STATUS KEHADIRAN APRESIASI SASTRA (4) –

oleh -104 views


Djoko Saryono *

Meskipun dapat dilakukan secara komunal artau kolektif, apresiasi sastra bekerja secara subjektif, individual, internalistik, momentan, tanpa harus perlu dipandu oleh teori tertentu, dan tak evaluatif. Hal ini berarti bahwa kehadiran apresiasi sastra di tengah-tengah dunia (penghadapan) sastra bukan sebagai ilmu. Dikatakan demikian karena ilmu justru menuntut objektivitas, kolektivitas (sebab mesti bisa diuji oleh orang lain!), rasionalitas, dipergunakannya teori tertentu, dan evaluatif atau eksplanatif. Padahal semua ini tak bisa dipenuhi oleh apresiasi sastra. Meskipun demikian, kehadiran apresiasi sastra juga tidak dapat dikatakan sebagai keterampilan karena keterampilan selalu mekanistik, penuh keberulangan, dan cara-caranya tergolong baku. Padahal semua ini juga tak terdapat dalam apresiasi sastra. Hal ini menunjukkan bahwa apresiasi sastra bukanlah suatu ilmu dan bukan pula suatu keterampilan.

Jika demikian halnya, lalu kehadiran apresiasi sastra sebagai apa? Status kehadirannya bagaimana? Daripada distatusi sebagai ilmu atau keterampilan, kehadiran apresiasi sastra sesungguhnya lebih tepat distatusi sebagai seni atau kiat, art. Mengapa demikian? Beberapa alasan dapat dikemukakan sebagai berikut.

1) Secara primer terbukti apresiasi sastra dapat berlangsung tanpa harus disangga oleh teori tertentu. Asalkan ada kemauan, kesudian, kesungguhan, dan itikad baik pengapresiasi (bisa dibaca: apresiator), maka apresiasi sastra sudah dapat berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pengapresiasi tidak harus menguasai suatu teori sastra dan atau teori apresiasi sastra lebih dahulu sebelum dia berhak mengapresiasi sastra.

2) Secara sekunder apresiasi sastra dapat berlangsung dengan ditopang oleh teori tertentu baik teori apresiasi sastra maupun teori sastra. Meskipun bukan conditio sin qua non, teori linguistik, stilistika, estetika resepsi, formalisme, dekonstruksionisme, feminisme, dan sebagainya bisa membantu berlangsungnya apresiasi sastra. Keberlangsungan apresiasi sastra yang ditopang oleh teori tertentu ini sesungguhnya merupakan kelanjutan apresiasi sastra taraf literary enjoyment.

3) Meskipun apresiasi sastra berlangsung secara individual, subjektif, dan momentan, percobaan terus-menerus dan berulang-ulang dapat memantapkan keberlangsungan apresiasi sastra. Jika melisankan (poetry reading) Jante Arkidam (Ajip Rosidi), kita bisa berlatih melisankan secara berulang-ulang dan terus-menerus sambil mencari kemungkinan-kemungkinan terbaik pelisanan Jante Arkidam itu.

4) Perwujudan kegiatan apresiasi sastra bisa bermacam-macam darisatu saat ke saat lain dan dari satu orang ke orang lain walaupun sastra yang diapresiasi sama dan dengan latihan-latihan yang sama pula. Meskipun Rindang Kasih dan Teduh Bumi (bukan nama sebenarnya), misalnya, terus berlatih melisankan puisi Suta Mencari Bapa (W.S. Rendra) dengan cara yang sama, pelisanan atau pembacaan keduanya dapat dipastikan berbeda; bahkan pelisanan Rindang Kasih (bukan nama sebenarnya) atas puisi Suta Mencari Bapa pada kemarin dan hari ini berbeda meskipun orangnya sama.

Dengan keempat alasan tersebut di atas, sekali lagi, kita dapat menegaskan bahwa status kehadiran apresiasi sastra adalah sebagai kiat atau seni, bukan ilmu atau keterampilan semata-mata. Sebagai suatu kiat, apresiasi sastra tentulah mengandung unsur-unsur ilmu dan unsur-unsur keterampilan; dapat dikatakan merupakan pemaduan dan pengkristalan unsur ilmu dan keterampilan. Ini menunjukkan bahwa dalam apresiasi sastra ada unsur-unsur yang bisa dipelajari dan unsur-unsur yang harus dilatih. Unsur-unsur yang bisa dipelajari bisa dikuasai dengan membaca berbagai buku yang berkenaan dan berhubungan dengan apresiasi sastra. Unsur-unsur yang harus dilatih hanya bisa dikuasai dengan jalan bergelut dan bergumul dengan berbagai hal yang berkenaan dan berhubungan dengan apresiasi sastra. Hal ini berarti bahwa terdapat aspek keberencanaan pada unsur yang bisa dipelajari dan aspek kesopansantunan-kepekaan pada unsur yang harus dipelajari.

Bersambung 5…


*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.