Reading Group Ulysses dan Jemuran Poesie –

oleh -26 views


“The more we read the more we have a memory.” (Fritz Senn)


Sigit Susanto *

Reading Group adalah sebuah format membaca superlelet pada novel Ulysses karya James Joyce pada Yayasan James Joyce di Zürich, Switzerland. Pada 28 Maret 2006 aku mengikuti pertama kali membaca bersama alias Reading Group novel mahasulit Ulysses. Tak kusangka, novel setebal 644 halaman itu baru khatam selama tiga tahun, tepatnya pada 3 Maret 2009. Kok bisa? Bisa saja, karena setiap Selasa selama 1,5 jam (17.30-19.00) orang hanya membaca 2 sampai 3 halaman.

Seperti apa format Reading Group itu? Sebuah kegiatan membaca novel yang dipandu oleh seorang Joycean (ahli karya James Joyce) bernama Fritz Senn. Reading Group itu berada di sebuah ruangan di gedung Yayasan James Joyce. Formasi peserta duduk melingkar dan masing-masing memegang novel Ulysses dalam bahasa Inggris yang dibawa dari rumah.

Kenapa Ulysses? Novel ini yang dianggap oleh banyak orang sebagai novel sulit. Selain Ulysses dinobatkan sebagai karya terbaik prosa modern abad 20, novel ini juga menginspirasikan banyak pengarang baru.

Fritz Senn memandu, pertama kali dengan memutar CD yang bercerita pada beberapa paragraf, kemudian kata demi kata dibaca dan langsung dicari interpretasinya, termasuk teks historinya. Jika kata atau frasa itu berasal dari Shakespeare, Dante, Lessing, Nietzsche, Alkitab, bahasa Latin, Prancis, Sansekerta, atau Yunani? Maka Fritz Senn dengan sabar akan mengambil buku anotasi untuk menjelaskan pada hadirin lebih rinci. Ingat, ini salah satu novel yang cara membacanya harus ditemani buku anotasi yang berisi penjabaran.

Bahkan ketika satu kata menyebut jenis merek sabun, maka sang guru atau aku sering menyebutnya sang Kiai akan mengeluarkan sabun sungguhan yang dulu sedang populer di Dublin, Irlandia. Atau Pak Kiai Senn ini tidak segan-segan mengeluarkan alat dari besi yang dulu dipakai body building, khusus gerakan tangan, agar otot kuat. Ya, karena diksi alat olah raga dari besi itu muncul di teks Ulysses. Begitulah cara untuk menjelaskan makna sastra perlu peragaan visual, agar lebih gamblang.

Beberapa paragraf sudah selesai, maka ia memutar CD lanjutan cerita, hingga pukul 19.00 baru diakhiri. Siapa yang hadir? Kebanyakan mereka adalah orang tua penyuka karya master piece Joyce itu. Sayangnya hanya sedikit anak muda yang menyukai teks rumit ini.

Tak terasa aku sudah membaca ulang sampai ke 5 kali ini. Pertama selama 3 tahun (28 Maret 2006 – 3 Maret 2009), kedua selama 2,5 tahun (24 Maret 2009 – 11 Februari 2011), ketiga selama 2,5 tahun (8 November 2011 – 22 April 2014), keempat selama 2 tahun (April 2014 – Desember 2016), dan ke lima (17 Januari 2017 – Desember 2019).

Pak Kiai Senn pernah bilang, “The more we read, the more we have a memory.” Jika orang makin sering membaca, maka ingatan orang itu akan lebih kuat. Ia juga mengingatkan kepada semua hadirin, bahwa membaca bersama Ulysses ini bisa kecanduan, tetapi kecanduan intelektual.

Lalu apa yang aku cari dan peroleh dari bacaan Ulysses selama kurun waktu 13 tahun pada buku yang sama?

Pertama, sebagai penulis aku mendapatkan banyak input, kreasi Joyce dalam menuliskan dengan berbagai teknik. Ada teknik seperti membaca koran, artinya di sebuah bab muncul judul-judul baru persis berita di koran. Ada cara Joyce menyusupkan aforisme, frasa, dan berbagai isu politik imperialis Inggris Raya kepada koloninya Irlandia. Yang paling besar adalah rekonstruksi kisah Odyssey karya Homer dari kisah para dewa menjadi kisah manusia biasa di Dublin. Odyssey menjadi Ulysses, yang lebih manusiawi.

Kedua, semakin menyuntuki teks sulit Ulysses semakin merasa percaya diri dan semakin berkurang aku bertanya tentang sastra kepada teman-teman pengarang. Itu kelebihannya. Aku bisa bersedia diajak diskusi siang malam membicarakan satu karya Ulysses. Keburukannya, minatku berkurang membaca karya pengarang lain. Tetapi bagiku, lebih baik aku mengerti secara intens satu karya dari pengarang tertentu, daripada tahu banyak pengarang dunia tetapi sedikit saja mengerti.

Kisah Ulysses boleh dibilang sebuah kecemburuan Joyce sendiri kepada istrinya. Pasalnya, ketika Joyce masih berada di Dublin, istrinya Nora pernah menyanyi pada sebuah konser musik dan tertarik dengan manajernya bernama Boylan. Dan Joyce memang sedang menulis novel biografi, kisah percintaan dirinya sendiri dengan Nora. Joyce berperan sebaga protagonist Leopold Bloom dan Nora Barnacle berperan sebagai Molly Bloom. Yang cerdik lagi, Joyce menghadirkan tokoh bernama Stephen Dedalus, seorang guru yang pintar sastra. Sedang Leopold Bloom sebagai seorang pegawai iklan yang sabar kebapakan. Karakter Joyce sendiri yang separuh sabar dan separuh kritis dengan sastra muncul pada dua tokoh Leopold dan Stephen.

Kreatifnya Joyce, kisah pribadinya yang berdurasi sehari semalam dari pukul 08.00 sampai 02.00 bisa dikemas dalam novel Ulysses yang tebal. Yang paling sensasional adalah setiap tanggal 16 Juni, para pencinta Ulysses diseluruh dunia merayakannya. Kenapa bsa terjadi? Pada novel Ulysses disebutkan, bahwa kencan perdana antara kedua tokoh Leopold Bloom dan Molly Bloom yakni pada tanggal 16 Juni 1902 di Nassau Street. Mereka tak lain adalah kisah nyata James Joyce dan Nora Barnacle sendiri.

Pada suatu hari teman kuliah dulu, Dr. Hartoyo yang kini menjadi dosen bahasa Inggris pada Unnes pernah menginap selama 3 hari di apartemenku, kota Zug, Swiss. Ia aku ajak ikut Reading Group Ulysses langsung dipandu oleh Kiai Senn. Ia kagum dan bertanya, bagaimana cara mengundang Fritz Senn ke Unnes ? Setiap teman Indonesiaku yang berkunjung ke Swiss, selalu aku ajak ikut merasakan sensasi Reading Group. Yusri Fajarm dosen di Universitas Brawijaya, Malang pernah aku ajak ikut mengaji Ulysses serta beberapa teman Indonesia yang lain.

Sayang 1000 sayang, penduduk kita yang 263 juta jiwa itu belum memiliki terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Dibanding negara-negara kecil lain di Eropa, seperti Rumania, Hongaria, dan Serbia, sudah punya terjemahannya. Problem terjemahan sastra kita, antara lain, lulusan jurusan sastra tak pandai bahasa Inggris dan lulusan jurusan bahasa Inggris lebih suka bekerja pada perusahaan asing ketimbang menerjemahkan karya sastra.

Adakah Reading Group di tanah air?

Pertama kali Reading Group aku praktikkan di Komunitas Lereng Medini (KLM) di Boja. Esther Mahanani sebagai kordinator dan membaca bersama The Old Man and The Sea karya Hemingway. Mengingat teksnya dalam bahasa Inggris langsung dan pesertanya para murid SMA, praktis novel tipis itu bisa khatam selama 3 tahun.

Kedua kali dipraktikkan di Taman Baca Multatuli di Lebak. Di dusun Ciseel yang terpencil ini Ubaidilah Muchtar, sang guru SMP bertindak sebagai kordinator. Sesuai landskap Lebak, maka dipilih novel Max Havelaar karya Multatuli. Novel terjemahan HB Jassin setebal 300 halaman itu dibaca bocah-bocah SD dan SMP seperti model tadarusan Alquran di masjid dan khatam dalam 10 bulan.

Format Reading Group ini aku impor ke Indonesia dan dipraktikkan di beberapa tempat oleh komunitas sastra yang militan. Syaratnya cinta pada teks dan tidak yang lain. Jika komunitas tak menyukai teks, lebih baik minggir saja, daripada kandas di tengah jalan.

Aku percaya, sekecil apapun komunitas sastra itu, di manapun terpencil lokasi komunitas sastra itu, jika yang dibaca karya besar secara bertahap dan terus menerus, akan menghasilkan rasa percaya diri yang besar. Terutama di era yang serba cepat ini, jalan menuju baca pelan menjadi tidak populer. Apalagi hadirnya piranti telepon genggam yang multi menawan tersedia film, foto, chating, rekaman suara, nyaris di keseharian baik di Eropa maupun di negeri sendiri, semakin sedikit terlihat orang membaca buku di tempat umum.

Mari, satu langkah maju dan perlu dicoba !

Jika prosa sudah aku uraikan dengan cara Reading Group, lalu bagaimana dengan mengapresiasi puisi? Sartre mengelompokkan bahwa puisi, lukisan dan musik dalam satu rumpun. Sebab itu puisi perlu panggung. Prosa cukup mengendap di teks, tanpa menuntut suara. Puisi atau poesie memerlukan ruang pentas. Apakah setiap poesie harus menjadi buku? Idealnya, iya. Tetapi ada alternatif baru yang asal poesie bisa dihadirkan di tengah publik, yakni Jemuran Poesie.

Dua Temuan dari Wina dan Kosntanz

Awalnya aku dan istri bertandang ke kota Wina, Austria. Sewaktu kami jalan-jalan, aku kesandung potongan kertas kecil berisi puisi fotokopian. Potongan kertas kecil itu hanya ditempel di kerangka besi untuk renovasi rumah tua. Aku teliti satu persatu, aku tertumbuk lembaran kertas bertuliskan Helmuth Seethaler, seorang penyair jalanan kota Wina, Austria. Tak tanggung-tanggung ia sudah 30 tahun menulis puisi di pinggir jalan. Ia tidak menerbitkan buku puisi, cukup di kertas fotokopian dan ditempel di bawah bangunan tua yang sedang diperbaki. Di sana sini dikasih petunjuk, silakan ambil dan bawa pulang.

Aku agak terkejut pada satu lembaran kertas disebut, bahwa penyair nyentrik ini sudah berkali-kali diajukan ke pengadilan dan dijatuhi pasal vandalisme, karena dianggap pihak pemerintah kota, aksinya itu mengotori kota. Untuk itu ia meminta dukungan agar aksinya dianggap sebuah semacam performance art belaka.

Pada suatu ketika aku dan istriku bertandang ke kota Konstanz, pinggir danau Bodensee, Jerman. Aku selalu suka yang berbau sastra. Di antara deret pengamen jalanan, ada pengamen puisi. Gila? Benar, ia seorang pengangguran, tapi lulusan insinyur bangunan Jerman. Ia menaruh kertas di papan yang berisi daftar puisi. Persis daftar menu makanan di restoran. Misalkan puisi judul Herbst (Musim Gugur) karya Herman Hesse harga 1 Euro. Puisi karya Goethe, Schiller, dan Rilke seharga 2 Euro. Aku pun pesan puisi Musim Gugur karya Hesse. Pak tua itu langsung beraksi, melafalkan seluruh baris puisi dengan suara sedang. Tanpa gesture dan mimik layaknya murid SD di Indonesia baca puisi, pasti deklamasi. Tetapi yang mengagumkan semua baris puisi itu sudah dihafal di luar kepala dan jumlahnya banyak.

Atas dua temuan di atas, di Wina dan Kosntanz itu, aku membuat eksperimen di kotaku Zug, Switzerland. Sejak tahun 2010, 10 tahun silam aku mengadakan aksi puisi di pinggir danau Zug. Tentu aku harus bekerja sama dengan wadah anak muda lokal bernama Jugend Animation Zug (JAZ). Terutama untuk urusan perizinan ke kantor kepolisian setempat.

Kombinasi dari temuan di atas aku namai Jemuran Poesie dengan 4 ajakan 1) Petiklah Poesie 2) Tulislah Poesie 3) Bacalah Poesie 4) Dengarkanlah orang lain baca puisi.

Peralatan yang aku siapkan cukup sederhana dan sangat murah. Ada benang string, kertas warna-warni, lem, jepitan jemuran dan fotokopian puisi. Setelah puisi aku kumpulkan dari buku, dari teman-teman dekat, dari internet, maka aku fotokopi.

Supaya tampak artistik, maka jika puisi bertema perpisahan, seperti puisi Abschied (Selamat Berpisah) karya Pablo Neruda, maka aku sesuaikan kertasnya berilustrasi tangan. Bahkan tepi kertas fotokopian puisi itu tidak aku gunting seperti layaknya, tetapi aku bakar dengan jilatan api lilin, agar tampak alami. Setelah kertas fotokopian yang tipis itu siap, perlu dilem ke kertas yang lebh tebal, seperti kartun. Tujuannya, jika kelak dijapit di benang, maka tidak terombang-ambing angin.

Jika semua peralatan puisi sudah siap, maka 2 benang dipancangkan di bawah pohon, atas dan bawah, keliling. Puisi-puisi itu siap dijapit jepitan jemuran atas dan bawah, persis menjapit kaus atau celana di tali jemuran. Sebab itulah aku namai Jemuran Poesie.

Syukur, jika punya teman yang suka main gitar, seruling, atau harmonika, mereka diajak bergabung. Teknis membaca puisi sambil diiringi musik ada dua.

Pertama, kita tanya dulu, apakah puisinya berisi nuansa sedih atau gembira? Maka lagu yang dipilih harus disamakan, puisi sedih ya diiringi lagu dan musik sedih, sebaliknya puisi gembira ya lagu dan musiknya yang riang.

Kedua, kita perlu tahu dulu apakah pembaca puisi itu punya suara yang lantang keras atau pelan? Jika ia baca dengan suara lantang, maka suara musik cukup dipelankan, toh pembacaan puisi tidak terganggu. Sebaliknya jika pembaca puisi itu pelan, maka musik hanya di awal dan akhir, di tengah saat puisi dibaca, musik total dihentikan.

Dua cara belajar prosa dan puisi di atas, tampaknya sepele. Yang tidak sepele adalah niatnya. Niat ada, waktu ada, tapi perlu passion dan cara menikmati dan mensosialisasikan sastra di sekitar kita semua. Mencintai sastra dan mempraktikkannya adalah cara menakar kehidupan dunia lebih elok dan dewasa.

Selamat Mencoba!

Zug : 27 Desember 2020

*) Sigit Susanto, penulis buku trilogi Menyusuri Lorong-lorong Dunia.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *