Puisi-puisi Vinca Diah Kathartika Pasaribu

oleh -38 views


GEMINGMU ITU
Begitu rindu
kukecup belantara di dahimu
Demikian rindu hingga rontok relung-relung cintaku
Gemingmu itu sayat belati, mata bambu yang memahat luka terabadi
Begitu rindu
kupagut desis syahdu bibirmu, dan kumangsa
musim semi yang mengitari hasratmu
Demikian rindu hingga beku bait sajakku dalam sekelebat gigil maut
Mengorek sumsum
Oh, gemingmu itu…
abjad pasi yang melayang-layang di lembar gersang ragawi.
Aku
setangkai sunyi yang mengamini mekar janji
Di muara kelam malam
Debu gemintang berjajar pada lusuh kerinduan
Rindu nyanyi diri
Rindu terang hati
Rindu yang membuncah laksana mata samudera
Aku
setangkai perih yang tiap malam turut berbaris
Memikul tandu-tandu luka, menghantarnya ke larut doa
Satu per satu anyir yang menganga disemayamkan dalam keranda raga
Di telapak tanganku, dupa kutuk menyala
Getir aroma kepasrahan
Pasrah terbakar diri
Pasrah tertawan hati.
Jemari mati
sang jelata, terhuyung menari
Merayap, mengorek jantung katedral
Ia petik sembilu dari jeritan lilin altar
yang bersemayam usang
Betapa nyanyian kalvari menjelma nada sukma,
dan kidung golgota yang meronta
semayamkan getir sabda
Bersemi,
bersemilah… serunai luka jelata
Seperti mekar karangan bunga natal
Seperti merah-rekah sebaris gerhana
Dan lihat…
di ruang antah katedral, sang jelata lamur
dalam rengkuhan luka.
Gemulai
harpa lenggangkan temaram nada
Merah oktaf cinta menyongsong bulan di hulu senja
Sendu paras wanita. Rikuh jemarinya merengkuh dawai
Cemas menanti kepulangan semi
Buah dan bebungaan tak kunjung ranum di keranjangnya
Gemulai
harpa sunggingkan gempita luka
Getir paras wanita. Retak bibirnya mengecup dawai
Telah lama gemeretak kakinya berbaris di antara kaum sengsara
menjadi bulan-bulanan usang peristiwa
Oh, gemulai harpa,
mengapa di malam sepurna ini gontai angin masih merenggut cahaya?
Ada sebuah
bintang menyendiri di suatu kisah petang
Menghitung bilangan sunyi
Mengalikannya dengan bilangan alpa diri
Lagi ia lukis seutas senyum naif pada memar hatinya
Menikahi sandiwara
Dengan peluh dan airmata ia basuh khianat semesta
Lambat laun
sang bintang menjelma sesosok debu angkasa
Tiada yang sudi merasai separuh tirakatnya
Sungguh, pintu-pintu malam telah terkunci
bagi sebuah jawaban yang ingin didapat gontai diri.
Vinca Dia
Kathartika Pasaribu
, lahir di Jember, 17 Februari 1996. 

NB: Sebenarnya Vinca salah satu penyair berbakat. Saya pertama kali membaca karya-karyanya tahun 2010. Saat itu karya-karya Vinca sering muncul di Kakilangit Horison, pernah juga saya baca di Majalah Story. Sempat beberapa kali kontak dengan anak ini. Tapi, sekarang jejaknya sudah tidak ada. Saya sempat menyinggung bahwa untuk anak seusianya, saat itu, puisi-puisi Vinca jauh lebih liar dari puisi-puisi awal Indra Tjahyadi.  



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *