SAMBARAN API ENERGI KREATIF BAGUS PUTU PARTO –

oleh -91 views


Djoko Saryono

Puisi-puisi Bagus Putu Parto yang dihimpun ini merupakan jilatan dan sambaran bara api energi kreatif Bagus Putu Parto, yang tak kunjung padam atau redup nyalanya kendati sudah merambat, menjilat, dan menyambar kemana-mana. Bara api energi kreatif itu pada mulanya membakar dunia teater hingga dunia teater bernyala (baca: perteateran Blitar). Kalender bersalin waktu, lantas jilatan api energi kreatif Bagus menyambar dunia fiksi hingga dunia fiksi pun terbakar (baca: polemik sastra pedalaman).

Bara api energi kreatif itu makin membesar, kemudian juga menyambar dunia usaha hingga usaha boga rotinya membesar tanpa dinyana. Lebih jauh lagi bahkan bara api energi kreatif Bagus melalap habis dunia kebudayaan dalam arti seluas-luasnya hingga budi dan daya para pemangku budaya bernyala terang – di sini kita ingat Rumah Budaya Kalimasada yang menjadi ruang artikulasi berbagai ragam atau bentuk reportoar budaya. Itu sebabnya, puisi-puisi Bagus menjadi bagian terpadu (integral) sektor kebudayaan yang dilibati dan dihidupi oleh Bagus, terutama teater, fiksi, boga roti, dan seni pada umumnya.

Tungku kebudayaan Bagus senantiasa dinyalakan sejak umur belia sampai separuh abad lebih sekarang – dengan bara api energi kreatif terus stabil dan menyala terang. Bahan kabarnya dipasok secara memadai dan berkelanjutan, tak pernah berhenti. Bahan bakar itu berupa elan vital, etos, dan spirit kebudayaan terutama kesenian yang kuat dan kokoh melintasi waktu. Harus diakui, Bagus memiliki cadangan elan vital, etos, dan spirit berkebudayaan atau berkesenian yang kuat-bagus berkat kemampuan dan kepiawaiannya meramu kepentingan material dan kepentingan simbolis-sosial.

Tak ayal, dunia teater, fiksi, dan puisi dengan dunia boga roti bisa bersimbiose mutualistis di dalam gerak kebudayaan atau kesenian Bagus. Paling tidak, selama 20 tahun terakhir keempat sektor tersebut menyala berdampingan serasi berkat elan vital, etos, dan spirit berkesenian berkobar. Di sinilah kita tahu, puisi-puisi Bagus yang termuat dalam antologi ini pada dasarnya manifestasi bara api energi kreatif yang disokong kobaran elan vital, etos, dan spirit berkebudayaan khususnya berkesenian Bagus yang terus-menerus menyala secara kuat-besar.

Kuat-besarnya nyala-kobar elan vital, etos, dan spirit berkesenian Bagus terlihat dalam diksi, larik, bait, gaya, nada, dan tempo hampir semua puisinya yang terhimpun dalam antologi ini. Sebagai contoh, diksi-diksi puisi Bagus begitu lugas, terang, gamblang, tanpa tedeng aling-aling, dan ekspresif sekali. Mulai berurusan dengan pejabat, pembesar, pahlawan, orang kebanyakan sampai urusan ketuhanan, puisi-puisi Bagus memakai diksi-diksi lugas, menggebu, dan penuh daya jotos. Nyaris tak ada diksi remang, apalagi gelap, dalam puisi-puisi Bagus baik puisi bernuansa heroik-nasionalis, sosial-politis, sosial-etis maupun spiritual.

Puisi-puisi yang bercorak heorik-nasionalis berporos Bung Karno – yang ada di bagian-bagian awal antologi ini – menggunakan diksi-diksi lugas yang menggebu dan penuh semangat. Demikian juga puisi-puisi yang bernuansa spiritual atau minimal ketuhanan – yang diletakkan di bagian-bagian akhir antologi ini – memakai diksi gamblang, terang, dan menggebu sekalipun tak terkesan menantang – di hadapan Tuhan atau Yang Absolut diksi yang digunakan merunduk dan merendah sekalipun menguarkan nada tegak. Diksi-diksi seperti tersebut disusun dalam bait-bait yang lincah, terang, dan mengalir lancar.

Gaya puisi-puisi Bagus dalam antologi ini seperti orang berjalan cepat, bukan menari gemulai. Diksi, bait, dan gaya seperti tersebut ditunjang oleh tempo yang cepat, lincah, dan berderap – tak lembut dan gemulai – disertai nada yang sering tinggi, lantang, kadang melabrak, kadang merunduk tegas, dan penuh kecekatan. Watak puisi-puisi seperti tersebut mengingatkan saya kepada salah seorang tokoh Kurawa bernama Kartomarmo. Kebetulan Bagus Putu Parto mengidolakan Kartomarmo, seorang tokoh kiri yang antagogis dalam pewayangan Jawa, sehingga saya ingin menyebut puisi-puisi Bagus dalam antologi ini bagai mengekspresikan watak Kartomarmo. Oleh sebab itu, saya ingin mengatakan, puisi-puisi Bagus dalam antologi ini merupakan pengucapan puitik Kartomarmo-isme ala Bagus Putu Parto.

Itulah paradoks puisi Bagus dan mungkin juga itulah paradoks kehidupan Bagus Putu Parto – di tengah banyak orang menginginkan menjadi Pandawa, Bagus malah membayangkan diri sebagai Kurawa – di tengah banyak penyair menyenangi puisi gelap atau remang yang penuh kebyar simbolisme, Bagus malah menulis puisi terang-benderang yang mengambyarkan simbolisme dan metafora yang kompleks.

Keterangan Buku:


Antologi Puisi: Km 0
Karya: Bagus Putu Parto
Penerbit: Tankali, Juli 2020
Tebal: 96 hlm, kumpulan 53 puisi
Kata Pengantar: Tengsoe Tjahjono

22 Jan 2021



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.