Tak Ada Skandal pada Abad Ini –

oleh -21 views


Bre Redana *
Kompas, 15 Des 2019

Saya tidak ingin dikenang untuk One Hundred Years of Solitude, tidak pula untuk penghargaan Nobel, tetapi untuk koran. Saya lahir sebagai wartawan dan sekarang ini lebih dari segalanya saya adalah seorang reporter. Itu ada dalam darah saya.

Itulah yang diucapkan Gabriel Garcia Marquez (1927-2014), penulis yang harus diketahui semua orang, kecuali penulis yang buruk. Lima tahun setelah kepergiannya, versi bahasa Inggris kumpulan laporannya di koran-koran berbahasa Spanyol muncul, judulnya The Scandal of the Century and Other Writings Gabriel Garcia Marquez.

Meski kurang punya arti apa-apa, pergantian tahun sering membuat saya sendu. Yang saya rasakan belakangan terutama bukan tahun yang berlalu, melainkan abad yang berlalu. Dalam pengalaman subyektif dinosaurus nonmilenial seperti saya, kemanusiaan telah berhenti pada abad lalu. Semua berlangsung pada abad itu: sukses penemuan pesawat terbang; Perang Dingin; manusia menginjak bulan; Marshall McLuhan; Audrey Hepburn; rock ’n’ roll; women’s liberation movement; post modernism di mana saya selamat melampauinya; dan seterusnya.

Kini, pada era pasca-kebenaran di mana jurnalisme saya ragukan masa depannya, saya termangu-mangu teringat Gabriel Garcia Marquez—atau Gabo, begitu masyarakat Hispanik memanggilnya dengan sebutan sayang—yang pernah mengatakan: jurnalisme adalah pekerjaan terbaik di dunia.

Pada abad yang saya kenang dengan sendu seperti saya katakan di atas, kebohongan adalah skandal besar. Di antara puluhan tulisan jurnalistik Gabo, laporan yang menjadi judul buku, The Scandal of the Century, melaporkan sangat rinci peristiwa tewasnya seorang gadis di Eropa. Gabo, kelahiran Kolombia, dalam kariernya sebagai wartawan memang pernah menjadi koresponden di Eropa bagi koran-koran Amerika Latin.

Laporan tersebut merupakan tulisan berseri, dimuat di koran El Espectador, Bogota, 17 September dan 19-30 September 1955. Dikumpulkan menjadi satu, sebagai laporan jurnalistik tulisan ini menjadi sangat panjang, menyerupai novelet. Bentuknya sendiri mirip novelet, detail penggambarannya, mencekam alur dramatiknya, kaya nuansanya: saya selalu kehabisan kata-kata superlatif untuk menggambarkan karya-karya Gabo.

Tulisan dimulai dengan kisah suatu malam, Kamis, 9 April 1953, ketika seorang tukang kayu bernama Rodolfo Montesi menanti putrinya, Wilma, yang tak kunjung pulang. Tak kalah dibandingkan dengan drama Garcia Lorca, dari situ imajinasi kita dibawa pada kehidupan keluarga di Roma, yang putrinya, Wilma Montesi, akhirnya tak pernah kembali lagi. Wilma diketemukan mati di pinggir pantai yang sepi di daerah Ostia.

Karya berseri Gabo yang terbit September 1955, di belahan dunia lain dari tempat kejadian peristiwa, lebih dari dua tahun terhitung sejak tewasnya sang dara, bagaimana kalian nalar aktualitas serta proximity-nya dengan kacamata zaman ini? Zaman yang bergegas, gerak jempol melebihi kecepatan pikiran, dengan kata lain manusia berucap tanpa berpikir? Jangan berkecil hati, tak masalah, kita rakyat jelata tak memahaminya. Bahkan, pimpinan negeri barangkali juga tak mudeng. Baginya percepatan dan intelegensia buatan atau artificial intelligence lebih penting.

Seiring abad yang berlalu, makin sadarlah kita beberapa hal telah hilang, seperti keperluan observasi, berpikir, berkontemplasi untuk mengenali suatu kejadian, peristiwa, lingkungan, dan pada akhirnya usaha mengenali diri sendiri.

Dalam laporan jurnalistiknya, Gabo menguraikan perkembangan menyangkut tewasnya Wilma Montesi, teka-teki kepergiannya, cerita keluarganya, laporan polisi, persidangan, mengapa kuteksnya terkelupas, kalau bunuh diri kenapa dia pergi dengan membawa kunci rumah, dan sebagainya. Dalam kasus ini, terbukti betapa banyak orang berbohong, dari keluarga, saksi, hingga kartel narkotik yang kemungkinan terlibat. Kebohongan itulah yang dirumuskan oleh Gabo sebagai skandal abad itu.

Bagaimana dengan abad ini? Tak ada skandal abad ini karena kebohongan telah dianggap lumrah. Selamat menyambut tahun baru.
***

*) Bre Redana atau Don Sabdono, penulis kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, 27 November 1957. Lulusan dari Jurusan Sastra Inggris di Universitas Satya Wacana, Salatiga (1957), dan pernah belajar jurnalisme di School of Jounalism and Media Studies, Darlington, Inggris (1990–1991). Ia dikenal dari tulisan-tulisannya yang mengangkat tema kaum urban dan pergelutannya, seperti Urban Sensation (1993), Dongeng untuk seorang wanita (1999), dan Sarabande (2002).



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *