Rahasia Kumari –

oleh -103 views


Agus Dermawan T
Suara Pembaruan, 04 Nov 2007

Tanggal 7 bulan 7 tahun 2007 jam 7 pagi terlanjur dimitoskan orang sebagai waktu yang istimewa. Oleh karena itu studio Radio Swarakita pada jam, tanggal dan bulan itu banyak menerima tawaran siaran langsung dari berbagai pihak. Seorang pendeta jauh hari telah meminta radio untuk membuka pintu untuknya, agar pada saat itu ia bisa siaran khotbahnya. Seorang pengusaha muda dan sebuah grup band yang siap moncer juga menyorongkan jadwal yang sama. Seorang politisi anggota DPR ingin berbicara tentang “Indonesia yang lebih baik” pada jam 7 pula. Begitu juga seorang kyai yang biasanya menyiarkan dakwah magrib di radio itu.

Radio Swarakita tentu tak mungkin melayani wawancara mereka satu per satu. Bukankah jam 7 hari magis itu hanyalah berlangsung sekali saja? Untuk tidak mengecewakan semuanya, radio lalu mengambil keputusan untuk menghadirkan mereka secara simultan. Berkumpul di studio pada jam yang sama, dan ramai-ramai diwawancara.

Kumari, pembantu studio radio Swarakita mendadak luar biasa sibuk mempersiapkan segala sesuatu. Pada pagi buta ia telah diminta untuk menyediakan kebutuhan konsumsi para tamu radio itu. Ia bertanya-tanya kepada diri sendiri, mengapa kali ini semuanya minta jadwal siaran pagi sekali. Ia akhirnya tahu jawaban atas hal itu dari sopir studio yang sejak subuh hari menemaninya.

“Nanti jam tujuh ‘kan bersanding dengan tanggal tujuh bulan tujuh tahun duaributujuh. Sama dengan Sabtu Kliwon Jumadi Akir satu sembilan ampat puluh. Atau tanggal duapuluhdua Jum Tsaniyah satu ampat dua lapan kata kalender Arab. Alias tanggal 23 Xiao Shu tahun Babi. Hehehe. Pada saat itu segala sesuatu yang dilakukan akan menghasilkan kebaikan tujuh turunan. Karena tujuh tambah tujuh tambah tujuh tambah tujuh kalau dimistik ‘kan dualapan. Kamu tahu ‘kan kalau dualapan itu kode surga di langit ketujuh,” kata si sopir.

Atas jawaban yang terdengar meyakinkan itu Kumari, atau Kummy nama suratnya, atau Kum panggilannya, percaya tujuh kali.

Kum pembantu kantor yang cantik. Belia seranum mangga arumanis muda. Kulitnya coklat gula Jawa. Hidungnya indah dan matanya jinak selayak mripat Banowati dalam jagad wayang purwa. Tubuhnya ideal untuk ukuran perempuan yang keluar dari dusun Alastengah. Tingkah lakunya bermartabat bagai bumiputeri penerima turis mancanagari. Banyak yang berkeyakinan, apabila Basoeki Abdullah masih hidup, pelukis besar itu akan gembira memungut Kum sebagai modelnya. Hiperbolis, kata teman yang tidak pernah melihatnya. Tapi itulah kenyataan.

“Kamu itu peri hutan yang nyasar ke metropolitan,” kata beberapa personel grup band diwawancara radio itu. “Kum, kamu agamanya apa?” tanya sang pendeta dengan pretensius pada suatu hari yang sejuk lantaran hujan. “Negara berkewajiban membawa dirimu sampai ke perguruan tinggi. Kamu jangan jadi pembantu lagi,” kata anggota DPR. “Di kantor saya butuh orang kayak kamu, Kum,” bisik si pengusaha muda keturunan Tionghoa. “Kamu lebih cocok jadi pengasuh anak-anak saya yang masih kecil-kecil di rumah,” kata sang kyai.

Namun semua pertanyaan dan pernyataan di atas tidak ada yang lebih menarik daripada kalimat sopir yang jadi karibnya itu. “Tujuh tambah tujuh tambah tujuh tambah tujuh dimistik….” Maka, ketika matahari belum persis menggantung di tengah langit, Kum menghadap majikannya.

“Ibu, saya izin untuk pulang ke kampung. Nanti malam,” kata Kum dengan sopan. Tentu saja Bu Majikan terkejut.

“Lho, kenapa pulang?”.

“Anu, Bu, saya hamil. Saya perlu istirahat di kampung”

“Hamil? Lho, lho, lho. Hamil berapa bulan?” tanya Bu Majikan sambil menatap perut Kum yang memang nampak sedikit menggembung.

“Lima bulanlah, Bu.”

“Lima bulan?”

“Ya. Kata orang pada bulan kelima roh bayi sudah ditiup masuk…”

“Suamimu sudah tahu kalau kamu hamil?”

“Berarti dua bulan lagi saya mitoni, Bu.”

“Yang Ibu tanya, apakah suamimu sudah tahu berita gembira ini?”

“Kalau tidak istirahat di kampung, bahaya untuk janin…”

“Kum, jangan nyelimur. Apakah suamimu sudah tahu?”

“Anu. Tentu saja dia tahu, Bu. Karena itu saya disuruh pulang.”

“Tapi kenapa harus buru-buru?”

“Ini tanggal tujuh bulan tujuh, Bu. Kata orang, ini tanggal yang baik untuk pulang.”

Sang majikan agak tersentak mendengarnya. Wajahnya mulai menyimpan kejengkelan.
***

Siang itu di kantor radio Swarakita terjadi ketegangan. Karena sepengetahuan Bu Majikan, suami Kum yang ada di dusun Alastengah hampir setahun tidak pernah mengunjunginya. Sementara Kum bunting 5 bulan. Aha, siapakah yang bertandang ke bilik Kum? Bu Majikan itu pun berusaha mengajaknya bicara dari ke hati. Ia ingin agar Kum mengaku, siapa yang bercocoktanam di pelatarannya.

“Kum, selama bekerja di sini kamu aku anggap sebagai anak sendiri. Karena itu, kamu ngaku saja, siapa yang menghamili kamu?” tanya Bu Majikan dalam pertemuan empat mata di sebuah ruang tertutup.

Selama belasan detik Kum terdiam, untuk kemudian menjawab.

“Suami saya, Bu”.

Bu Majikan mengerutkan keningnya.

“Begini Kum. Coba hitung, kapan kamu terakhir ketemu suamimu. Dan sekarang kamu sedang hamil berapa bulan? Tidak masuk akal, Kum.”

Kum terdiam cukup lama. Keringat dingin tumbuh di keningnya.

“Lho, kan bisa saja, Bu. Sungguh, saya cuma dengan suami saya.”

“Kum, Ibu tidak mau kamu berbohong. Kalau kamu pulang ke kampung dan diketahui kamu hamil lima bulan, suamimu pasti marah. Orangtuamu bingung. Orang kampung pasti ngamuk. Mereka akan datang ke Ibu minta pertanggungjawaban. Kum, kamu ngaku saja sekarang. Nanti akan Ibu selesaikan masalahnya.”

Kum kembali diam seribu bahasa.

“Begini saja Kum. Ibu beri kamu waktu satu jam untuk berpikir, dan kemudian mengaku. Satu jam lagi kamu datang ke Ibu, dan mengaku,” kata Bu Majikan dengan suara sangat sabar.
***

Di kamarnya Bu Majikan termangu-mangu. Matanya jauh menatap ke luar jendela seraya benaknya menduga-duga. Di sudut ruang kantor radio Kum duduk ngungun. Pikirannya terbang jauh melantun.

– Aku curiga besar kepada si sopir kribo itu. Pastilah ini cerita klasik hubungan sopir dengan pembantu. Kum, tidakkah kamu tahu bahwa si sopir itu sudah beristri? Apa kamu setuju poligami? Yang bener aja Kum! Padahal kamu pernah mengucap saloka dalam bahasa Jawa, ojo nrajang grumbul ono macane. Jangan menerobos semak-semak yang ada harimaunya. Itu artinya kamu tidak akan mengambil lelaki milik perempuan lain!

– Wah, wah. Pikiran Ibu mulai ke mana-mana, nih!

– Aku pikir Kum orangnya jujur. Ia tak akan memfitnah siapa pun untuk mencari korban agar dirinya aman. Dengan Bram, menantuku yang selama ini selalu berbaik hati kepadanya? Busyet! Berbaik kepada semua orang dengan beragam tingkatan sosialnya, aku jugalah yang mengajarkannya. Sebagai direktur radio menantuku tak akan mengorbankan reputasinya.

– Eit, Ibu kok ngelantur? Bu, cowok-cowok pemain band itu ganteng-ganteng lho. Mereka energik dan tidak main narkoba. Ia menyenangkan sekali, Bu! Tak bedanya dengan pengusaha muda yang selalu berdasi itu…..

– O ya, suamiku menegaskan bahwa sebagai pembantu cantik Kum adalah makhluk lemah yang berada di bawah kekuasaan banyak orang. Yang lemah adalah bibit dari banyak perkara, lantaran ia gampang menumbuhkan kesombongan lelaki yang adigang, adigung dan adiguna.

– Nyuwun pangapunten, Bu. Maaf. Bukankah adigang itu artinya lebih kuat, adigung itu lebih luhur, adiguna itu lebih pintar? Kum suka semua itu!

– Kamu mulai mengacaukan pikiranku, Kum. Lalu bagaimana Sutardji. Ya, wartawan radio Swarakita yang pernah dipukuli oleh puluhan orang ketika meliput kebakaran Pasar Kebalen yang konon dibakar itu. Aku ingat kamu marah besar kepada polisi yang menuduh Sutardji sebagai provokator. Masak melapor kejadian dengan telepon genggam dianggap provokator? Kala itu kamu menangis tersedu-sedu ‘kan? Tangisan yang seperti itu tentulah menandakan kamu ada hubungan. Alaaah Kum, ngaku sajalah.

– Wah, Ibu masih juga berpikir berliku-liku. Tapi apa pun yang terjadi, Kum akan selalu teringat kepada Ibu. Saya sebagai manusia yang perlu sepotong hidup, sungguh membutuhkan Ibu. Seperti Ibu sebagai anggota masyarakat terhormat yang memerlukan kehidupan. Dalam mewujudkan kehidupan, Ibu pastilah memerlukan orang-orang seperti Kum. Bu, saya bisa berkata begini karena sering mendengarkan radio kita, yang suka menyiarkan cerita kebajikan hidup manusia.

Bu, setelah pulang kali ini, kemungkinan besar Kum tidak kembali ke kota, dan tidak bekerja lagi di Radio Swarakita. Tapi, Bu, nanti beberapa tahun kemudian setelah tinggal di desa, saya akan tulis surat kepada Ibu.

“Halo Ibu yang baik, ini cerita tentang putra Kum, Supitu namanya. Lucu lho, Bu. Rambutnya kribo seperti sopir yang baik hati itu. Wajahnya ganteng seperti Mas Bram. Matanya sipit seperti Om Pengusaha. Suka baca buku seperti suami Ibu. Senang mengajari seperti Pak Pendeta. Ia mulai fasih mengaji seperti Pak Kyai, Bu. Suaranya bagus kayak tenoris. Jago ngomong seperti anggota DPR. Kalau lihat orang main gitar ia selalu ingin ikutan. Supitu juga pemberani seperti wartawan Sutardji. Kata orang semua keberuntungan ini karena mistikan angka tujuh. Saya tetap beruntung Bu, walau saya hidup di desa yang dari hari ke hari semakin melarat saja. Padahal katanya Indonesia sudah 65 tahun merdeka”. Tandatangan : Kummy.

Bu Majikan tergeragap membaca surat itu. Kepalanya langsung puyeng tujuh keliling. Kum! Kamu itu langit listrik kena getah setan tiada. Lha, ## @@@ % &#& @***banjir baju arsitek Herigendut bikin apa. Makan es Haripoter radio kita! Aiih, kamu bikin aku puyeng saja, Kum! Paramex ada?
***

“Ibu, saya mohon pulang kampung malam ini. Saya akan ambil bus ke jurusan Solo. Dari Solo ke Sragen. Dari Sragen di Sukodono, dan langsung ke Alastengah. Suami saya sudah menunggu. Boleh ya, Bu” kata Kum mengharap.

Bu Majikan yang sedang pusing tak bisa berbuat apa-apa. Dengan setengah marah ia terpaksa mengizinkannya. Di terminal bus Kum buru-buru masuk ke toilet. Di dalam toilet ia membuka stagen yang meliliti bagian badannya, yang menyebabkan perutnya sedikit menggembung dan nampak seperti hamil lima bulan. Lalu, bagai kijang kencana Kum yang langsing itu melompat ke atas bus “Hidup Bahagia”. Pada jam 7 malam lebih 7 menit dan 7 detik bus bertolak dari Jakarta untuk membawa Kumari ke desa.
***

Jakarta, Juli 2007.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.