SEBUAH PESAN DI PENGHUJUNG PETANG –

oleh -185 views


Jadid Al Farisy *
Iqrolibrary, 8 Mei 2020

Diantara ramai lalu lalang kendaraan di jalan kawasan pasar kliwon kota kecamatan, ada hal yang cukup menyita perhatian banyak orang termasuk aku yang sedang memarkir sepeda di tepi jalan karena menunggu istri berbelanja di dalam pasar. Seorang bapak tua tak dikenal tampak membagi-bagikan sesuatu pada setiap orang yang dijumpainya.

Sebenarnya yang membuatnya menjadi pusat perhatian bukan hanya lantaran aktifitasnya itu, tetapi lebih karena penampilannya yang bisa dibilang mirip dengan orang majnun pada umumnya. Berpakaian compang-camping, kumal, ditambah lagi rambutnya yang gimbal dan berkulit legam kusam cukuplah mengesankan bahwa bapak tua itu benar-benar sudah owah pikirannya.

Sekilas jika kuperhatikan, barang yang ia bagi adalah sebuah buntalan kecil plastik warna hitam namun tidak tahu persis apa isinya. Dan karung kumal yang disanggulnya kemana-mana itu sepertinya memuat persediaan barang yang sedang dibagikannya.

Aku masih memperhatikannya dari kejauhan karena posisinya yang memang berada di seberang jalan. Kusulut kretek untuk mengusir bosan karena menunggu. Masih kulihat dengan seksama bapak tua itu. Ia terlihat masih terus membagikan buntalannya meskipun tidak jarang orang yang ditemuinya menolak karena mungkin heran dan takut.

Kejadian itu kontan saja menerbitkan tanda tanya besar di benakku. Siapa sebenarnya bapak tua misterius itu? Apa benar dia orang gila? Jika melihat gelagatnya, tidak salah juga jika orang-orang akan menganggapnya gila. Sesekali tampak ekspresinya yang dingin tanpa bicara seolah sedang menghayati dunianya sendiri. Namun sesekali juga terdengar tawa yang terbahak-bahak lepas seperti tanpa beban dan sesudah itu diam sejenak. Tak lama berselang terdengar suara tangis pilu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

Kini bapak tua itu berada tepat berada di arahku namun masih di seberang jalan. Ia terlihat memberikan buntalannya pada beberapa anak muda yang sedang memasang banner di atas pepohonan. Bapak tua itu masih saja menawari buntalannya. Karena mungkin dirasa mengganggu, para pemuda itu akhirnya membentak dengan kasar dan mengusir orang tua berpakaian rombeng itu.

Tidak terasa sebatang rokokku ternyata telah habis. Kubuang puntungnya sekenanya saja di depanku. Tidak sadar kuarahkan tepat di bawah kaki dekil tak beralas yang tiba-tiba saja muncul di depanku. Betapa kagetnya aku ketika yang kulihat di hadapanku kini adalah si bapak tua pembagi buntalan tadi. Sejak kapan, ia yang baru saja tadi berada di seberang jalan dan dibentak para pemuda, kini sudah berada di depanku dan mengulurkan buntalan plastik hitam padaku. Masih diliputi rasa heran bercampur kaget aku menerima saja pemberiannya.

Kulihat sekilas bapak tua itu. Dan tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya, ia nampak menyunggingkan senyum. Dibalik kulit wajahnya yang hitam dan berkeriput. Terlepas dari penampilannya yang membuat orang berprasangka buruk. Kurasakan ada keteduhan dibalik tatapannya yang dalam. Dan yang lebih mengagetkanku, bapak tua itu mengucapkan salam dengan fasihnya hingga hatiku bergetar sebelum akhirnya ia berlalu dari hadapanku.

Aku masih berdiri mematung. Seperti orang terhipnotis. Selang beberapa saat kemudian barulah aku sadar dan baru bisa menjawab salam bapak tua misterius itu. Kucoba membuka buntalan plastik hitam yang sedang kugengam. Tidak terduga sama sekali ternyata buntalan itu berisi sabun cuci pakaian. Ah, apakah ini hanya kebetulan saja ataukah memang ada pertanda lain yang harus kubaca dari peristiwa ini.

Sambil merenung, kutengadahkan wajahku jauh ke langit. Dan tak sengaja, pandanganku tertuju ke arah tulisan banner di seberang jalan. Kubaca dengan seksama tulisan yang tertera, “Marhaban ya Ramadhan, mari sucikan hati bersihkan jiwa di bulan penuh berkah”. Ah, aku sampai lupa bahwa sore ini adalah penghujung bulan Syaban dan dalam hitungan jam saja akan masuk bulan yang sangat mulia nan penuh berkah.

Babat, 29 Sya’ban 1440 H

*) Jadid Al Farisy, lahir di bantaran Bengawan Solo, Desa Kendal, Sekaran, Lamongan. Menulis puisi, cerpen, esai, geguritan. Beberapa karyanya tersiar di media Republika, Radar Bojonegoro, Iqro.id, Alif.id, Pesantren.id. Puisi dan cerpennya bisa dijumpai dalam antologi bersama: Bocah Luar Pagar, Ini Hari Sebuah Masjid Tumbuh di Kepala, Hikayat Daun yang Jatuh dan Muhasabah Warna. Buku tunggalnya: Kopi Kang Santri (cerpen), Aku Membacamu, Kekasih (puisi), Dialektika Akar Rumput (esai), Kawula Mung Saderma (geguritan). Pendidik di SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan, dan MI Ma’arif NU Islamiyah Kendal.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.