiku
agar aku bisa menempuh jarak dan abad
karena aku dilahirkan untuk menjadi pejalan jauh
yang mencari beduk yang mungkin hilang sebelum kutabuh
Orang yang mujur bukan yang kaya teori
namun lumpuh dalam membangun kenyataan

Fajar tak selalu cahaya
tapi darah yang menyalakan bara
sehingga debur lautan pun ingin bernyanyi bersama
dan seluruh rumput dan daunan ingin berzikir bersama
dalam denyut jantung yang meneriakkan azan kehidupan

Di beranda mesjid Kiai Mojo beduk digantung
Langit sangat biru, dan Bengawan Solo saat itu
konon masih berhulu pada mata air sorga

Tembang-tembang dolanan yang dinyanyikan anak-anak desa
membuat ruh-ruh leluhur tersenyum dalam kuburnya
lir-ilir lir-ilir
tandure wus sumilir

Tapi kemudian beduk ditabuh tidak sebagai pertanda salat
tapi sebagai isyarat agar orang Jawa yang dibikin melarat
segera menghunus kerisnya segera mengasah pedangnya

Lihat, seorang pangeran telah mengganti blangkonnya
dengan sorban, yang hakikatnya adalah kain kafan

Bende dan beduk bersahutan
menjagakan gubuk-gubuk ilalang ke dukuh-dukuh yang jauh

Inilah perang Diponegoro,
perang untuk memberi makna harga diri
akibat kemelaratan yang terlalu dekat dengan kebenaran
dan airmata terlalu suci untuk ditelantarkan

Maka saksikan, kapak-kapak rakyat
yang sebelumnya hanya untuk memotong kayu bakar
lalu digunakan untuk mewakili hati nurani

Petani-petani miskin yang rendah hati
menyerbu ke medan laga, medan pelor dan meriam
karena kematian dianggap kehormatan

Lima tahun lamanya
Batavia seperti dilanda gempa
dan Amsterdam berguncang-guncang

Bunyi beduk itulah yang harus menjelaskan
bahwa perang itu bukan balas dendam
tapi sejenis batu ujian
bahwa orang-orang jelata
sempat memaknai penghinaan dan kemelaratan

Langit bercadar mendung
dan beduk bertalu dari palungan lembah

Saat beduk makin bertalu mengaliri darah
tubuhku menjadi sebuah gunungan
yang termangu di pusat semesta

Beduk bertalu dalam sipongang bonang yang lantang
membuat mekar rasa sadar, rasa Takbir:

Bahwa lapar bisa ditulis dengan madu campur zakfaran
dan hidup bisa tergadai, saat aku terlalu silau

Beduk dan Takbir itu yang mencanangkan
bahwa kemiskinan tak enak untuk didengar
bahwa kekejaman yang sopan pun harus dilawan.

***
D. Zawawi Imron, lahir di desa Batang-batang, Kabupaten Sumenep. Dia mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, tahun 1982.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *