SUATU MALAM DI NDALEM KIAI SUTARA –

oleh -42 views


Taufiq Wr. Hidayat *

Pada suatu senja, menjelang berbuka puasa di sebuah masjid, datanglah orang asing. Dengan tenang, ia menghembuskan asap rokoknya di antara orang-orang yang tengah kehausan menunggu datangnya waktu berbuka. Si orang asing menghabiskan rokoknya, lalu menghempaskan puntung rokoknya itu ke tanah. Orang-orang yang menunggu waktu berbuka memandangnya kurang suka. Diam-diam di dalam dada mereka mengutuki orang asing tidak sopan, dan tidak puasa.

Tak lama kemudian, suara penanda berbuka puasa berbunyi. Orang-orang yang berpuasa buru-buru meneguk es teh atau minuman segar lainnya. Setelah itu, masing-masing pulang. Lalu memakan makanan yang terhidang di meja dengan selahap-lahapnya. Semua jenis makanan tersedia.

“Lalu apa gunanya kalian berpuasa jika kepribadian kalian tidak berpuasa? Jika urusan makan dan minum hanya berganti waktu saja?” tanya Kiai Sutara mengakhiri ceritanya.

“Ampun, Kiai. Lalu bagaimana dengan orang yang justru tidak berpuasa tadi?” tanya saya.

“Goblok! Sebagai santri, kamu harus menyadari kegoblokanmu. Ingat, kalau kamu pintar dan baik, yang akan dipuji adalah dirimu atau orang tuamu. Tapi kalau kamu guoblok, maka yang akan dihina dan dicaci-maki adalah kiaimu. Jadi rubah cara pandang keagamaanmu yang sontoloyo itu. Sebab tidak mudah jadi kiai. Kiai yang sejati itu, kalau ada manfaatnya yang luar biasa, bayarannya hanya terima kasih atau sedekah seadanya. Tapi kalau ada santri goblok kayak kamu, orang akan mengutuk kiainya, dianggap gak becus mendidik santrinya. Tidak gampang jadi kiai. Apalagi jadi nabi, gak gampang! Jadi kalau ada orang yang ngaku-ngaku nabi, suruh ke sini, saya akan perkenalkan sama kamu yang serba goblok dalam memandang kehidupan, saya jamin akan rontok rambutnya! Hahaha!” Kiai Sutara tertawa. Giginya terlihat putih dan tidak rapi.

“Ampun, Kiai. Lantas bagaimana seharusnya memperlakukan orang tidak puasa?”

“Mau apa kamu? Sudah biarkan saja. Kamu mau puasa terserah kamu, orang lain gak puasa juga terserah dia. Agama itu kepribadian, pakai dan tegakkan sendiri dalam hidupmu.”

“Baik, Kiai.”

“Pengertian tiap orang itu berbeda. Keimanan tiap orang pun tidak sama. Mau beriman atau tidak beriman, serahkan saja sama pilihan masing-masing. Bahwa yang penting adalah sikap kemanusiaanmu.”

“Apakah Tuhan tidak murka sama orang yang tidak beriman, Kiai?”

“Santri dengkul! Memang susah memasukkan ilmu pada santri dengkul kayak kamu. Apalagi gak punya “akhlak ilmu”. Ilmumu gak ada apa-apanya, akhlak ilmumu pun gak ada. Kepribadianmu rendah. Kau merasa serba salah, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya kau banyak melakukan kesalahan. Ingat, santri dengkul. Tuhan seperti apa yang kamu imani sampai pakai marah-marah sama makhluk-Nya?”

“Tuhan menurut agama yang saya anut, Kiai.”

“Lempar sandal mulutmu tahu rasa!”

“Ampuuun, Kiai.”

“Dengar baik-baik. Pasang kepalamu. Bukan dengkulmu! Menimba ilmu modal dengkul dan rokok, ya kayak kamu itu. Susah jadi manusia. Ada Tuhan-sejarah, yang lalu menjelma Tuhan-bahasa. Tuhan-sejarah itu diurai dari sudut pandang, pikiran, dan fakta-fakta yang diungkap huruf, penanda, dan kaidah. Tuhan yang terjebak dalam sejarah, dalam bahasa manusia.”

“Apakah bahasa sebagai alat komunikasi selamanya dapat menegakkan sesuatu yang mutlak dari kehendak dan keinginan manusia dalam perikatan sosialnya? Ketika hidup belaka dimaknai keberkuasaan terhadap yang lain, ikatan sosial itu menjadi rawan. Orang gemar memperkarakan sesuatu yang tak penting dan menyeretnya pada keadaan yang genting. Dunia yang lebay.”

“Dalam sejarah, orang tiada henti mengulang-ulang kekejian terhadap kemanusiaan atasnama Tuhan dan agama. Tuhan yang dipuja-puja dalam sejarah selalu luput dari rengkuhan manusia dalam perang, bahagia, bahkan derita. Toh benturan dan chaos tetap terjadi. Bahasa perihal Tuhan, seringkali terjebak “perseteruan” tiada akhir, sejak “transendensi”-nya Habermas hingga “imanensi”-nya Marx dan sang konstruktivis Gilles Deleuze. Sampai di sini, apakah kepalamu masih berada di tempatnya, santri modal dengkul?”

“Ampun, Kiai.”

Sebagai santri, saya tak berkutik di hadapan Kiai Sutara. Tidak ada pilihan lain selain mendengarkan beliau dhawuh. Sebab saya akui kedengkulan saya sendiri. Kiai Sutara meneguk kopi pahitnya yang kental. Lalu menghempaskan asap rokok dari bibirnya yang tebal kehitaman. Suara-suara surau malam itu terdengar sayup di telinga saya.

“Santi modal dengkul tidak akan sampai pada kedalaman. Sebab akhlak ilmunya gak dipakai. Sehingga hanya pandai mengembik kayak kambing. Hahaha!”

“Ampun, Kiai.”

“Dengar, santri! Pasang telingamu sebelum telinga itu diminta pertanggungjawabannya.”

“Baik, Kiai.”

“Lalu manusia menanti, juga mencari apa yang tak mungkin selesai. Di tengah setiap penantian dan pencarian sejarah, manusia bercakap-cakap perihal yang dinanti. Tapi ketika komunikasi yang dihantarkan bahasa mengalami keruntuhan, di situlah chaos. Samuell Beckett menulis sebuah dramanya yang mashur “Waiting for Godot”. Mungkin ia mau tanya; kenapa Tuhan gak datang dalam penantian-penantian manusia yang panjang, absurd, dan membosankan? Di sisi itu, bahasa tak menjadi mutlak dalam menegakkan kesepakatan atau kehendak-kehendak manusia. Sedang Tuhan yang kamu jelaskan melalui bahasa dan sejarah, tegak dengan keanekaragaman dengan ribuan perbedaan yang mengherankan. Dan bahasa tentang-Nya seringkali memancar bias makna, gampang dibawa dan dipakai ke mana saja dan apa saja. Itu menjadi bukti, betapa rapuh bahasa di hadapan-Nya. Hal ini meniscayakan, bahwa wahyu sejatinya membutuhkan tafsir yang tidak tunggal. Agar manusia menyiasati perjalanan hidup dalam setiap khazanah ruang dan waktu yang selalu berubah, yang kontekstual.”

Kiai Sutara melanjutkan dhawuhnya bersama asap rokok yang terus mengepul nikmat dari bibirnya.

“Tuhan-sejarah dan kemudian terdefinisikan dalam Tuhan-bahasa, mengharuskan kearifan. Itu puncaknya ilmu, yakni kearifan yang menjelma perilaku yang baik yang memegang teguh nilai kemanusiaan. Sehingga pelbagai ketentuan perihal Tuhan tak menciptakan benturan dan pertentangan dalam segala perbedaan.”

“Sejarah, juga bahasa yang menjadi penanda puncak kebudayaan umat manusia, tak mungkin meraih-Nya. Tapi sifat kasih-sayang, cinta, dan kedamaian adalah “bahasa universal” untuk mengenal-Nya, mengarifi-Nya dalam kebersamaan yang hangat dan mesra. Tanpa itu, Tuhan dan agama cuma menjadi alasan perpecahan, kebencian, kecurigaan-kecurigaan, segudang tuduhan, ketegangan sosial yang tidak penting dan percuma! Dalam khazanah Islam, mengarifi-Nya berpulang pada diri. Kesadaran terhadap diri yang tiada daya dan upaya, yang daif dan penuh kekurangan, akan membawa pada kearifan seorang manusia beserta segala perangkat sosial-sejarah yang melekatinya. Inilah “man arafah nafsahu”. Ia terampil melampaui segala perbedaan dan pertentangan demi meraih kebersamaan dalam kasih-sayang dan kedamaian. Mengarifi-Nya dengan segala ilmu dan pengertian memulangkan seseorang pada ketaksanggupannya meraih-Nya, sebab Dia “la-harfin wa la-shautin” (tak berhuruf tak bersuara). Ini, dalam khazanah Islam, disebut “arif billah” (mengenali Tuhan) yang menyimpan keharusan mengarifi atau mengenali kemanusiaan dengan cinta dan kasih-sayang.”

Terdiam sejenak. Asap rokok yang wangi. Kiai Sutara meneguk kembali kopi pahitnya.

“Apa kepalamu masih di tempatnya?”

“Ampun. Masih, Kiai,” jawab saya gugup.

“Hahaha!”

Kiai Sutara tertawa renyah dan putih sekali.

Tembokrejo, 2021

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *