TANDA CINTA DALAM SEPOTONG TANGAN RATIH KUMALA –

oleh -97 views


Anton Wahyudi *

Ada ungkapan klasik yang menyatakan bahwa sastra dipandang sebagai suatu bentuk filsafat, karena pemikirannya yang hebat! Sebagai karya seni imajinatif (teks), satu pernyataan inilah yang kerap kali mendorong pemikiran saya untuk bisa memaknai substansi teks sastra secara mendalam dalam konteks ilmu pengetahuan.

Secara garis besar, peristiwa membaca sastra (teks) bagi saya (sebagai pembaca), ibarat memahami secara eksplisit tentang pesona air yang selalu mengalir di sungai. Sastra adalah sebuah karya seni imajinatif, melalui medium teks (bahasa), yang juga mempunyai letak atau posisi tertinggi dibandingkan dengan karya seni lainnya; entah seni rupa, seni pahat, seni tari, film, dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Ya karena sastra adalah teks imajinatif!
***

Membaca buku “20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008”, pada bagian pengantar awal sengaja saya baca dan pahami untuk yang pertama kali, terutama tulisan Budi Darma yang pada awalnya saya kira sebagai ‘semacam’ prolog Ketua Juri prosa (cerpen).

Dalam diam menduga diselingi ketidaktahuan awal, saya memang berkeinginan bisa mengetahui tentang alasan yang mendasar mengapa 20 cerpen itu dianggap terpilih dan dianggap sebagai cerpen-cerpen terbaik di tahun 2008. Dianggap paling terbaik di antara ratusan cerpen lain yang terpublish di berbagai media cetak (koran) se–Indonesia. Akan tetapi, pada pagi-pagi sekali Budi Darma tengah membatasi pengantar itu dengan mengatakan apa yang sudah ditulisnya sebagai pengantar cerpen, yang tulisannya selalu dianggapnya sebagai jendela terbuka.

Pada saat pembacaan teks sastra kitalah yang disuruh mengintip sendiri-sendiri, melalui jendela terbukanya itu, untuk menilai cerpen-cerpen yang sudah dinyatakan terpilih atau menjadi pilihan terbaik. Jadi, sesaat itulah saya baru bisa meyakini jikalau tulisan Budi Darma itu memang benar-benar sebuah catatan pengantar awal, yang juga bukan saya katakan semacam tulisan atau penilaian sebagai pertanggungjawaban atas penjurian.

Sebenarnya apa yang ingin saya tegaskan terlebih dahulu dari ilustrasi awal ini hanyalah satu kesadaran sikap: bahwa setiap karya terbaik pada dasarnya masih selalu bisa menyisakan keraguan dan pertanyaan. Artinya, karya-karya sastra yang dianggap terbaik oleh orang lain boleh jadi bukan karya-karya yang sudah dianugerahi cap penghargaan semata. Akan tetapi, di sinilah sesungguhnya letak keindahannya —bahwa setiap karya yang dianggap terbaik akan selalu menyediakan ruang bagi kita untuk selalu terus bertanya: selalu mempertanyakan, memperdebatkan, dan selalu ingin mengkajinya. Sehingga, sudah barang tentu ketika mengkaji sebuah karya sastra kita akan selalu menemukan ketidakpuasan tentang materi atau isi. Terlebih-lebih tentang ketidakpuasan pada sistem atau cara kompetisi yang dipilih.

Dan sebelum membaca “Sepotong Tangan”, pada bagian awal membaca saya sengaja menyinggung perihal tulisan Budi Darma, yang memang menjadi semacam catatan yang mewakili Dewan Juri. Budi Darma pada dasarnya memang tidak ingin memasuki wilayah diskursif penilaian. Sebuah wilayah khusus yang memang bisa jadi akan menjadi lorong panjang pendebatan yang tak berkesudahan. Menyadari relativitas nilai estetis karya sastra yang rupa-rupanya menjadi jalan yang dipilih untuk menghindarinya.

Tetapi, hal sederhana itulah yang juga (seolah-olah) memperlihatkan suatu upaya Budi Darma menghindarkan diri dari keharusan dalam memberikan penjelasan, paparan, atau lebih tegasnya: pertanggungjawaban atas proses arif kerja penjurian.

Membaca salah satu cerpen yang masuk dan terpilih sebagai cerpen terbaik berjudul “Sepotong Tangan” karya Ratih Kumala, saya sedikit teringat pernyataan dari seorang kritikus sastra Indonesia: Ignas Kleden. Sebagai seorang sosiolog dan budayawan dalam perbincangan tentang kesusastraan Indonesia saat itu, saya ingat betul Ignas menyatakan bahwa di dalam penulisan karya sastra, kita (sebagai pembaca karya sastra) bisa melihat atau memandang tiga hal dalam karya sastra (1) apakah pengarang yang bercerita?, (2) apakah cerita yang bercerita?, dan (3) atau apakah suasana yang bercerita?

Nah, jikalau saya harus memilih salah satu dari ketiga hal tersebut, di dalam cerpen “Sepotong Tangan” karya Ratih Kumala ini saya melihat satu hal yang sangat menarik —bahwa cerita yang diungkapkan di sana tidak begitu penting. Saya merasa nampaknya penulis cerita sama sekali menyembunyikan dirinya. Ya, sebuah konteks mendasar tentang objektivitas pengarang dalam kekaryaannya. Saya melihat di dalam “Sepotong Tangan” Ratih Kumala yang bercerita secara keseluruhan adalah suasana. Dan, suasana yang diciptakan oleh Ratih Kumala melalui “Sepotong Tangan”nya itu begitu terbuka, sehingga saya (sebagai penikmat atau pembaca) menjadi betul-betul mempunyai kebebasan untuk menafsirkan cerita itu dengan sangat leluasa.
***

Seperti layaknya dalam suasana tidur yang masih nyenyak, saya merasa dengan spontan Ratih Kumala telah menarik tangan dan mengajak saya untuk mendokumentasikan sebuah peristiwa. Lalu, dengan sendirinya saya dituntut untuk melukiskan perjuangan dan konflik-konflik yang timbul didalamnya. Konflik dan jalinan peristiwa yang saya rasa begitu otentik. Sehingga pada hasil akhirnya, mata yang tadinya masih terkantuk-kantuk dan baru tersadar dari tidur nyenyak mendadak terbelalak dan menyala.

Saya merasakan dalam separuh kesadaran dan ketidaksengajaan Ratih Kumala memberikan sebuah petunjuk tentang sikap yang terbuka, memberikan kemungkinan yang sangat demokratis kepada saya bahwa dalam hidup ini seseorang bisa memilih keputusan dengan kesadarannya sendiri dan bebas menerima risiko sesuai dengan apa yang sudah diperkirakannya. Pada pendokumentasian peristiwa itu dia sangat tahu betul bahwa dalam diam-diam dan secara otentik saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan-pertanyaan yang saya buat-buat sendiri, yang pada akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu menuntut saya untuk menjawab semuanya.

Dalam sekejap dan berpikir yang berulang-ulang saya ingat bahwa saya telah mendokumentasikan beberapa peristiwa penting itu di memori otak saya. Salah satunya peristiwa tentang dia yang mengatakan, “Sayang, kita harus keluar dan cari pertolongan. Dalam sekejap dia keluar dan minta tolong kepada seseorang, tetapi pertama-tama ada yang harus dia lakukan terlebih dulu karena tak mungkin dia sanggup bepergian sendirian. Selama ini dia selalu bepergian dengan istrinya, saling berpegangan tangan. Dia menuju gudang. Mengambil gergaji mesin, lalu kembali ke kamar” (prg. 8, hlm. 168).

Tampaknya di situlah salah satu pendokumentasian di memori otak saya yang menjadikan beberapa pertanyaan, yang sampai pada akhirnya saya sendiri yang harus bisa segera menjawabnya. Di sinilah, “Sepotong Tangan” berusaha mengontrol pikiran saya; dan mengarahkannya langsung ke semua pihak, termasuk mengarahkan juga pikiran orang-orang yang ada di dalamnya: saya katakan saja ada adik ipar istrinya, anak-anak adik ipar istrinya, penduduk atau orang-orang yang ada di sekitar rumah adik ipar istrinya, dan polisi-polisi di kantor polisi yang mengintrogasi, serta wartawan-wartawan dari beberapa media yang dengan semangatnya meliput peristiwa itu.

Nah, ternyata bukan hanya saya sendiri (sebagai pembaca) yang dituntut untuk berpikir tentang peristiwa itu, akan tetapi semuanya (termasuk tokoh-tokoh lain yang ada di cerita) dihadapkan langsung oleh Ratih Kumala untuk segera berpikir dan mencari titik akhir permasalahan atau penyebab dari mengapa lelaki tua itu memotong lengan tangan kanan istrinya yang sudah meninggal dunia.

Saya jadi berpikir secara mendalam: sungguh tragis dan ironisnya kejadian itu.

Menelusuri setiap bagian ceritanya, dari awal tampaknya saya sudah disuguhkan sebuah gambaran tentang arti penting dan bermaknanya sebuah ikatan, sebuah ikatan (cincin) suami-istri yang baginya akan selamanya dianggap utuh walaupun disadari ada hal yang dikhawatirkan bisa memisahkannya. Sepintas, saya merasa hati ini menjadi begitu miris, begitu takjub dengan sebuah keadaan yang semacam itu. Di atas semua peristiwa itu, ada satu yang tak pernah berubah, ‘mereka tak pernah bosan untuk berpegangan tangan’. Ranjang bisa saja berubah dingin, sedingin ubin, tapi tangan mereka yang tak lepas paut tetap membuat hati keduanya hangat.

Tiga puluh tujuh tahun, dan tak satu anak pun yang lahir dari rahim sang istri. Mereka sudah melewati tahun-tahun saat perempuan tua itu mengutuki dirinya sendiri atas ketakkunjungan dirinya berbadan dua. Ada saat sang istri tak hendak melepas genggaman suaminya, mengikuti ke mana pun lelaki itu pergi. Kekhawatirannya akan kemungkinan lelaki itu menjadi berpaling ke perempuan yang lebih muda-dan lebih subur-sempat membuncah. Toh lelaki itu tetap membiarkan istrinya menggenggam tangannya, membuat cincin kawin keduanya beradu, menjadikan tangan mereka basah keringat, dan lelaki itu justru lebih erat lagi menggenggam tangan istrinya (prg. 4, hlm. 166).

Jalinan kata yang diungkapkan Ratih ini memaknai dalam tentang Sepotong Tangan. Sepotong Tangan yang memuat pemikiran mendalam, yang mempunyai arti dan makna besar terhadap pembacanya.
***

Pada dasarnya pembaca harus bisa memahami dan memaknai benar arti dan pentingnya sebuah ikatan. Kedua cincin yang beradu dari kedua genggaman tangan itulah yang menjadikan simbol utuhnya jalinan kasih keduanya hingga tiga puluh tujuh tahun membina mahligai rumah tangga, walaupun sampai pada kenyataannya keduanya belum dikaruniai satu pun anak dari Sang Pencipta.

Di bagian tengah cerita, seperti yang saya kemukakan di atas sebelumnya, saya bisa mendokumentasikan munculnya satu konflik otentik. Sebuah konflik batin yang begitu kuat dari seorang lelaki tua yang baru saja ditinggalkan istri yang selama ini dicintainya. Sebuah keadaan yang tragis, yang dialami oleh lelaki tua itu, bahwa betapa rasa kehilangan, rasa kepanikan dan kebingungan dihadapkan pada posisinya sesaat itu (saat sesudah mengetahui istrinya sudah tak bernyawa lagi).

Bagi saya, itulah sebuah wujud bahwa selamanya seorang suami (dalam hal ini lelaki tua itu) tidak akan bisa lepas dari seorang istri. Sebuah keadaan tentang rasa kehilangan bisa saya lihat dari hal yang menjadi sebuah keterbiasaan lelaki tua berikut ini.

Menjelang siang, lelaki itu keluar dari kamarnya. Mengamati ruangan yang kini terasa kosong. Kucing-kucing bersebaran di sekitar ruangan. Tak ada kopi susu hangat, ‘tak ada telur orak-arik, ‘tak ada istrinya.Sejenak, dua jenak, beberapa jenak, lelaki itu bingung akan apa yang musti dilakukannya kini. Ia baru menyadari, bahwa selama ini istrinyalah yang mengurus dirinya. Membuatkan makanan, mengingatkannya untuk segera mandi. Kini dia betul-betul tak tahu apa yang akan dilakukannya (prg. 7, hlm. 168).

Begitulah gambaran kuat konflik batin dari suatu keadaan, yang mulai menghantui benak tokoh lelaki tua itu, yang membangun atau menguatkan tentang arti pengejewantahan suasana. Lelaki tua yang baru bisa menyadari bahwa selama ini hanya istrinyalah yang selalu mengurus dirinya, mengurusnya dari hal yang besar hingga ke hal-hal yang kecil. Dari hal itu saya bisa melihat tentang keadaan yang terbalik, tentang seorang suami yang selama ini bergantung penuh kepada istri yang sangat mencintainya.

Sejatinya saya sedikit menyimpulkan tentang sebuah ketidakwajaran atas sosok suami yang kurang begitu peduli atau memperhatikan keadaan istrinya. Sampai dibuktikan di akhir penyelidikan dan pernyataan hasil otopsi di kepolisian. Sebuah hasil identifikasi masalah, yang menyimpulkan bahwa istrinya meninggal dunia karena kanker stadium akhir, yang menahun dan tak terdeteksi atau pun dirasakan oleh si empunya tubuh (prg. 22, hlm. 171).

Membaca dari awal sampai di tengah-tengah, dan melihat sekilas beberapa konflik yang timbul, sebuah pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan kepada diri saya sendiri tadi nampaknya belum juga bisa terjawabkan. Sampai pada bagian akhir, dari pendokumentasian peristiwa dan rasa ingin tahu saya, akhirnya terjawablah sudah semua itu. Sebuah kasus dan introgasi polisi ditutup, sebuah penafsiran-penafsiran publik yang termasuk juga wartawan-wartawan yang meliputnya terhenti meliput dan tercengang. Penafsiran-penafsiran tentang lelaki tua yang dianggap kurang wajar atau gila agaknya sudah mulai bisa terhapuskan. Dan tentang “Sepotong Tangan” terjawabkan jelas dari munculnya sosok gadis kecil di tengah-tengah kerumunan lelaki tua itu. Gadis dari keturunan adik ipar istrinya, yang dengan keluguannya mendekati tokoh lelaki tua (pamannya) dan dengan spontan langsung mengajukan beberapa pertanyaannya.

Paman, kenapa Paman memotong tangan bibi? Sekarang bibi jadi meninggal.” Wajahnya sedih, ada sisa tangis di pipinya.

Aku tidak memotong tangannya sebelum dia meninggal, Nak. Tak mungkin aku tega berbuat begitu. Aku sangat mencintai bibimu. Aku memotongnya setelah dia meninggal.

Kenapa dipotong? tanyanya lugu.

Karena aku tak bisa hidup tanpa dia, Nak. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat tanpa dia. Aku tak mungkin pergi cari bantuan dengan membawa mayatnya, terlalu berat untukku. Maka aku memutuskan untuk membawa tangannya saja. Sebab, aku butuh kekuatan dari perempuan yang sangat kucintai… aku ingin menggenggam tangannya agar aku kuat.” (prg. 24, hlm. 171-172).

Suspensi atau ketegangan teks yang hadir secara spontanitas melalui pertanyaan-pertanyaan gadis lugu itulah rupa-rupanya menjawab sudah peristiwa dari kejadian itu. “Sepotong Tangan” menjawab secara jelas dan memberikan makna yang besar tentang konsepsi berpikir tentang pengambilan sikap yang nyata, lebih khususnya pada kaitan tentang alasan mengapa seorang lelaki tua telah tega memotong satu lengan tangan istrinya yang sudah meninggal dunia. Dan pada pernyataan atau jawaban lelaki tua di atas menjadikan penutup konflik batin dari apa yang dialami oleh lelaki tua terhadap ketidaktahuan orang-orang yang ada di sekitarnya.
***

Menelusuri setiap bagian cerita dari awal hingga akhir, secara terus terang saya (bahkan termasuk tokoh-tokoh yang ada di dalam isi cerita) sangat terpukau dengan satu pernyataan yang terucapkan oleh anak gadis yang dapat menyimpulkan arti dan pemaknaan tanda cinta melalui peristiwa “Sepotong Tangan”nya Ratih Kumala; “Jika aku punya suami kelak, aku ingin yang seperti paman.”

Pada akhirnya saya pun harus menutup pendapat saya tentang arti pendokumentasian sebuah peristiwa itu. Peristiwa tentang pentingnya tanda cinta dalam “Sepotong Tangan” Ratih Kumala. Bahwa menurut saya di dalam konteks sebuah penulisan, cerita yang diungkapkan oleh Ratih Kumala melalui “Sepotong Tangan” yang ia ciptakan tidak begitu penting adanya. Melainkan, saya merasa bahwa sebagai pengarang Ratih Kumala telah berhasil menyembunyikan sosok dirinya di dalam sebuah teks melalui suasana. Suasana yang dibangun begitu terbuka untuk didedah, ditafsirkan bebas dengan penuh leluasa, oleh pembaca bahagia.

6 Maret 2021 Jombang.

*) Anton Wahyudi, bermukim di Dusun Jambu RT/RW: 2/2, Desa Jabon, Jombang. Mengelola Jombang Institute, sebuah Lembaga Riset Sejarah, Sosial, dan Kebudayaan di Jombang, Jawa Timur. Di samping aktif dalam kegiatan menulis, dan sebagai editor lepas, menjadi Dosen Sastra Indonesia di Kampus STKIP PGRI, Jombang. Buku terbarunya “Guruku, Ayahku, Kakakku Kwat Prayitno” (2020).



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.