Sarengas –

oleh -112 views


Gunawan Maryanto
Media Indonesia, 26 Agu 2007

SARENGAS ingin menguasai bahasa. Segala bahasa yang ada di muka dunia. Dari bahasa hewan, tumbuhan hingga manusia. Dengan demikian ia akan menguasai dunia, sebagaimana Sulaiman, panutannya. Maka berangkatlah ia pagi itu ke laut sebagaimana pesan yang didapatnya dalam mimpi. Jika kau ingin menguasai seluruh bahasa di dunia ini, bertapalah di dasar laut, sebagaimana Sulaiman pernah melakukannya. Ditinggalkannya Medayin untuk memburu yang tak mungkin. Ditinggalkannya kerajaan besar dengan empat ribu kerajaan jajahan itu untuk sesuatu yang mungkin keliru. Abujantir, patihnya, tak kuasa menahannya. Tak kuasa menalarnya. Bagaimana raja yang kekuasaannya hampir-hampir tak berbatas itu masih memiliki keinginan memperluas batasnya. Ia hanya membenamkan kepalanya dalam-dalam ketika raja yang demikian dikasihinya itu mengutarakan niatannya.

“Aku akan masuk ke dalam laut, Abujantir. Kutitipkan kerajaan ini kepadamu. Jika dalam tiga tahun aku tak kembali maka anggap saja aku telah mati. Segera nobatkanlah Kobatsah untuk menggantikanku. Ia masih terlalu muda untuk menjadi raja, maka dampingilah dengan sabar hingga kelak ia bisa berdiri sendiri.”

Abujantir hampir menangis jika saja ia tak segera ingat bahwa ia adalah seorang patih sekaligus seorang penasihat kerajaan yang terkenal dengan ketenangan dan kebijaksanaannya.

“Aku telah memesan sebuah tong dengan selang panjang yang membuatku akan tetap bisa bernafas. Turunkanlah tong itu dengan rantai besi hingga mencapai dasar laut. Jika aku telah mendapatkan apa yang kuinginkan, aku akan menggerakkan rantai itu. Segeralah angkat kembali tong itu. Minta seluruh raja jajahan untuk bergantian menjaga rantai itu setiap harinya. Selebihnya tak ada lagi, selain doakanlah aku. Jika Sulaiman bisa, kenapa aku tidak.”

Pagi itu Abujantir mengantar junjungannya ke laut. Di belakang Abujantir, serupa barisan semut yang melintasi punggung bebatu, ribuan orang juga turut mengantar raja yang begitu mereka cintai itu. Ketika sampai di tepi laut, sebelum masuk ke dalam tong yang telah dipersiapkan, Sarengas membalikkan badan dan melambaikan tangan kepada seluruh pengantarnya. Ribuan orang itu terdiam. Sebagian besar menangis tak bisa menahan getar perasaannya. Sebagian tak kuat mengangkat tangannya guna membalas lambaian perpisahan itu. Lalu dengan iringan lagu kebangsaan, yang untuk pertama kalinya terdengar begitu mengharukan, Sarengas memasuki tong pertapaannya. Satu regu prajurit bertugas menurunkan tong itu dengan rantai besi yang luar biasa panjang secara bergantian. Tengah hari barulah tong itu mencapai dasar laut. Lalu satu demi satu pengantar mengundurkan diri, kembali ke kesibukannya masing-masing. Tapi rasa duka yang ditinggalkan oleh kejadian hari itu tetap bertahan di hati masing-masing. Entah sampai kapan.
***

SALAH seorang di antara mereka bernama Nimndahu, seorang duda beranak satu, yang sehari-hari bekerja sebagai koki pribadi Sarengas. Kesedihannya jadi berkali lipat lantaran ia juga kehilangan pekerjaan. Meski tetap mendapat gaji, tetap saja kesedihannya tak berkurang. Justru dengan mendapat gaji buta, ia jadi tambah teraniaya. Nimndahu jadi seperti dulu lagi, sebelum menjadi koki, yakni pemurung dan pendiam. Jadi seperti dulu lagi, ketika istrinya meninggal dunia. Istri Nimndahu memang telah tiada, meninggal saat melahirkan Lukmanakim, anak semata wayang mereka. Lukmanakim sendiri selamat tak kurang suatu apa, dan Nimndahu membesarkannya sendirian dengan kasih yang berlipat ganda.

Sebenarnya, jika dirunut-runut, Nimndahu masih terhitung kerabat istana. Ia adalah saudara jauh dari Prabu Sarengas. Keinginannya yang kuat untuk bisa sekaligus menjadi ibu bagi anaknya telah membuka jalan hidupnya yang baru. Ia jadi pandai memasak. Bakat terpendamnya ini secara tak sengaja ditemukan oleh Sarengas ketika ia secara tiba-tiba berkunjung ke rumah Nimndahu.

“Luar biasa, Nimndahu. Benarkah kau sendiri yang memasak semua hidangan ini?” Sarengas hampir-hampir tak percaya. Baru pertama kali dalam hidupnya ia merasakan masakan yang mampu membuatnya bahagia. Nimndahu hanya mengangguk. Kesedihan yang hampir menyelimuti seluruh hari-harinya membuat ia sedikit sekali bicara. “Apakah kau bersedia menjadi juru masak pribadiku? Biarkanlah aku setiap hari mencicipi kebahagiaan bersama Lukmanakim anakmu.”

Nimndahu tak menolak tawaran itu. Selain menjalankan titah raja, ia juga sedang membutuhkan pekerjaan untuk bisa menghidupi anaknya. Sejak saat itu jadilah ia tukang masak pribadi Sarengas. Kesibukan barunya itu pelan-pelan bisa mengusir kesedihan yang ditinggalkan oleh kematian istrinya. Dan Sarengas makin hari makin jatuh cinta pada masakannya.

Begitulah, sejak kepergian Sarengas ke dasar laut, Nimndahu kembali didiami kemurungan yang sangat.
***

SEMENTARA itu di dasar laut, segalanya berlangsung begitu lambat. Genap satu tahun lebih tujuh bulan, Sarengas terbangun dari samadinya. Ia seperti melihat seseorang tengah berdiri di hadapannya. Begitu dekat tapi begitu samar. Begitu dekat karena ia bisa merasakan dengus nafas. Begitu samar karena ia sama sekali tak bisa melihat sosok itu dengan jelas.

“Anakku, pulanglah. Keinginanmu telah terkabul. Di genggaman tangan kananmu ada sejumput tepung. Buatlah kue apem. Lalu makanlah sampai habis. Jangan sisakan sedikit pun.”
Sarengas segera membuka dan memperhatikan telapak tangan kanannya. Benar. Sejumput tepung halus berwarna putih telah berada di sana. Ketika Sarengas kembali menatap ke depan, sosok tersebut tak ada lagi. segera setelah menguasai keadaan, Sarengas menarik-narik rantai tong pertapaannya. Salah seorang raja jajahan yang sedang bertugas menjaga rantai segera memukul tanda ke seantero negeri. Sepasukan prajurit segera menarik rantai itu. Berbarengan dengan itu, seluruh penduduk Medayin segera menghentikan kerjanya dan bergegas menuju tepi laut. Setahun lebih tujuh bulan adalah sebuah penantian yang mendebarkan dan tanpa kepastian. Selama itu pula mereka hanya bisa menduga-duga dengan hati berdebar apakah Baginda Sarengas masih hidup. Dan ketika mendengar tanda dan kabar bahwa Baginda Sarengas telah menyelesaikan tapanya dengan selamat mereka melonjak dan berteriak kegirangan. Mereka bahkan tak peduli apakah tapa tersebut berbuah hasil atau tidak. Tak penting.

Tepi laut itu dalam sekejap telah menjadi lautan manusia. Lagu kebangsaan kembali dinyanyikan mengiringi proses penarikan tong. Lagu yang sama dengan saat mereka melepas Sarengas, tapi perasaan yang ditimbulkannya sangatlah berbeda.

Matahari sudah hampir terbenam. Dalam cahaya kemerahan rombongan prajurit yang bertugas menarik rantai terus bekerja tanpa kenal lelah. Mereka tak sabar ingin segera mencium kaki junjungannya. Kerinduan yang luar biasa besar telah menjelma tenaga yang tak putus-putus dalam menarik rantai yang sangat berat dan panjang itu. Lagu kebangsaan terus berkumandang seperti menahan matahari supaya tidak lekas tenggelam dan malam jangan terburu datang. Mereka ingin melihat dengan jelas wajah kekasihnya.

Dan waktu memang serasa berhenti. Proses penarikan tong itu terasa lebih lama dari penantian sepanjang setahun lewat tujuh bulan yang baru saja dilalui. Tong itu seperti nyangkut entah di mana. Beberapa orang mulai tak sabar. Mereka meneriaki para prajurit supaya bekerja lebih cepat. Para prajurit, merasa dianggap tidak bekerja dengan baik membalas dengan makian yang tak kalah pedas. Situasi mulai memanas. Untunglah Abujantir segera menenangkan keadaan.

“Saudara-saudara, jangan rusak seluruh penantian kita ini dengan ketidaksabaran yang tak berarti. Ini adalah saat terakhir di mana kita harusnya lebih bisa menguasai diri kita ketimbang saat-saat sebelumnya. Jadi, Saudara, mari tumbuhkan kebahagiaan yang tadi telah bersemi dalam diri kita.” Ajakan Sang Patih Medayin itu segera disambut dengan tepuk tangan meriah segenap yang hadir, seperti letusan jutaan petasan yang menyala di di samping daun telinga. Dan akhirnya tepat tengah malam sampailah tong itu di permukaan air laut.

Tong itu telah berubah wujud. Ditumbuhi karat dan rumput laut. Para prajurit segera mencungkil pintu dengan linggis. Dan terbukalah pintu tong itu. Segenap yang hadir hampir secara bersamaan menahan nafas. Sarengas tidak segera menampakkan diri. Karena situasi yang gelap, bagian dalam tong yang tampak dari pintu tidak terlalu jelas terlihat. Para penjemput saling berpandangan satu sama lain. Yang ditunggu tak segera menampakkan ujung hidungnya. Mereka merapat pelan mendekati tong dengan nafas tetap tertahan. Yang di belakang merangsek maju mendesak kerumunan di depannya. Sedang yang di depan mencoba menahan laju yang di belakang supaya mereka tidak terdorong menabrak tong. Kekacauan hampir saja terjadi jika tidak segera terdengar salam yang sudah begitu mereka kenal dari dalam tong.

“Salam sejahtera. Semoga sejahtera selalu hadir di tengah-tengah kita.” Suara itu terdengar begitu tenang dan lemah. Meski demikian mampu meredam gejolak emosi yang hampir mencapai puncaknya.

Tanpa kecuali semua orang menjatuh dirinya ke pasir pantai. Bersujud menyembah raja yang begitu mereka rindukan. Doa syukur segera terdengar berdengung seperti jutaan lebah keluar dari sarangnya.
***

SECARA khusus Sarengas menemui Nimndahu dan menyerahkan tepung jimat supaya lekas diolah menjadi sebuah kue apem. Sarengas juga berpesan agar kue itu dibuat dan disimpan saja oleh Nimndahu di rumah, bukan di istana. Sarengas khawatir terjadi apa-apa dengan kue itu dan sia-sialah jerih payahnya bertapa di dasar laut. Nimndahu segera melaksanakan perintah itu. Begitu matang, disimpannya kue tersebut di dalam lemari dapurnya.

Tapi siapa bisa menolak suratan. Ketika Nimndahu berangkat ke istana untuk mengabarkan kepada Sarengas bahwa kue apemnya telah siap, pulanglah Lukmanakim, dari bermain bersama teman-temannya. Saking laparnya Lukmanakim langsung menuju ke dapur. Aroma apem yang harum memaksanya membuka pintu lemari. Dan dilahapnya kue itu tanpa sisa. Merasa masih lapar ia mencari-cari kue yang lain. Ia mengira ayahnya membuat kue apem lebih dari satu. Biasanya memang begitu. Ketika tengah sibuk mencari-cari itulah masuk Nimndahu.

“Ayah, di mana Ayah simpan kue apem yang lainnya? Enak sekali, Ayah.” Seketika lemaslah Nimndahu mendengar pertanyaan anaknya yang tercinta. Ia hampir jatuh ke lantai karena tak kuat menanggung perasaan bersalahnya.

“Ada apa, Ayah? Kenapa Ayah tiba-tiba lemas dan pucat?” Lukmanakim mencemaskan ayahnya. Karena tak kunjung mendapat jawaban ia segera memapah Nimndahu dan mendudukkannya di balai-balai.

Nimndahu tetap tak bisa bicara. Tapi pikiran sudah mulai bisa bekerja. Setelah sedikit tenang ia segera bangkit dan bergegas menuju dapur. Lukmanakim hanya memperhatikan dengan sejumlah pertanyaan berlintasan dalam kepalanya. Tak lama kemudian bau harum kue apem kembali tercium. Nimndahu pun segera keluar dari dapur membawa bungkusan di tangannya. Tanpa menegur Lukmanakim, ia melangkah dengan cepat menuju istana. Lukmanakim masih terbengong-bengong di balai-balai. Tetapi tak lama. Panggilan kawan bermainnya segera menutup perasaan cemasnya. Segera ia menyahut panggilan itu dan menghambur keluar rumah.
***

SARENGAS segera menelan kue apem itu. Tanpa sisa. Sebagaimana pesan yang diterimanya. Nimndahu melihatnya dengan perasaan tidak karuan. Tapi karena tidak terlihat tanda-tanda bahwa Sarengas mengetahui bahwa kue apem itu terbuat dari tepung yang lain, Nimndahu sedikit tenang. Ia segera amit mundur.

Sepeninggal Nimndahu, Sarengas segera berlari menuju taman kerajaan. Ia ingin sekali membuktikan bahwa dengan memakan kue apem dari tepung yang didapatkannya di dasar laut ia telah menguasai seluruh bahasa yang digunakan di muka bumi. Segera didekatinya sepasang burung kutilang yang berada dalam sangkar. Ia mendengar dengan seksama kicauan sepasang burung itu. Tapi ia tak segera mengerti apa yang tengah kedua burung itu percakapkan. Ditajamkannya lagi telinganya. Hasilnya sama. Ia berpindah ke gerumbul kembang sepatu yang tak jauh dari sangkar tersebut. Hasilnya sama. Ia bahakan sama sekali tak mendengar suara dari kembang sepatu.

Ia menggeram dalam hati, “Ternyata sosok yang kutemui di dasar laut itu adalah setan!”
***

Yogyakarta, Agustus 2007.

Catatan: Kisah ini berangkat dari Serat Menak karya R. Ng. Yosodipuro yang digubah dari Serat Menak Kartasura yang ditulis Carik Narawita dari khazanah sastra Melayu Hikayat Amir Hamzah yang diturunkan dari Qissa il Emir Hamza wiracarita dari Parsi.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.