Puisi-Puisi Dody Kristianto di Kompas, 12 Agustus 2012

oleh -27 views


Di Depan Petarung Tanggung

Tahan.
Redam ancangan dan jurusmu menjelang sabetan pertama itu tiba. Jangan
lupa menyimpan satu pitingan secepat kerjap yang membuat para jawara

terbangun dari tidurnya.  Kuda-kudamu
tentu matang sungguh. Kau yang telah menjalani pertarungan tanpa jeda
dengan pesilat berjurus munyuk dan pendekar bertoya buluk.

Telah kau jalani

Hingga kau mengerti benar arti menerima pukulan atau bagaimana menjamu tendangan yang bertandang telak di tepi wajahmu.  Kau yang belajar

tentang sakitnya kalah. Tentu bukan ancaman,  sekumpulan cecunguk dungu yang mengumbar kelewang dan sesumbar menyeru namamu.   

(2012)

Mengamati Tiga Jurus

kau yang belia, pendaras kitab yang setia

tidak sia-sia jika jawara tua itu

menghardik namamu dengan lantang

sembari menunjukkan tiga ancangan

menghajar

agar kau yang muda senantiasa berjaga

dan menerka mana jurus yang kelak

dapat kau ikat dalam raga

dia guru dan seteru yang sempurna

persiapkan dirimu

sebab kau akan tahu

bagaimana cakaran elang

kehilangan koyakannya

atau ketenangan siasat ular

tak berdaya di depan kekangannya

berjagalah, buat tatapanmu siaga

dan menerka kuda-kuda apa

yang  ia tunjukkan

mungkin ancangan ekor naga

gerak gelebat gesit liat

yang tak mudah dibebat

meski tombak terpanjang

mengancam di hadapan

ia sungguh tak dapat diredam

dan diredakan

gerak yang sungguh tangguh

yang dipungkasi dengan sekian

rangkai tinju

bisa juga, ia membimbingmu

dengan kekukuhan tapak beruang

geraknya yang lambat, yang amat

mengingat langkah dengan cermat

percayalah, segala pukulan tak berdaya 

di depan tubuh mahakuat,

dengan urat-uratnya yang tegap

yang sanggup melumpuhkan 

tindakan segerombolan penyerang

tak akan lengkap jika tak kau tangkap

satu jurus pamungkas : tingkah lihai kera

yang tangkas dan sukar ditebak

kau tak akan tahu dengan cara apa

tiba-tiba dia mengelak

kemudian tanpa duga melakukan hentak

kau tak akan mengira, sebab inilah siasat

yang mahir menyimpan segala gamparan,

tendangan, atau pitingan

kala cecunguk yang sesumbar 

mencoba menyerang, menusukmu

dengan sebilah kelewang

(2012)

Kunyuk Melempar Buah

yang tentu matang

bersama kuda-kuda

adalah segala tenaga

yang berlintasan

di sekitar

yang tak diurai mata

yang telah dipecah

dan siap dihempaskan

di depan jemawa

yang menantang

kau yang mengenal

segala ikhwal pencak

dari kembara gila itu

juga satu siasatnya

yang dapat melumpuhkan

para penyerbu dari langkah

sekian jauh

tentu ia tuntunkan padamu

putaran untuk menjinakkan

angin

ia ajarkan perihal memuntir

gerak tiba-tiba itu

lantas amati bagaimana

sepasang kaki melangkah

lincah

memijak dan mengentak

tanah

agar yang di bawah

mengirim dayanya

daya yang memberi

sebuah kekukuhan

pada lesatan pukulan

yang akan diarahkan

ke semua arah

(2012)



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *