Puisi-Puisi Dody Kristianto, Majalah Horison Maret 2012

oleh -69 views


 

Padri
 

kamilah
yang gemar membaca doa-doa di larut petang sebab kami percaya, sebagian
dari kami tersimpan dan menyimpan diri di lubuk kata. sewaktu-waktu,
malam akan memanggil kami, mungkin sebagian dari kami, untuk menjadi
lentera di celah sunyi ini, di hati dalam yang tak pernah kami raih


kami
senantiasa menghapal kata-katanya, meraba makna satudua kalimat yang
biasa kami baca. sebab kami tahu kata, kalimat itu perlahan menjauhkan
kami dari sepi, dari hantu yang terlampau sering jadi bayang-bayang
kami, dari ingatan yang bersembunyi di kiri kanan kami. sebab menjelang
pagi, kata-kata yang kami anggap sebagai doa itu kami dengar pelan-pelan
menghilang. kata-kata itu berubah rahasia paling diam


2011

Penunggu Lilin

 

Yang
berdiam di depan kami. Terima kasih. Sudah kau temani saat-saat
terakhir kami. Saat-saat ketika kuncup sudah kedip mataapi kami dan
telah tampak segala terang di depan kami. Terang yang membuka pintu
surga di hadapan kami.

Kau
iringi hidup sementara kami dengan syair-syair suci. Syair yang kau
panjatkan pada leluhurmu. Pada arwah-arwah yang sesungguhnya tak pernah
berkunjung padamu. Tapi kau selalu menunggu mereka sewaktu-waktu.
Mungkin sewaktu-waktu mereka kembali ke bumi tapi bukan karena rindu
namamu.

Terima kasih.

Kini terimalah cinta terakhir kami : wujud luluh kami yang tak lagi tinggi hati

2011



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *