Sembilan Langkah Menulis Kritik Sastra, Menurut Maman S. Mahayana * –

oleh -135 views



Yohanes Sehandi **

Seseorang yang ingin mengabdikan diri dalam dunia kritik sastra, harus memiliki bekal yang cukup dan memadai agar karya kritik yang dihasilkan bermutu dan berwibawa. Dunia kritik sastra adalah dunia cendekia berolah sastra yang bergengsi, jalur bersastra tingkat tinggi. Jadi, harus bermutu dan berwibawa. Bekal yang cukup dan memadai itu, antara lain sudah terbiasa membaca banyak karya sastra dengan berbagai genre-nya, membaca banyak kritik sastra dari para kritikus sastra lain, berpikir kritis dan kreatif, menguasai sejumlah teori dan metode kritik sastra. Seorang kritikus juga tidak hanya memiliki bekal cukup dalam bidang literer (berkaitan dengan sastra), tetapi juga dalam bidang non-literer (dengan aspek kehidupan lainnya).

Menurut Suwardi Endraswara dalam buku Teori Kritik Sastra (2013, halaman 188), kewibawaan kritik sastra begantung pada dua hal, yaitu (1) siapa yang memberi kritik, figur tertentu dianggap lebih berwibawa kritiknya, misalkan dari segi senioritas, (2) kepiawaian seorang kritikus meyakinkan, mempertanggungjawabkan, dan memberi pencerahan kepada para pembaca dan untuk pengembangan sastra itu sendiri. Jika kedua hal itu dapat dipaparkan secara proporsional, tentu wibawa kritik sastra tidak akan diragukan.

Lebih lanjut Endraswara (2013, halaman 192) menyatakan, manakala kritikus mampu menampilkan karya-karya kritik yang tajam, disertai dengan teori yang memadai, kritik sastra itu akan semakin berbobot dan berwibawa. Sebaliknya, jika kritik sastra dilakukan secara acak-acakan, asal mengkritik, hanya akan meredahkan kritik sastra di mata kutub-kutub sastra. Kritik sastra jika dilaksanakan secara kasar, tanpa dasar, akan menurunkan bobot kritik sastra. Akhirnya, wibawa kritik sastra semakin terpuruk ketika kritik hanya memuat komentar-kometar tanpa dasar dan acuan yang jelas. Bahkan kritik demikian, suatu saat akan menjadi racun bagi pengembangan sastra dan kritik sastra itu sendiri.

Kritik sastra berguna bagi perkembangan sastra, karena dalam mengkritik, kritikus akan menunjukkan makna, nilai, dan fungsi dari suatu karya sastra untuk kehidupan. Kritikus bisa juga menunjukkan kebaruan, kelebihan, dan kekurangan dalam karya sastra tersebut, serta hal-hal apa saja yang belum sempat digarap sang sastrawan. Dengan demikian, sastrawan dapat belajar dari kritik sastra untuk lebih meningkatkan kecakapannya, kreativitas, corak, dan mutu karya sastranya. Dengan kata lain, kritik sastra yang dilakukan kritikus akan meningkatkan kualitas dan kreativitas sastrawan, pada gilirannya akan meningkatkan mutu karya sastranya.

Untuk dapat menghasilkan karya kritik sastra yang bermutu dan berwibawa, seorang kritikus atau siapa saja yang akan terjun dalam dunia kritik sastra yang bergengsi itu dan bertingkat tinggi itu, harus memiliki persiapa-persiapan sebelum menyusun kritik sastra. Persiapan-persiapan itulah yang disebut langkah-langkah menulis kritik sastra dalam artikel ini.

Maman S. Mahayana, seorang kritikus sastra Indonesia yang cukup produktif dan berwibawa pada saat ini, dalam tulisannya yang berjudul “Langkah Menuju (Praktik) Kritik Sastra” (dalam buku Kitab Kritik Sastra, 2015, halaman xxxi-xlv) menawarkan “Sembilan Langkah Mangkus dan Satu Jurus Pamungkas” dalam praktik kritik sastra. Seizin Maman S. Mahayana, berikut ringkasan sembilan langkah mangkus Mahayana berdasarkan pengalamannya sebagai kritikus sastra yang produktif. Mangkus yang dimaksudkan di sini adalah mustajab, mujarab, manjur, berhasil guna (KBBI, 2001, halaman 711). Sedangkan jurus pamungkas (jurus maut dan jitu) yang dimaksudkan Mahayana adalah “Selamat Mencoba!” (halaman xlv). Berikut ringkasan “Sembilan Langkah Mangkus dan Satu Jurus Pamungkas” Mahayana tersbut.

Pertama, baca tuntas karya sastra yang hendak dikritik. Karya sastra yang dibaca yang hendak kritik itu adalah karya sastra kreatif, seperti puisi, cerita pendek, buku antologi puisi, buku antologi cerita pendek, buku novel, naskah drama atau pementasan drama. Hindari jangan sampai membuat kritik sastra tanpa membaca sendiri karya sastra yang hendak dikritik. Kalau tetap nekad membuat kritik sastra berdasarkan konon kabarnya, artinya tidak membaca sendiri karya sastra yang dikritik itu, di samping tindakan itu mendustai hati nurani diri-sendiri, juga itu tindakan penipuan atau pembohongan publik.

Pada waktu membaca karya-karya sastra itu, harus dijaga netralitas terhadap jenis karya dan dari pengarang mana pun. Oleh karena itu, hindari sikap suka dan tidak suka, membuang jauh-jauh prasangka dan syakwasangka, jangan menyimpan pandangan apriori, yakni semacam usaha menyimpulkan sesuatu sebelum melakukan kajian terhadap objeknya. Hindari pula pemberhalaan berlebihan terhadap pendekatan, teori, dan metode kritik sastra. Simpan dahulu segala pengetahuan teoretis tentang unsur intrinsik karya sastra, tentang aspek ekstrinsik karya sastra, dan segala macam pendekatan, teori, dan metode kritik sastra.

Kedua, kritiklah karya sastra yang bisa dikritik. Kalau karya sastra itu bisa diapresiasi dan dimengerti, lakukan kritik terhadap karya itu. Tetapi, kalau karya itu tidak bisa diapresiasi, tidak dimengerti, tinggalkan karya itu, ganti dengan karya sastra yang lain. Pada waktu melakukan langkah pertama, yakni membaca tuntas karya sastra, kita akan mendapat dua kesan atas karya tersebut, yakni karya sastra itu dapat diapresiasi atau tidak. Kalau merasa karya sastra itu dapat diapresiasi, dimengerti, dihayati, dan ada sesuatu yang bermakna dan bernilai yang dapat diungkapkan kepada publik, ambil keputusan untuk menulis kritik terhadap karya sastra tersebut. Kalau tidak menangkap apa-apa dari karya tersebut, coba disimpan satu atau dua hari dulu, kemudian dibaca lagi, siapa tahu akan mendapatkan sesuatu yang tersembunyi yang bisa diungkapkan kepada publik. Kalau pada akhirnya, karya tersebut tetap tidak bisa diapresiasi, tinggalkan karya sastra tesebut, ganti dengan karya sastra lain, bisa dari pengarang yang sama bisa pula dari pengarang lain.

Hal seperti di atas seringkali terjadi. Ini hal biasa dalam menghadapi karya seni apapun. Jenis karya sastra yang sering sulit ditangkap maksudnya adalah karya sastra jenis puisi. Kalau karya sastra prosa, seperti novel dan cerpen masih bisa ditelusuri unsur-unsurnya karena disajikan dalam bentuk cerita dan tokoh cerita. Kalau kita mendapatkan pengalaman seperti ini, tidak perlu risau, karena memang ada karya sastra yang terang (bisa ditangkap dan digali maksudnya), ada pula karya sastra yang gelap (susah ditangkap maksudnya). Setiap pembaca, termasuk kritikus, biasa mengalami hal seperti itu. Kritiklah karya sastra yang bisa dikritik.

Ketiga, tandai dan catatlah bagian-bagian penting dari karya sastra yang dikritik. Dalam sebuah karya sastra, tidak semua bagian yang membentuk karya tersebut sama nilai dan kedudukannya, ada bagian penting, bagian setengah penting, ada pula bagian pelengkap. Tandai atau catat bagian-bagian penting apapun dari segenap unsur intrinsik yang kita anggap penting dan mengganggu pikiran dan perasaan kita. Jadi, jangan abaikan segala ungkapan, kata, istilah, kalimat atau peristiwa yang menarik perhatian yang terdapat dalam teks sastra. Perhatikan dengan saksama apa yang khas, yang menonjol, penting, meragukan, yang diduga sebagai sinyal-sinyal yang tampaknya digunakan pengarang dalam membangun tema atau membentuk estetika karya sastranya. Kita bisa pula membuat daftar pertanyaan yang kelak akan kita jawab sendiri dalam tulisan kritik kita. Dalam hal ini kita harus menjadi pembaca yang kritis. Kita perlu menandai dan mencatat hal-hal penting yang menarik perhatian.

Keempat, baca untuk kedua kalinya karya sastra yang hendak dikritik. Untuk menangkap secara mendetail makna, nilai, dan fungsi karya sastra yang hendak dikritik, proses pembacaan yang kedua kali atau bahkan ketiga kalinya sangat penting yang mungkin saja luput pada waktu pembacaan pertama. Dalam proses pembacaan kedua, tentu saja bagian-bagian yang sudah menempel dalam ingatan kita, bisa terlewatkan saja.

Fokus pembacaan kedua adalah memberi keyakinan bahwa pemaknaan atas karya tersebut yang diperoleh pada pebacaan pertama dapat dipertangungjawabkan. Jika kemudian ternyata pada pembacaaan kedua ini diperoleh makna atau nilai baru yang lebih terterima, bisa saja pemaknaan baru itulah yang menjadi sorotan dalam karya kritik yang hendak disusun. Di samping itu, membaca ulang untuk kedua kali atau ketiga kalinya, sesungguhnya untuk melatih diri berlaku telaten, cermat, dan tidak tergesa-gesa manakala kita seolah-olah menemukan hal baru. Jadi, banyak hal positif yang kita petik kalau kita membaca berulang-ulang, cermat, dan telaten, apalagi kalau sastra yang mau dikritik adalah jenis puisi.

Kelima, bandingkan karya sastra yang dikritik dengan karya sastra sejenis sesuai dengan konteksnya. Kalau kritik buku novel, coba bandingkan dengan novel yang lain, baik dari pengarang yang sama maupun dari pengarang lain. Di sini kita perlu menempatkan posisi karya sastra tersebut dengan karya sejenis sesuai dengan konteksnya, baik secara historis maupun secara sinkronis dan diakronis. Misalnya, apakah karya sastra itu secara tematis cenderung mengulangi tema karya sastra sejenis yang sudah ada sebelumnya atau menampilkan tema baru atau tema yang lebih rumit dan kompleks. Apakah karya sastra itu secara intrinsik menawarkan aspek baru atau kebaruan lainnya. Dengan demikian, kita bisa membuat pemetaan konteks karya sastra tersebut dalam perjalanan sejarah karya-karya sastra sejenis.

Hal lain adalah apakah pendekatan, teori, dan metode kritik sastra yang tersedia dapat diaplikasikan pada karya sastra tersebut. Kalau ya, apa jenis pendekatan, teori, dan metode yang pas untuk menganalisis karya sastra tersebut. Kalau tidak ada, apakah perlu mencari pendekatan, teori, dan metode kritik sastra yang lain. Atau perlu memanfaatkan disiplin ilmu lain untuk bisa menganalisis karya sastra tersebut. Setelah menempatkan karya sastra yang dikritik itu sesuai dengan konteksnya, maka langkah selanjutnya kita memilih jenis kritik yang kita pakai, apakah menulis jenis kritik sastra akademik atau jenis kritik sastra umum, jenis kritik absolut, kritik relatif, atau kritik perspektif.

Keenam, kalau memilih jenis kritik sastra akademik, siapkan perangkat keilmuan yang diperlukan. Perangkat keilmuan yang diperlukan dalam kritik sastra akademik (ilmiah) adalah pendekatan apa, teori apa, dan metode kritik sastra apa yang cocok dengan karya sastra yang dikritik. Kalau perangkat kritik sastra akademik itu tidak ditemukan dalam bidang kritik sastra, mungkin bisa dicari perangkat dari ilmu lain yang bersifat multidisiplin, misalnya pendekatan sosiologi sastra, psikologi sastra, antropologi sastra, dan lain-lain yang sesuai. Pada langkah ini, hal yang tak terhindarkan adalah mengutip bagian-bagian teks karya sastra yang diteliti itu sesuai dengan pendekatan, teori, dan metode yang digunakan untuk mengungkapan kekayaan teks karya sastra yang bersangkutan.

Ketujuh, kalau memilih jenis kritik sastra umum, lakukan sejumlah langkah apresiatif yang diperlukan. Langkah apresiatif yang dilakukan, antara lain membuat resume, sinopsis, atau ringkasan isi karya sastra yang dikritik, misalnya buku novel, buku cerpen, dan buku puisi. Jika buku novel yang dikritik, buatlah sinopsisnya sekitar 2-3 paragraf. Jika buku kumpulan cerpen, sebutkan berapa jumlah cerpen dan deskripsikan tema umum buku yang dikritik. Jika buku kumpulan puisi, sebutkan berapa jumlah puisi dan deskripsikan tema umum buku puisi tersebut.

Lakukan itu semua secara singkat, karena media pemuatan kritik sastra umum adalah media massa yang tidak terlalu panjang, baik media cetak maupun media sosial (online). Deskripsi singkat tersebut dilakukan agar para pembaca memperoleh gambaran serba sedikit tentang karya sastra tersebut. Bisa juga disertakan sejumlah hal yang menarik, khas, dan menonjol sebagai isyarat tentang kelebihan dan keunikan karya sastra tersebut. Setelah itu, buatlah penafsiran, analisis, dan penilaian atas keunggulan dan kelemahan karya sastra tesebut.

Kedelapan, susunlah kritik sastra dalam bentuk deskripsi, interpretasi, analisis, dan evaluasi. Pertama, deskripsi. Pada tahap ini kita perkenalkan karya sastra itu sebagaimana adanya, misalnya tentang data publikasi karya itu, biodata dan posisi pengarang, gambaran tentang bentuk dan isi karya tersebut secara garis besar. Tujuannya sebagai pengantar untuk mendapatkan gambaran umum sebelum memasuki tahapan interpretasi. Kedua, interpretasi. Pada tahap ini kita melakukan penafsiran atas bentuk dan isi karya sastra tersebut. Penafsiran tentu berdasarkan tangkapan dan persepsi kita terhadap karya tersebut. Ketiga, analisis. Pada tahap ini kita melakukan analisis atau penjelasan terhadap hasil interpretasi, tangkapan, dan persepsi kita terhadap karya tersebut. Antara interpretasi dan analisis bisa saling melengkapi, karena itu bisa saling mendahului. Baik tahapan interpretasi maupun analisis, merupakan bagian penting dalam praktik kritik sastra. Oleh karena itu, bagian interpretasi dan analisis ini perlu mendapat porsi lebih banyak dibandingkan dengan tahapan deskripsi (pertama) dan evaluasi (terakhir). Kedalaman dan kedangkalan penafsiran dan analisis seorang kritikus, merepresentasikan luas-ceteknya wawasan pengetahuan dan pengalamannya (Mahayana, 2015, halaman xliii). Keempat, evaluasi. Pada tahap ini kita memberikan penilaian atas keunggulan atau kekuatan dan kekurangan atau kelemahan karya sastra yang dikritik, yang tentu harus proporsional. Tentu saja, kita tidak perlu memaksakan diri untuk menilai unggul sebuah karya sastra kalau karyanya memang tidak unggul. Demikianpun sebaliknya, menilai serba kurang atas sebuah karya sastra padahal karya sastra itu ada keunggulannya juga.

Kesembilan, kutiplah teks karya sastra yang dikritik sebagai data dan alat bukti. Pengutipan teks karya sastra ini penting sekali dilakukan kritikus guna memperkuat deskripsi, interpretasi, analisis, dan evaluasi yang dibuat. Demikian pula penalaran dan argumentasi yang digunakan perlu menyertakan kutipan-kutipan dari sumber-sumber referensi yang kita gunakan. Kutipan-kutipan itu penting untuk memperkuat pendapat dan argumentasi kita. Yang berkaitan dengan pendekatan, teori, metode, dan referensi lain yang kita perlukan, sebaiknya dibuatkan kutipannya. Bahkan disiplin ilmu lain yang menunjang pendapat kita perlu kita kutip sebagai alat bantu guna meningkatkan bobot dan wibawa karya kritik sastra yang kita hasilkan.

Demikianlah sembilan langkah mangkus Maman S. Mahayana dalam praktik kritik sastra. Jurus pamungkas Mahayan adalah: selamat mencoba!
***


*) Diambil dari Yohanes Sehandi dalam buku Sastra Indonesia di NTT dalam Kritik dan Esai, Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2017, halaman 58-64).
**) Pengamat dan Kritikus Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.