Puitika Tubuh dan Kuburan –

oleh -320 views



Djoko Saryono *

Penyair Binhad Nurrohmat terbilang kreatif dan produktif mencipta dan memublikasikan puisi. Dalam beberapa tahun belakangan dia sudah meluncurkan 6 buku puisi. Pada tahun kedua pandemi dia memublikasikan antologi Tahta Sungkawa, setelah sebelumnya antologi Kuil Nietsche dan Dari Selatan Pyongyang (pada tahun pertama pandemi). Sebelumnya lagi, pada tahun 2019, dia mempersembahkan dua antologi berjudul Kuburan Imperium dan Nisan Annemarie. Sebelum itu dia juga menerbitkan Kwatrin Ringin Contong. Antologi Bau Betina dan Kuda Ranjang sudah terbit pada paruh pertama dekade pertama Abad XXI. Jadi, dalam rentang 20 tahun Binhad menelurkan tujuh antologi puisi.

Seperti terlihat dalam tujuh antologi puisinya, Binhad fokus secara konsisten (dan kafah he he he kata apa ini?) pada pokok persoalan dan tema besar tubuh dan kuburan. Tampaknya kepenyairan Binhad diabdikan dan difokuskan untuk mengeksplorasi dan mengelaborasi tubuh dan kuburan dalam berbagai dimensi, fase, ruang, dan kondisi serta ekosistem hidup. Binhad sedang mengerjakan proyek tubuh dan kuburan dengan puisi-puisinya. Tak ayal, Binhad layaknya pengagum eh pencandra tubuh sekaligus juru kunci kuburan manusia (soalnya dia belum mencipta dan menerbitkan kuburan kucing atau anjing hee). Puisi-puisi Binhad pun seolah-olah dihajatkan untuk menawarkan puitika ketubuhan sebelum dan sesudah di kuburan.

Dalam antologi Bau Betina dan Kuda Ranjang yang terbit saat muda, Binhad menggerayangi eh mengelaborasi tubuh yang muda, mekar, dan menggairahkan. Dia melihat tubuh yang kuat dan merangsang sehingga memilih diksi betina dan kuda ranjang dalam judul antologi. Dua antologi tersebut merupakan evokasi birahi tubuh manusia yang masih jauh dari kematian, sebaliknya masih lekat dengan hasrat ketubuhan dan pacuan ranjang. Dengan diksi-diksi kuat dan metafor-metafor hewani Binhad mengendus segenap polah tubuh yang betina dan berkategori kuda.

Pergeseran obsesi dan orientasi terjadi saat dia meluncurkan antologi Kuburan Imperium dan Nisan Annemarie. Dalam dua antologi ini kita tak menjumpai lagi tubuh yang betina atau jantan dengan kekuatan kuda dan permainan ranjang. Ruang tubuh tak lagi di ranjang. Di sini kita malah bersua tubuh-tubuh yang sudah ditinggal nyawa atau jiwa. Tubuh-tubuh itu berada di ruang bernama kuburan bertanda nisan atau tidak. Bak juru kunci makam, dalam tiap puisi (di antologi ini) Binhad mengajak pembaca melancong ke rupa-rupa kuburan sesuai dengan tradisi dan adat kelompok manusia memperlakukan dan menyikapi tubuh yang sudah terbaring di kuburan. Puisi-puisinya dalam dua antologi tersebut bagaikan gebyar karnaval pelbagai macam kuburan yang dihuni tubuh yang berpisah nyawa.

Obsesi dan orientasi kepenyairan Binhad tiba-tiba terasa menikung tajam (bak pebalap Vallentino Rossi) ketika menerbitkan antologi Dari Selatan Pyongyang. Meskipun puisi-puisi dalam antologi ini sudah lama dicipta, namun momentum publikasinya bagaikan interlude sebuah pawai tubuh di kuburan. Semacam jeda dari “kenduri” tubuh di kuburan. Tapi Binhad tak berpaling dari tubuh di kuburan. Selang tak lama, beredarlah Kuil Neitsche yang bagaikan tikungan balik, menyudahi interlude puitika Binhad. Dalam Kuil Neitsche kembali Binhad merayakan tubuh dan kuburan dengan diksi dan imajinasi berbeda dengan antologi yang lalu. Di sini Binhad terus melancong jauh untuk mengelaborasi kemungkinan puitik tubuh dan kuburan di berbagai ruang lain.

Saat pandemi masuk tahun kedua Binhad menggeber antologi Tahta Sungkawa. Dalam antologi ini Binhad seperti mengungkapkan testimoni tubuh-tubuh dan kuburan manusia di tengah kepungan pandemi. Di sini Binhad tak bicara tubuh mati di kuburan, tapi juga tubuh hidup di dunia pandemik. Bagaimana tubuh berjiwa dihempas pandemi, bagaimana tubuh terpisah nyawa disebabkan pandemi, dan bagaimana tubuh mati di kuburan karena dikeramus oleh pandemi dieloborasi oleh Binhad dalam Tahta Sungkawa. Diksi, gaya, metafor, dan imajinasi puisi di antologi tampak lebih gemetar dan gentar, tak liar seperti dalam Bau Betina dan Kuda Ranjang. Wajar saja, pasalnya Binhad mengelaborasi hayat manusia yang begitu tak berharga, ajal yang tampak tak semena-mena pada hidup manusia, nyawa yang tercerabut dari tubuh yang belum saatnya, dan arwah yang masih harus terlibat sebagai saksi urusan pandemi di dunia. Di sini filsafat sempoyongan, pengetahuan kebingungan, dan ilmu tampak tumpul, hanya spiritualitas dan supranaturalitas bisa membantu memberi sedikit jawaban. Tak ayal, Tahta Sungkawa bak requim kesedihan dan kegalauan tubuh hidup dan tubuh mati di bekapan pandemi. Binhad melukiskan secara puitik pandemi bak telah menjelma padang kurusetra dalam Baratayudha, tapi bukan meminjam tokoh wayang dan tempat-ruangnya, melainkan dengan mengusung pelbagai ruang dan tempat di dunia.

Hop! Stop! Capek, sampai di sini saja. Jemari sudah ingin menjepit cangkir kopi. Buat apa komen panjang-panjang puisi Binhad. Jelaslah tak so sweet. Lebih so sweet kalau bercanda tandas dengan Binhad. Bukankah dengan puisi-puisinya Binhad sedang mencandai tubuh dan kuburan? Dia memfanakan tubuh dan kuburan sebelum kemudian menyakralkannya dengan menautkannya pada kekuatan spiritual? Pokoknya, dengan proyeknya puitika tubuh dan kuburan, Binhad sedang mengajak kita menikmati karnaval tubuh yang libidinal, tubuh yang sosial-sekular, tubuh yang kosmis sampai tubuh yang spiritual. Binhad menjadi ahli geledah tubuh dan kuburan manusia. Pada Binhad tubuh dan kuburan bagaikan membikin pengakuan, yang diwadahi dalam puitika oleh Binhad. Lanjut…gas terus…proyek puitika tubuh dan kuburan ini Gus Binhad.
***

*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.