RIWAYAT ORANG-ORANG CEREWET –

oleh -94 views



Taufiq Wr. Hidayat *

Sahdan pada tanggal kembar, bulan kembar, tahun kembar terdapatlah suatu peristiwa yang gempar. Diberitakan pada media-media sosial, bahwa telah turun ke muka bumi, seseorang yang menyatakan diri sebagai seorang nabi baru. Dia bernama Kemanjuran Lumanto.

Tubuhnya kurus. Dadanya tipis. Kedua matanya bulat seperti hendak melompat dari tempatnya. Rambutnya keriting, memanjang berwarna putih. Kulitnya hitam. Hidungnya besar. Telinganya lebar seperti telinga gajah. Kepalanya sering memakai songkok putih, kadang-kadang memakai udeng. Dia mengaku mendapatkan wahyu dalam tidurnya. Wahyu pertama—menurut pengakuannya, ia terima ketika dirinya sedang tidur. Ia terbangun, tersengal-sengal. Dan menyampaikan wahyu itu kepada pembantunya.

“Wahai manusia, sesungguhnya malam itu gelap. Maka barangsiapa yang berjalan di dalam kegelapan tanpa sedikit pun penerangan, dia termasuk golongan orang-orang yang tolol,” ujar Kemanjuran Lumanto.

Tukang sapu rumahnya tertawa cekikikan mendengar bunyi ayat yang dibaca oleh nabi baru itu.

“Apa tertawa?!” Kemanjuran Lumanto menggertak tukang sapu rumahnya. Tentu saja si tukang sapu langsung ciut. Meskipun di tempat sepi, si tukang sapu kembali tertawa lebar mengingat bunyi ayat suci yang dibacakan juragannya yang telah menjadi nabi. Ia merubah kalimat terakhir wahyu yang didengarnya tadi di tempat sepi: “maka kamulah yang tolol!” katanya. Perutnya sakit karena tertawa tak kunjung berhenti. Ditahan-tahankan tawanya, begitu teringat kalimat terakhir itu, tawanya kembali meledak.

“Ambil alat tulis. Tulis. Wahyu pertama, ayat pertama, Surat Ketololan. Mulai sekarang kamu aku angkat sebagai juru tulis dari wahyu-wahyu yang aku terima. Maka bersegeralah.”

“Baik, Tuan.”

Pembantunya membungkuk-bungkuk. Mencatat pada sebuah buku tulis. Tangannya gemetar. Kemanjuran Lumanto beranjak dari tempat tidurnya, duduk. Rambutnya yang keriting, panjang, dan putih semua. Kedua matanya memandang tajam ke langit-langit rumahnya yang mewah. Istrinya datang. Masih muda, seorang mahasiswi di kota itu, usianya 24 tahun, sedang Kemanjuran Lumanto sudah berumur 65 tahun.

“Kopi. Rokok. Pisang goreng.”

“Baik, Kanda.”

“Mulai sekarang, panggil aku nabi. Aku telah menerima wahyu dari Tuhan.”

“Baik, Kanda Nabi.”

Sebagai seorang yang baru saja menyatakan diri menjadi nabi, Kemanjuran Lumanto mengumpulkan orang-orang dekatnya. Itu penting, katanya. Sebab dari dulu, agamawan sering dikerubungi orang-orang cerewet, yakni orang-orang yang selalu meminta pertolongannya dalam hal pelarisan, mendapatkan jodoh, pekerjaan, naik pangkat, atau tumbal usaha. Orang-orang mapan yang cerewet, yakni orang-orang yang selalu tak yakin pada hidupnya sendiri, tak percaya pada dirinya sendiri, sehingga tiap saat selalu membutuhkan kata-kata motivasi dari para motivator. Atau mereka yang terjepit keadaan, membutuhkan makna dan motivasi untuk keluar dari kesulitan. Pada suatu waktu, muncullah secara mewabah para agamawan yang cerewet, eksistensi mereka nyaris selalu ada dari zaman ke zaman. Semakin cerewet, semakin banyak pengikutnya, dan semakin luar biasa orang memujanya.

Tentu saja Kemanjuran Lumanto bukan secara bersungguh-sungguh mengaku nabi. Ia hanya tokoh yang memerankan nabi pada sebuah pertunjukan teater yang berjudul “Wali Ulo”.
***

“Cukup! Latihan kali ini, sementara sudah cukup,” ujar Sumakrup. Para kru berkemas-kemas.

Sumakrup adalah seseorang—yang dalam teater berjudul “Wali Ulo” itu, memerankan tokoh Kemanjuran Lumanto yang mengaku sebagai nabi baru. Teater yang rencana hanya berdurasi 25 menit tersebut, akan dipentaskan pada kegiatan rutin sebuah komunitas teater bulan depan. Di samping sebagai aktor, Sumakrup juga yang menulis skenario cerita sekaligus menyutradarai pentas teater yang kebanyakan diikuti anak-anak sekolah menengah atas. Ketertarikan saya pada tema pertunjukan teater itu, membuat saya mendekati Sumakrup untuk menggali bagaimana proses kreatif dari tema teaternya. Padahal sehari-harinya, Sumakrup hanyalah seorang pengangkut ikan pada pelabuhan Muncar, bekerja siang dan malam mengantar ikan dengan becak bermotor. Kulitnya hitam legam dibakar matahari dan aroma lautan. Tapi perokok berat yang seringkali berat pada kantongnya.

“Bagaimana Anda menemukan judul aneh itu pada lakon Anda?” tanya saya.

“Hahaha! Saya kira Mas Fiq jauh lebih mengerti daripada saya,” jawabnya merendah, sembari menyambar sebatang rokok saya. “Bagi rokoknya, Mas,” katanya.

Saya tertawa. Demi mendapatkan keterangan tentang kisah pada lakonnya itu, saya merelakan rokok saya dihabisi mentah-mentah oleh sang pemeran nabi palsu itu.

“Coba ceritakanlah, Sumakrup,” kata saya.

“Begini, Mas Fiq.” Sumakrup memantapkan posisi duduknya. Mengisap rokoknya dengan sangat meyakinkan. “Tak ada agama yang rewel. Yang rewel adalah si pemeluk agama itu. Tuhan pun saya rasa tidak rewel, yang rewel adalah manusia. Jika seseorang cerewet, maka agamanya menjadi agama yang cerewet. Mau begini-begitu takut kena dosa, takut gak sah, takut tersesat, dan seterusnya. Hidupnya ribut dan ribet, lalu bikin ribut dan ribet orang lain. Tiap hari, di mana pun berada dan kapan pun, jika dia seorang tokoh, dia bikin kekisruhan, menghasut orang agar mengerahkan keramaian, supaya mendaulat dirinya sebagai tokoh utama laksana nabi atau orang suci. Itulah agama yang cerewet. Begitu juga dengan kecerewetannya perihal Tuhan. Sedikit-sedikit katanya Tuhan murka, menurunkan azab, atau mengancam neraka. Itulah Tuhannya orang yang cerewet. Sampai-sampai Tuhan pun dia jadikan cerewet mengikuti kecerewetannya sendiri.”

Sumakrup menghirup kopinya.

“Lalu siapa tokoh Kemanjuran Lumanto dalam lakon Anda?” sergah saya.

“Itulah elite agama atau orang yang menepuk dirinya sebagai ahli agama, ahli sastra, ahli musik, sekaligus ahli budaya. Menyatakan diri sebagai ahlinya ahli, kata Pak Ndul. Hahaha! Mereka memang tidak terang-terangan mengaku sebagai nabi, tapi tingkah mereka justru memerankan nabi palsu. Semua perbuatan mereka yang menyimpang, mereka atasnamakan meniru nabi. Gombal!”

Saya terdiam, menyimak Sumakrup memaparkan tafsir atau entah apa dari tema lakon yang akan dipentaskannya itu. Ia menyalakan kembali rokoknya, rokok saya yang dibabatnya mentah-mentah. Tapi saya rela, semua demi menggali tafsir dari lakonnya yang aneh itu.

“Lalu kenapa berjudul Wali Ulo?”

“Hahaha! Apalah arti sebuah judul? Itu hanya pelesetan nekat dari julukan seseorang yang dielu-elukan dan mengaku-ngaku kekasih Tuhan, ngerti agama, dekat Tuhan, tapi nafsu sahwatnya menjijikkan dengan usia yang sudah tua dan uzur. Kaya raya, tapi gemar memanfaatkan orang lain, memperalat orang lain, gila panggung, dan menjilat kelamin ketika malam. Tak tahu diri!” Sumakrup menghembuskan asap rokoknya ke udara.

“Tapi bagaimana penjelasan, bahwa ada pemeluk agama yang cerewet atau Tuhannya orang yang cerewet?”

“Begini,” Sumakrup menghirup kopinya lagi. “Rokok tinggal sebatang, Mas Fiq,” katanya cengengesan.

Segera saya meminta tolong anggota teater kecil pimpinan Sumakrup membelikan dua bungkus rokok kegemaran Sumakrup.

“Nah ini! Akan saya tuntaskan alkisah manusia-manusia cerewet dan Tuhannya orang-orang yang cerewet itu. Semua bisa menjadi jelas dengan sebungkus rokok, bukan?” ujarnya tertawa. Saya pun tertawa. Dan tak mungkin tak merelakan rokok-rokok itu dibabat mentah-mentah oleh sang aktor Sumakrup.

“Hahaha! Baiklah,” jawab saya.

Sumakrup karib dengan saya, kawan baik kayak saudara sendiri, dia sering memberi saya ikan laut segar untuk dibakar. Manusia yang berkulit hitam legam, tapi giginya putih seputih salju.

“Teruskan!” ujar saya.

“Begini. Sahdan.” Sumakrup mengisap rokoknya kuat-kuat. “Pada zaman dahulu kala, dikisahkan dari sebuah kitab kuno,” katanya.

Maka dikisahkanlah oleh Sumakrup perihal orang-orang yang cerewet itu.
***

Nabi Musa menemui kaumnya. Kaumnya mengeluhkan perihal wabah penyakit dan bencana yang sepertinya tak pergi-pergi menghabisi kaum Israel. Kaum Nabi Musa bertanya.

“Wahai Musa. Katanya kamu bisa berkomunikasi langsung dengan Allah. Jika iya, maka tolong kamu tanyakan kepada Allah; tumbal apa yang Dia inginkan agar segala kesialan kami lenyap?”

“Baiklah.”

Nabi Musa segera mendaki bukit Sinai. Beliau menyampaikan keluhan kaumnya. Tuhan bersabda.

“Wahai Musa, kemalangan, kesialan, dan bencana yang menimpa kaummu disebabkan banyak mereka yang kaya tapi bakhil. Sehingga kemelaratan tak terselamatkan. Juga kebanyakan di antara kamu yang pandai dan terhormat, namun memperdaya dan memperalat sesamanya.”

“Lalu harus bagaimana kami mengatasinya, Tuhanku? Apakah Engkau menginginkan tumbal untuk mengatasi segala derita kami?”

“Aku perintahkah kepada kalian menumbalkan seekor sapi saja. Suruhlah orang-orang kaya itu menyembelih sapi, dan mintalah orang-orang pandai bergabung. Kemudian bagikanlah daging sapi itu kepada sesamamu yang miskin. Itu harus dilakukan orang-orang kaya dan orang-orang pandai di antaramu.”

“Baik, Tuhanku.”

“Sebelum Nabi Musa menyampaikan perintah Tuhan untuk menumbalkan seekor sapi, kopi perlu dihirup sekali lagi, supaya kisah ini terus dapat Anda nikmati,” ujar Sumakrup sembari menghirup kopi.

“Sudah lanjutkan saja,” ujar saya gelisah. Rupa-rupanya saya telah larut dalam cerita perihal orang-orang yang cerewet menurut tafsir Sumakrup.

Kemudian disampaikanlah oleh Nabi Musa pesan Tuhan.

“Kaumku, Tuhan meminta tumbal seekor sapi, yang dagingnya dibagikan kepada orang-orang miskin. Tumbal itu yang akan menjadi perantara guna melenyapkan segala nasib sial yang menimpa kalian.”

“Interupsi, Musa!”

Salah seorang di antara kaum Nabi Musa ngacung. Nabi Musa terdiam.

“Oke kita tumbalkan seekor sapi. Tapi kita harus jelas dulu, sapi seperti apa yang dimaksud Allah untuk dijadikan tumbal? Apa sapi betina atau sapi jantan? Itu harus kamu tanyakan kepada Allah, agar nantinya kita tidak keliru. Kalau keliru, nasib sial kita bisa gak selesai,” ujar salah seorang kaum Nabi Musa itu.

“Betul, Musa.”

“Iya. Tanyakan sama Allahmu itu.”

“Tepat sekali. Jangan sampai kita salah lagi di mata Allah.”

Orang-orang bersahutan. Nabi Musa menyanggupi permintaan kaumnya. Beliau kembali mendaki bukit Sinai dengan bersusah payah demi menyampaikan pertanyaan kaumnya. Tapi Allah tak menjawab. Nabi Musa kembali menemui kaumnya. Sebelum Nabi Musa menyampaikan, bahwa Allah tidak menjawab pertanyaan kaumnya, kaumnya—yang terdiri dari orang-orang kaya dan kalangan cerdik-pandai itu, sudah mengajukan pertanyaan baru secara bergantian. Sebagian lagi justru mengajukan keberatan.

“Di samping apakah yang harus ditumbalkan itu sapi betina atau jantan, sapi dengan bulu berwarna apa yang diinginkan Allah? Apakah sapi yang berbulu putih, abu-abu, atau hitam? Kami khawatir keliru, sehingga pengorbanan kami tidak sah,” tanya mereka.

“Iya, Musa. Yang jelas. Sapinya disembelih pada siang hari atau pada malam hari?”

“Apakah disembelih pakai pedang atau gergaji?”

“Iya! Tolong kalau memberi perintah, yang jelas dan pasti dong. Jangan abu-abu!”

“Betul.”

Suara-suara bersahutan. Ramai. Dan dihujani interupsi.

“Begitulah kisah orang-orang cerewet. Apa yang mereka persoalan sebenarnya tidak penting, tak ada sangkut pautnya dengan perintah pengorbanan dari Tuhan, yang intinya berbagi dan saling menyayangi antara si miskin dan si kaya, si bodoh dan si pintar. Mereka cerewet. Sehingga tak mungkin dapat berbuat dengan sebaik-baiknya, lantaran kecerewetannya sangat menjijikkan,” ujar Sumakrup menutup kisahnya. Ditindasnya puntung rokok pada asbak.

“Tapi apa hubungan antara kisah Nabi Musa dengan manusia sekarang, manusia di zaman android ini, Sumakrup?” tanya saya.

“Hahaha! Coba kamu lihat, orang beribadah meributkan sah tidak sahnya suatu peribadatan. Orang sibuk mempersoalkan banyak dan sedikitnya para peserta pengajian, mempersoalkan kecil atau besarnya bunyi pengeras suara dari kegiatan yang mereka sebut dakwah. Orang mempersoalkan baju yang benar atau tidak benar untuk menjadi orang beriman. Di sisi lain, orang membenci yang gak sejalan. Ribut mengutuk perbedaan. Merendahkan diri dengan tujuan agar dipuji sebagai orang yang rendah hati. Bukankah itu cerewet? Apa yang dipandang adalah apa yang tampak. Orang ingin dilihat berjasa dan mengabdi, memasang wajah sedih memperdaya, padahal gila pengakuan, dan diam-diam memanfaatkan orang lain agar menjunjung ketokohannya, agar terkenal, agar dianggap pengayom, agar dianggap kebapakan, agar dimuliakan sebagai ahli yang mumpuni. Hahaha! Tuhannya adalah kehendak-kehendak. Kehendak-kehendak yang selalu cerewet, yang membuatnya cerewet, waktunya sibuk menggali makna hidup dan makna agama. Tetapi tak sudi berhikmat pada penderitaan, gagal menjadi manusia wajar dan saling menyelamatkan, yang adalah nilai paling penting dari agama atau keyakinan hidupnya.”

Saya menyimak dengan seksama kisah Sumakrup. Hampir sebungkus rokok telah dia basmi. Dan segelas kopi nyaris tandas.

“Lalu apakah lakon yang akan Anda pentaskan itu nantinya bisa ditonton dan dipahami banyak orang?” tanya saya.

“Ah! Mainkan saja lakon ini. Saya baik-baik saja. Lalu kenapa sekarang kamu yang cerewet?” jawab Sumakrup.

Jancuk!

Banyuwangi, 2020
Keterangan foto: “Pantai Hitam” oleh Saw Notodihardjo

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.