Puisi-Puisi Mustiar AR –

oleh -22 views


BULAN HAMIL III

Tanpa spiral
Ah bulan ku hamil

Ie ketuban berserak

Di trotoar

Meulaboh, 2020

TIADA

Angin beliung memutih buih
Menari di atas pusarnya

Ya Rabb,
Beri hamba pengayuhmu

September 2020

MEMERCIK DARAH KE WAJAH IBU

Memercik darah ke wajah ibu Pertiwi
Mengolam di matanya

Anakku sayang
sudahi perseteruan ini

Aceh,1996

HATI YANG IKHLAS
isnu kembara

Berbaringlah wahai insan nan tulus
Kami tahu rasa ikhlasmu terkhianati
Di tikungan jalan itu

Kami yang di sini. Mesti belajar lagi
Hidup bukan Senda gurau

Katamu suatu hari
: Tersenyumlah

Lr.punti, 17.04.2020

SAHABAT I

Hari ini di antara lipatan lidahmu
Ada ular mematuk hati

_benar kata emak
Pandai nak meniti buih

Meulaboh, Agustus 2020

IBU

Bulan mandi telanjang
Di selokan. Bu

Maafkan dia

Meulaboh, 03.11.2019

ROTI TERBANG

Seorang bocah kecil sedang memegang perutnya erat. Dan
Mematung iba
Di meja makan seorang pejabat bertitah
: “singkirkan dia dari mejaku” Sang anjing menyalak’

Sepotong roti melayang
_ tersungkur ke tanah

29.01.2014

IJINKAN

Aku berpuisi. Di sini
Bunga-bunga mekarlah
Di taman

Ah jiwa pun mewangi

Meulaboh, Juli 2020

MEURIWANG

Rindu yang tersematkan. Itu
Berbuah lara. Mak
Loen neuk woe

Ke rahimmu
Dunia adalah gelanggang perseteruan

Meulaboh,11.07.2020

SEULANGA

Angin mirah di awal September
Pulang dalam kebasahan
Senja ini adalah laranya
Tiada teruraikan

Angin mirah ini
Catatan kecil perjalanan hidup
Bunga itu seulanga berduri

Meulaboh,2020

BULAN MENANGIS DARAH

Dia yang mengepak diri
Bangkai tersemat di ujung bibirnya

Bulan menangis darah

Dik, segeralah bersujud kepadanya
Tuhan’ maha pengasih lagi maha penyayang

Meulaboh, Agustus 2020


Mustiar AR, penyair kelahiran Meulaboh 15 April 1967, menamatkan sekolah Aliyah Negeri 1 Meulaboh. Karya pertamanya termuat di media SKM Taruna Baru, Medan, berjudul Kutambat Kapal Di Dermagamu (1987), lantas berturun-turun puisinya dimuat di Buletin, baik di daerah pun di tingkat nasional dan internasional. Karyanya diterbitkan bersama dalam Antologi Puisi Seulawah, Sekilas Pintas, Nuansa Dari Pantai Barat Aceh, Putro Pahang, Ziarah Ombak, Eklopedi Aceh, Adat Hikayat dan Sastra Aceh 2008. Antologi Puisi Hitam Putih ialah karya puisi tunggalnya yang masih stensilan yang dikuratori Haji Teuku Ahmad Dadek (1982), tapi buku tersebut hilang dalam pusaran Tsunami yang melanda Aceh dan Nias tahun 2004. Selain menulis puisi, juga berkutat di teater kolosal tahun 1995 pada event “Adat Perkawinan Aceh Barat dan Tewasnya Teuku Umar”. E-mail: onenmbo@gmail.com



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *