Sosiawan Leak yang Hiruk Pikuk –

oleh -210 views


Haris Firdaus

Kamis malam (15/11/2007), suasana Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, menjadi hiruk pikuk. Malam itu, Sosiawan Leak, penyair asal Kota Bengawan, tampil membawakan puisi-puisinya. Diiringi Grup Musik Perkusi Temperente, Leak berusaha tampil memukau.

Seperti pertunjukan puisi pada umumnya, puisi malam itu tak hadir dengan suasana yang sepi, santun, dan dingin. Puisi hadir dengan banyak nada: teriakan, desahan, nyanyian, dan lain sebagainya. Puisi juga tak hadir sebagai sesuatu yang natural. Puisi harus hadir bersama sekian properti, sekian peralatan musik, dan sekian perlengkapan sound. Malam itu, sejak memutuskan nonton Leak mementaskan puisi-puisinya, saya sudah melupakan keinginan untuk mendapat sebuah suguhan puisi yang sederhana. Saya sudah tak berharap akan mendapat sajian puisi ala Joko Pinurbo yang sederhana, apa adanya, tapi justru menunjukkan kelebihan puisi sebagai teks.

Maka, sejak mula saya paham, bahwa barangkali dalam pentas malam itu akan saya dapati kenyataan yang “menyedihkan”: puisi sebagai teks barangkali akan tenggelam di tengah hiruk pikuk musik perkusi, di tengah desahan Leak dan goyangan erotisnya, serta ilustrasi gambar bergerak yang ditampilkan lewat LCD di tengah pentas. Saya paham itu, dan saya tak berharap banyak pada pentas macam itu.

Tapi bagaimanapun, pentas Leak malam itu tetap “menghibur”. Terutama karena, harus saya akui, penampilan Grup Temperente yang memang memukau. Penampilan solo mereka tanpa Leak beberapa saat sebelum pentas selesai, membuat saya hanyut dan kadang lupa bahwa malam itu adalah malam pentas puisi, bukan malam pentas musik perkusi. Saya memang bukan orang yang paham musik. Tapi mendengar Temperente beraksi solo, saya tahu bahwa saya mampu berdialog dengan musik mereka. Mereka seakan menarik saya pada satu kondisi di mana saya tak mampu menolak ajakan mereka.

Penampilan mereka yang enerjik, gebukan perkusi mereka yang seakan acak tapi menghasilkan nada yang harmonis, membuat saya ikut bergoyang dan manggut-manggut. Anak-anak muda yang masih terlihat belia itu tampak sebagai grup musik profesional. Penampilan mereka bukan saja menghibur, tapi juga membuat saya yang tak paham musik perkusi pun jadi takjub.

Saya kira, penampilan mereka adalah daya tarik tambahan bagi puisi-puisi Leak yang malam itu dipentaskan. Tanpa Temperente, saya tak tahu akan seperti apa pentas malam itu. Maka, puisi-puisi Leak yang saya duga sebenarnya “tak terlalu kuat sebagai teks” itu jadi lebih hidup walau kadang justru malah terdengar kalah memukau oleh aksi Temperente. Bagaimanapun juga, Leak sudah memutuskan: puisi-puisinya adalah “puisi panggung”. Ini terlihat dari judul pentas malam itu yang diberi embel-embel sebagai “Puisi Panggung”.

Saya tak tahu pasti apa yang dimaksud Leak sebagai “puisi panggung”. Tapi bagi saya, penyebutan itu seperti menjadi sebuah pengakuan bahwa puisi-puisi penyair itu memang harus tampil di panggung. Puisi-puisi macam itu mungkin tak akan jadi memukau bila tak hadir di panggung. Saya tak tahu, apakah ini sebuah genre baru atau tidak. Tapi saya kira tidak. Rendra sering disebut sebagai “penyair panggung”, terutama karena ia sering sekali tampil membacakan puisi di panggung dengan banyak sekali nada. Oleh seorang penulis, puisi-puisi Rendra seringkali dilawankan dengan puisi liriknya Goenawan Mohamad.

Puisi GM adalah puisi yang lebih pantas dibaca dalam sunyi, seorang diri, jauh dari hiruk pikuk sebuah pentas. Barangkali ini juga berkait dengan keyakinan GM bahwa puisi tak perlu dibacakan dalam sebuah pentas. Dan penyair, tak perlu dituntut jadi anak band yang harus bisa hadir sebagai penampil dalam sebuah panggung hiburan. Saya pernah dengar cerita ketika GM diundang ke Jerman untuk sebuah acara puisi, ia menolak membacakan puisi-puisinya ketika diminta oleh panitia. Konon, mantan Pemerd Tempo itu bilang: puisi bisa dibaca sendiri, tak perlu dibacakan.

Tentu saja, kita tak harus setuju pada GM. Puisi tetap saja sah hadir dalam pentas yang paling hiruk pikuk sekalipun. Bahkan penyair yang meniatkan membuat puisi hanya untuk dibaca di panggung pun, bukan suatu masalah yang besar. Dalam dunia puisi, boleh jadi keyakinan apapun tetap sah ada dan berkembang.

Maka, kita pun tak perlu menilai mana yang lebih baik: puisi di panggung, atau puisi di halaman buku. Sebab keduanya kadang bisa sama-sama menghibur. Joko Pinurbo pernah bilang bahwa ia “tidak bisa tampil di panggung”. “Saya hanya mampu tampil dalam puisi,” katanya ketika diwawancarai Endah Perca, seorang bloger yang maniak sastra.

Tapi saat melihat Jokpin di panggung, saya pun terpukau. Saya bisa hanyut kalau penyair kurus itu membaca puisinya. Padahal, ia membaca puisinya hampir tanpa nada, dengan intonasi tanpa penekanan, tanpa ekspresi yang memadai, dan tentu saja tanpa goyangan erotis apalagi adegan buka baju dan celana segala—seperti yang dilakukan Leak malam itu. Saya tak tahu kenapa saya bisa begitu terpukau dengan pentas macam itu. Mungkin, karena dalam “pentas ala Jokpin”, kita benar-benar disuguhi puisi. Bukan musik dan goyangan erotis, apalagi kartun porno yang disensor.

Sukoharjo, 16 Nopember 2007



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.