Sepasang Mata untuk Perempuan –

oleh -105 views


Salman Rusydie Anwar
Pikiran Rakyat, 30 Juni 2007

Untuk malam yang kesekian kalinya, Indrian kembali mengeluarkan alat-alat lukisnya dari sebuah kardus bekas yang sudah lapuk. Ditatapnya kanvas yang terpancang di hadapannya. Lukisan yang tak selesai selama dua malam. Dan malam itu, ia berniat menyelesaikan lukisannya. Sebuah sketsa wajah perempuan yang acak. Lalu dia mendengus pelan.

Harus selesai. Harus sempurna,” ia berbisik kepada dirinya sendiri.

Di luar, malam semakin pekat. Di atas langit, rembulan berwarna putih perak. Kuncup daun cemara di kejauhan, bersepuh warna bulan. Sekali waktu sampai pula ke dalam telinganya suara-suara burung malam. Tidak, itu jelas burung hantu. Berkukuk-kukuk. Barangkali itulah suara-suara alam yang akan dinikmatinya malam itu sambil tangan kanannya menari pelan di atas kanvas.

Sebagai seorang pelukis, Indrian meyakini satu hal. Apa pun saja yang dilihat, didengar, dan dirasakan semuanya harus dinikmati sebagai sebuah inspirasi. Alam menyediakan segalanya untuk dibaca. Untuk dilukis.

“Ah. Ira. Kau tak ubahnya anak alam yang gesit untuk kutangkap dalam lukisanku.”

Lelaki kurus berambut panjang, seperti ciri khas kebanyakan orang sepertinya, itu masih terus asyik memindahkan lesatan-lesatan otaknya ke atas kanvas yang terlihat berwarna kuning keemasan ditimpa lampu dingklik yang berkeredip-keredip ditiup angin.

Namun selalu saja tangannya terhenti ketika ia bermaksud melukis kedua bola mata perempuan yang dipanggilnya Ira itu. Ia seperti tak memiliki kekuatan untuk menerjemahkan sorot mata perempuan itu ke dalam lukisannya. Dan karena itu ia menjadi sedikit kesal.

Dirogohnya saku celana yang telah sobek beberapa bagiannya. Mencari rokok, dan kemudian menjumputnya sebatang. Menyulutnya ke lampu dingklik karena tak ada korek di dekatnya. Api di ujung rokoknya menyala merah setelah ia mengisapnya keras-keras. Kemudian menghembuskan asap-asapnya sekeras ia menghisapnya. Asap bergulung-gulung di hadapannya sebelum terberai oleh angin.

Ditatapnya kembali lukisan wajah perempuan yang tak memiliki mata itu. Semuanya sudah hampir sempurna. Tinggal kau menyelesaikan bentuk kedua bola matanya, Indrian. Kemudian kau memberinya ruh pada tatapannya agar lukisanmu memiliki kesan sebagai lukisan yang hidup.

Lama Indrian memandang lukisannya. Kedua kakinya ia selonjorkan untuk melenturkan kembali otot-ototnya. Kedua tangannya ia lipat di depan dadanya yang tipis yang terbungkus oleh kaos dalam yang tak kalah tipis dengan dadanya. Sekali-sekali terlemparlah suara batuknya yang berat ke tengah-tengah malam. Sunyi yang menyergap membuat suara batuknya itu terlempar sampai jauh. Seperti memantul dari rerimbunan daun yang merunduk beku.

Sebatang rokoknya telah habis. Tak sepenuhnya dihisap. Melainkan dijumput sedikit-sedikit oleh angin yang lesau.

“Ira. Sebaiknya tak kulukis matamu di sini,” guman Indrian sambil meraba-raba bagian wajah yang hendak diisi dengan lukisan mata perempuan itu. Barangkali ada pasir yang akan mengganggu dan mengotori wajah perempuannya itu. Namun ia tak menemukan sebutir pasir pun di sana.

“Ya. Matamu tak akan aku lukis di sini. Sebab pada matamulah letak keindahanmu. Aku khawatir, jika sampai aku melukisnya, akan banyak orang yang menginginkan matamu sebagaimana aku pertama kali jatuh cinta kepadamu lewat mata itu,” Indrian kemudian tersenyum dan memasukkan kembali alat-alat lukisnya.

“Matamu hanya akan aku lukis di dalam ingatan dan mimpi-mimpiku.”

Demikian katanya sambil bergegas masuk kamar untuk berangkat tidur. Untuk malam yang kesekian ia gagal lagi menyelesaikan lukisannya. Namun ia merasa tak akan menyesal. Karena ia sudah memiliki alasan. Setidaknya alasan untuk dirinya sendiri.

Di atas amben tua tempat ia membaringkan tubuhnya yang kurus, Indrian tertegun sejenak. Ingatannya kembali terusik oleh lukisan mata kekasihnya yang tak selesai. Sepasang mata milik kekasihnya, tentu. Di kedua bola mata perempuan ia seperti melihat kelembutan yang selama ini tak dirasakan.

Betapa jujur mata perempuan mengungkap segalanya. Mata yang menyimpan kasih sayang yang tak bisa ia ukur. Tak bisa ia lukis lewat cat-cat berwarna. Betapa lelaki itu merindukan perempuannya malam itu. Lebih tepatnya ia merindukan untuk bisa melihat kedua bola matanya. Sejurus kemudian Indrian tersenyum sendiri.

Mengenangkan saat-saat ketika ia duduk berhadapan di salah satu tempat di taman kota. Menyelami kedua bola mata Ira. Perempuan yang saat ini berada di negeri jauh. Bertaruh keberuntungan. Indrian bangkit dan duduk di tepi amben yang terdengar berderit-derit parau menahan beban.

“Jangan cemaskan aku, Indrian. Aku bisa menjaga diriku untukmu,” kata Ira sebelum meninggalkannya.

“Tapi aku mengkhawatirkan matamu, Ira,” balas Indrian sambil menggenggam erat kedua tangan Ira dan matanya menyorot tajam ke dalam mata Ira.

Mendengar kata itu Ira tersenyum. Indrian gemas.

“Mataku tak pernah akan beranjak untuk melihat yang lain. Ia hanya akan melihat dirimu. Percayalah,” terdengar Ira meyakinkan lelaki di hadapannya.

Seekor cecak jatuh tepat di hadapan Indrian kemudian lari terbirit-birit dan menghilang ke bawah kolong yang tampak gelap. Indrian melirik jam dindingnya yang tak berkaca. Tepat jam sepuluh waktu itu. Sama dengan ketika ia berduaan dengan Ira di suatu taman menghabiskan malam terakhir sebelum kekasihnya itu pergi.

Indrian bergegas mendekati jendela dan membukanya. Di luar, terlihat bayang-bayang pohon yang tampak berwarna gelap. Rembulan sudah tak seterang waktu dia melukis tadi. Terlihat agak bergeser dan saat itu berada tepat di atas uwung-uwung rumahnya. Cukup lama ia di situ sebelum akhirnya ia memutuskan untuk keluar rumah.

Indrian berdiri tepat di tengah-tengah halaman rumahnya sambil menghadap ke arah barat. Tak jauh dari tempatnya berdiri, terdapat pohon mangga yang sudah dua tahun tak berbuah. Pohon itu sengaja tidak ia tebang dan hanya digunakan sebagai tempat ia berteduh sambil melukis pada siang yang panas. Sebentar kemudian Indrian menatap rembulan yang berada tepat di atasnya. Itu membuatnya bermandikan cahaya. Saat itu juga ia seperti melihat mata kekasihnya. Ya, mata kekasihnya itu seperti rembulan. Selalu menimpakan cahaya. Betapa sempurna perempuan yang memiliki mata rembulan. Yang bisa menatapnya dengan cahaya ketulusan yang begitu lembut.

Bukankah lebih baik jika ia melukis mata Ira dengan bentuk dua rembulan. Tentu saja begitu, pikir Indrian. Lagi pula ia tak mau mengingkari kalau mata kekasihnya itu seperti dua buah rembulan yang terpasang di wajahnya. Namun sebentar kemudian Indrian mengurungkan niatnya.

“Masihkah Ira menjaga kedua matanya untukku?”

Keraguan tiba-tiba menyergapnya. Tapi kenapa ia mesti meragukan perempuan. Bukankah makhluk itu dicipta tidak untuk disangsikan atau diragukan. Perempuan adalah makhluk yang memiliki kedekatan sifat dengan kelembutan dan kasih Tuhan. Dan setiap kelembutan atau kasih sayang tak pernah menyimpan pengkhianatan. Untuk apa ia meragukan Ira. Indrian kembali menatap rembulan itu.

Malam itu, Indrian seperti berada dalam kedamaian. Kedamaian seorang pecinta yang sedang merindukan kedua bola mata kekasihnya yang jauh di rantau. Begitu besarnya rasa rindunya sehingga ia berjanji akan melewatkan malam itu sambil menatap rembulan dan mengiringinya sampai benar-benar tenggelam di siang nanti. Betapa rembulan itu mampu mengingatkannya kepada Ira yang dicintainya.

“Silakan bermimpi tentang aku, Ira. Malam ini aku akan menjaga malammu di halaman ini. Setidaknya agar engkau tak pernah lupa bahwa aku masih berdiri menantimu,” Indrian bergumam. Dilipatnya kedua lengannya di atas dadanya yang tipis. Indrian seperti mengucapkan kalimat itu kepada malam dan angin. Dalam hati ia berharap semoga akan sampailah kata-katanya ke alam di mana kekasihnya berada.

Entah berapa lama Indrian berada di halaman itu. Duduk di atas kursi yang biasa ia gunakan sebagai tempat duduk jika sedang melukis. Namun waktu ia membuka kedua matanya, hari sudah nampak siang. Sepertinya aku tertidur, bisiknya. Ia mengangkat kedua tangannya sebelum mengusapkan telapaknya ke wajah.

Matanya kemudian menangkap sesuatu di atas meja yang terletak tak jauh dari hadapannya. Secarik amplop surat baru. Ia menengok ke semua arah berharap mengetahui siapa yang telah meletakkan surat itu tanpa membangunkannya terlebih dahulu. Namun keadaan masih sunyi. Dan sepertinya tak ada tanda-tanda kalau seseorang baru saja keluar dari halaman rumahnya.

Sejenak Indrian menatap surat itu. Tertera namanya di sana. Namun ia tak tahu siapa pengirimnya. Di bagian belakang amplop memang tertulis, Martin Hesse. Tapi Indrian merasa tak pernah kenal kepada orang yang memiliki nama seperti itu. Indrian membuka surat itu dan membacanya. Darahnya tersirap, pandangannya kabur, dan kemudian ia terjerembap ke atas kursinya kembali.

“Bagaimana mungkin Ira harus kehilangan kedua matanya. Apa yang terjadi?” Indrian seperti gelisah setelah membaca surat itu. Semula ia tak mau memercayai begitu saja isi surat yang menyatakan kalau kekasihnya tertimpa suatu kecelakaan yang membuat kedua matanya buta. Tidak, ini tak boleh terjadi. Apa pun alasannya aku tetap mengagumi kedua bola mata itu. Isi surat itu menjadikan Indrian seperti orang yang kehilangan kesadarannya.

Dengan langkah tergesa ia bergerak menuju toko yang tak jauh dari rumahnya. Ia bermaksud membalas surat itu. Ira harus segera mendapat balasan darinya. Sejurus kemudian ia sudah memegang selembar kertas yang sudah ia tulis, amplop yang sudah tertempel perangko kilat balasan, sebilah pisau dapur mengkilat. Surat yang baru saja ditulisnya sudah ia masukkan ke dalam amplop. Kemudian ia raih pisau itu dan menatap dengan agak lama kilatannya.

Pada pagi hari yang sunyi itu, sesuatu akan dimulai dalam hidup Indrian. Ia telah mengambil keputusan mantap akan apa yang harus ia lakukan pagi itu. Sebuah pengorbanan seorang kekasih akan ia buktikan pagi itu. Kemudian…

Crass….

Ujung pisau itu menancap di mata kanan Indrian. Dengan tangannya Indrian mencongkel mata kanannya dan mengeluarkannya. Darah mengalir melalui pipinya dan menggenang di atas perutnya. Namun ia tak peduli. Dipandu mata kirinya ia memasukkan bola matanya itu ke dalam kantong plastik. Betapa ia mengagumi bola matanya sendiri waktu itu. Namun sesudah itu ia kembali mengarahkan ujung pisaunya ke mata kirinya dan mencongkelnya dengan agak keras sehingga mata itu terlontar. Lepas dari tangannya.

Indrian meraba bola matanya yang satu. Ia mendapatkan bola mata itu tidak jauh dari kakinya dan terasalah kalau bola mata itu dipenuhi pasir. Perih kembali menyergap. Namun ia tahan sambil tangannya membersihkan pasir yang menempel di bola matanya. Tak ada yang bisa ia lihat saat itu kecuali gelap dan rasa perih yang ia tahan. Dengan kedua tangannya Indrian memasukkan kedua bola matanya ke dalam amplop dan merekatkannya dengan lem yang sudah ia sediakan. Lalu bergegas dengan langkah tertatih menuju kotak surat yang berada di pinggir jalan depan rumahnya.

Indrian kembali masuk ke dalam kamarnya dengan langkah yang meraba-raba.

“Ira. Aku sudah merasakan bagaimana rasanya kau kehilangan kedua matamu yang selama ini aku sanjung-sanjung. Namun jangan khawatir, sebentar lagi kau akan mendapatkan gantinya. Mata antara yang mencinta dan yang dicintai tak jauh berbeda. Jangan ragu. Pakailah mataku dan lekas kembalilah ke padaku. Aku akan segera menyelesaikan lukisan matamu dengan keadaanku yang sekarang. Keadaanku yang tak bisa melihat apa-apa, namun mengerti akan keindahan matamu yang sesungguhnya” kata Indrian sebelum merebahkan dirinya di atas amben.

Kini, semua yang dilihatnya hanyalah gelap. Indrian tersenyum. Ia telah berkorban, dan itu sempurna.
***

Yogyakarta, 2007.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.