TENTANG METAFORA DAN KEAJAIBAN –

oleh -259 views


Rambuana *

Tahun 2020, bagi saya, tidak dimulai sejak 1 Januari dan berakhir hari ini, 31 Desember, pukul 23.59.59, tetapi bermula di satu awal pagi tanggal 23 November, saat kiriman materi pertama kelas Menggambar dengan Kalimat dari pak guru AS Laksana tiba, dan berakhir di satu siang pada tanggal 23 Desember, saat kiriman materi terakhir tiba dengan selamat. Karena itu, tahun 2020, bagi saya, adalah tahun yang paling singkat dan padat dan penuh keajaiban. Tahun 2020 adalah waktu yang ajaib.

“Waktu adalah esensi dari apa aku terbuat. Ia adalah sungai yang menghanyutkanku, tetapi akulah sungai itu; ia adalah harimau yang melumatku, tetapi akulah harimau itu; ia adalah api yang melahapku, tetapi akulah api itu. Dunia, sayangnya, adalah nyata; aku, sayangnya, adalah Borges.”

Dalam salah satu materi kelas Menggambar dengan kalimat, pak guru AS Laksana mengajarkan tentang salah satu perangkat retorika, yaitu metafora, dan salah satu yang menarik dari metafora adalah kemampuannya membangkitkan imajinasi dengan menyuguhkan gambar di benak pembaca, dan itu lebih memikat daripada sekadar menyodorkan definisi atau konsep abstrak, dan kalimat di atas adalah salah satunya. Itu adalah kalimat terkenal dari Jorge Luis Borges, kalimat penutup dari esainya: A New Refutation of Time. Dalam esai itu, ia membahas tentang pelbagai definisi dan konsep waktu, yang semuanya abstrak dan rumit dan berputar-putar, lalu ditutup dengan sebuah metafora konseptual yang paradoks, sebuah ekspresi piguratif yang ironis. Borges juga tidak menempatkan kalimat itu di awal, seperti lazimnya sebuah metafora konseptual ditempatkan, seakan-akan ia tidak butuh semacam kesepakatan dua pihak, seakan-akan ia tidak perlu semacam persetujuan pembaca, seolah-olah cukup baginya itu menjadi kalimat yang personal.

Pernyataan waktu sebagai esensi dari apa “manusia-Borges” terbuat bukan hanya segar dan membangkitkan, tetapi lebih segar dan membangkitkan kembali imajinasi, ketimbang pernyataan: Manusia adalah sejenis gerabah yang terbuat dari lempung, misalnya, yang hanya akan menyodorkan kepada benak pembaca gambar-gambar dan dongeng-dongeng yang telah basi, walaupun sama-sama keliru, sebab yang jauh lebih menarik dari metafora, menurut pak guru AS Laksana, adalah bukan kemampuannya untuk membangkitkan imajinasi, tetapi kemampuannya memangkas penjelasan dan memahami banyak hal tanpa membebani benak kita dengan harus mengunyah konsep-konsep abstrak yang rumit, dan karena itu, metafora yang menarik adalah metafora yang persamaannya memiliki akurasi dan bisa diuji ketepatannya secara ilmiah.

Manusia tidak terbuat dari waktu tetapi sebaliknya: kitalah yang menciptakan waktu; pikiran manusia yang menciptakan konsep waktu, sebagai salah satu instrumen untuk lebih mengakrabi dunia, untuk lebih mengenali dan memahami kehidupan.

Aku … atom dari semesta, semesta dari atom. Itu juga kalimat metafora. Richard P Feynman yang mengatakannya, dan ia adalah seorang ilmuwan dan apa yang dikatakannya bisa diuji secara ilmiah.

Tetapi metafora tidak hanya tentang akurasi dan konsekuensi logis, begitu juga dengan manusia dan kehidupan dan waktu. Terkadang, metafora juga tentang keajaiban-keajaiban. Manusia menciptakan satuan-satuan waktu: detik, menit, hari, minggu, bulan, tahun dsb. Mungkin metafora Borges bermaksud membawa imajinasi untuk melampaui definisi dan konsep untuk menemukan keajaiban di dalam setiap satuan waktu yang kita ciptakan; membawa kita menatap langit dan menatap sepuluh bintang meledak, dan 4800 bintang baru tercipta setiap satu detik; membawa kita mengintip ke lapisan-lapisan otak kita yang memproses 660 juta bit informasi dan hanya 3 ribu bit yang bisa diproses oleh kesadaran setiap satu menit; membawa imajinasi kita hanyut sekaligus mengelilingi bumi dua ½ kali di aliran sungai sepanjang 60 ribu mil di dalam tubuh kita hanya dalam waktu 20 detik.

Jika hari ini, tahun ini, kita tidak bisa melihat keajaiban dalam ukurannya yang besar, semoga tahun depan, beberapa saat lagi, kita bisa melihatnya.


*) Rambuana, pedagang kaki lima yang gemar membaca, senang menulis, dan suka menerjemahkan karya-karya sastra, tinggal di Tangerang, Banten.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.