Puisi-Puisi Rozi Kembara –

oleh -51 views


Kompas, 23/08/2009

AMSAL UNGGUN
: n.a

aku belum juga paham bahasa yang menyusun dirinya
dalam hangat tubuhmu. jarak terlalu tajam dan menyayat

kukira kau jelmaan unggun pada sebuah ritus suci
mengucurkan hangat lain di paruparu malam

dan mereka yang duduk melingkar di sekelilingmu
seperti juga rindu, mengendap pada dasar cawan nadiku

setelah unggun tinggal jelaga dan asap membumbungkan kenangan
aku masih mengais sisa hangatmu dari dinding tipis angin

Tanah Serang, 2009

RUPANYA

rupanya kilap lesung pipimu, parasmu yang bundar namun likat,
dan gerik tubuhmu saat berjalan tak juga hengkang dari tubir
ingatanku. menjuntai serupa akar beringin tua.

rupanya ingatanku yang berwarna darah, secangkir kisah
yang tersaji di meja kenangan, dan denyut nadi yang entah kapan
berkelindan di gubug nyawamu tak juga lelah memintal sebaris nama
-hawa

Tanah Serang, 2009

HALTE

sengaja kita menghidangkan penantian
memberi nama setiap dengus napas
dengan ketergesaan yang tak lagi
berparas temaram

dan orangorang berdiri
sambil mengepulkan cerita
serta gemuruh jantung
dari patahan peristiwa

Tanah Serang, 2009

CATATAN AKHIR
:nin, setelah aku lelah mengenangmu

kita menamai setiap kepergian
dengan gemetar yang selalu terulang

di sini airmata menulis separuh cerita
yang akan dirampungkan saat waktu
mengenakan kabut

waktu yang masih menghidangkan jarak
di lorong almanak pada detak pelan
nadi kita

mimpimimpi tawar yang melaju di kedua belah mata
minta diberi rasa.namun kita kehabisan rasa
kita hanya punya wajah yang tinggal setengah

Tanah Serang, 2009

PELUK

kamar lengang tanpa suara adalah pelukanmu pada suatu gerimis
yang mengeja luka.

aku mencacah setiap ingatan yang berulangkali
menghanyutkanku dalam kesedihan badai.kesedihan yang juga
seperti daunan kering, serakan di suatu taman dan seseorang datang,
menghimpunnya kemudian menjahitkan api.

doadoa melintas antara gemeretak pelan dedaun terbakar, juga mimpi.
tak sempat dibacakan nasib pada sebuah pertunjukan
dengan judul seramai tirai hujan

dan pelukanmu sekarang menjelma krematorium. Mengabukan
jengkal demi jengkal jasadku

Tanah Tangerang, 2009

MALAM LEMBANG DIBALUT HUJAN

dingin yang pecah dari pembuluh malam
belum mampu membekukan
remah perbincangan kita

langit menjulurkan hujan
menciptakan ceruk kecil kenangan
dan menambah perih setiap tikung ingatan

yang sejak dahulu perlahan kuhanguskan
dalam tiap kobaran doa.namun berkalikali
kuhanguskan

berkalikali juga ia lahir kembali sebagai
ingatan baru.

(di kantung riwayat sangkuriang melata
pada labirin doa.sedang sumbi kembali menjadi
rusuk yang melekat di iga waktu)

Tanah Bandung, 2009

MUNGKIN MALAM INI

mungkin malam ini aku perlu membenahi kenangan
yang tak sempat kau bawa pergi seluruhnya.yang tersisa
setelah tahun menghampar seperti sebuah permadani
dalam ruang tamu tempat setiap pertemuan dan perpisahan
dirayakan.

kenangan itu sepertinya perlu didekorasi ulang, sehingga
tak menyulam kecemasan dalam kamar di selongsong
kepalaku.sehingga aku dapat lebih sempurna menirukan
gerakan debu kala tertiup angin

Tanah Tangerang, 2009

Rozi Kembara, menulis puisi dan prosa. Lahir di Tasikmalaya 27 Juni 1990, semasa kecil nyantri di bumi Reyog Ponorogo, kuliah di Yogyakarta, dan sekarang tinggal di Malang. Sajak-sajaknya dipublikasikan pada Majalah Horison, Kompas, Suara Merdeka, Radar Banten dan termaktub dalam antologi puisi Wajah Deportan. Pernah bergiat dalam Komunitas Kubah Budaya.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *