TES KECAKAPAN MENULIS (2) –

oleh -75 views


Djoko Saryono *

/1/
Tes kecakapan menulis dapat dilakukan dengan menggunakan tiga macam pende-katan, yaitu (1) pendekatan diskrit, (2) pendekatan integratif, dan (3) pendekatan komunikatif atau pragmatik. Tes kecakapan menulis dengan pendekatan diskrit terarah dan terfokus pada aspek-aspek tertentu kecakapan menulis, misalnya aspek tata bahasa atau kosa kata atau ejaan dan tanda baca. Dalam hal ini yang diukur adalah salah satu aspek kecakapan yang dimiliki oleh pengikut tes (testee) dalam menulis. Kemudian tes kecakapan menulis dengan pendekatan integratif terarah dan terfokus pada beberapa aspek kecakapan menulis yang menyokong secara langsung kecakapan menulis sebagai satu keseluruhan. Dalam hal ini yang diukur adalah beberapa aspek kecakapan yang dimiliki oleh pengikut tes dalam menulis. Selanjutnya tes kecakapan menulis dengan pendekatan pragmatik atau komunikatif terarah dan terfokus pada kecakapan menulis sebagai keseluruhan sesuai dengan konteks pemakaian bahasa senyatanya. Dalam hal ini yang diukur adalah keseluruhan kecakapan yang dimiliki oleh pengikut tes dalam menulis sesuai dengan konteks pemakaian bahasanya.

/2/
Secara umum terdapat dua bentuk tes kecakapan menulis, yaitu (1) bentuk objektif dan (2) bentuk subjektif. Bentuk objektif tes kecakapan menulis umumnya digunakan untuk mengukur kecakapan aspektual yang dimiliki oleh pengikut tes dalam menulis. Bentuk subjektif tes kecakapan menulis umumnya digunakan untuk mengukur kecakapan menyeluruh (komprehensif) yang dimiliki oleh pengikut tes dalam menulis. Bentuk objektif ini berkaitan dengan pengukuran tidak langsung, sedangkan bentuk subjektif berkaitan dengan pengukuran langsung.

Terdapat bermacam-macam bentuk tes objektif untuk kecakapan menulis. Oller (1979) menyatakan bahwa bentuk tes objektif untuk kecakapan menulis dapat berupa tes pilihan ganda, yaitu (1) pemilihan kata, frasa atau klausa yang tepat yang selanjutnya dimasukkan pada tempat kosong yang disediakan, (2) penentuan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam teks tulisan, dan (3) pe-nempatan dan penyusunan kata, frasa atau klausa menjadi sebuah teks yang berterima. Bentuk tes yang lain yang dapat digunakan untuk mengetes kecakapan menulis ialah tes klos (cloze test). Tes klos dapat dikatakan sepadan dengan tes subjektif membuat tulisan seperti dibuktikan oleh penelitian Brosnahan dan Neuleib (1983). Dalam penelitiannya, Brosnahan dan Neuleib membandingkan tes kecakapan menulis yang berbentuk membuat tulisan dengan tes klos untuk penempatan (placement test). Hasilnya menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara kedua bentuk tes tersebut.

Bentuk tes subjektif untuk kecakapan menulis juga bermacam-macam. Berdasarkan jenis tugas yang terkandung dalam tes kecakapan menulis, ada tiga macam bentuk tes subjektif, yaitu (1) tes dengan tugas bebas (idependent tasks), (2) tes dengan tugas terbimbing (guided tasks), dan (3) tes dengan berdasarkan pengalaman (experience tasks). Pada yang pertama pengikut tes diberi seperangkat topik, kemudian disuruh menulis tanpa panduan apapun (tes menulis bebas dengan topik telah ditetapkan). Pada yang kedua pengikut disuruh menulis suatu tulisan berdasarkan panduan atau bahan tertentu (dalam bentuk tabel, grafik atau gambar yang relevan). Selanjutnya pada yang ketiga pengikut tes diberi kesempatan untuk mendapatkan bahan dan keterampilan yang relevan melalui pengalaman sebelum mengerjakan tugas menulis.

/3/
Dalam pengukuran tidak langsung diukur kecakapan editorial pengikut tes secara terpisah. Pengikut tes dituntut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang menulis yang disajikan dalam bentuk objektif. Karena bentuknya objektif, metode penilaian atau penskorannya objektif pula, tidak menimbulkan ba-nyak persoalan sebab pedomannya sudah pasti. Subjektivitas penilai tidak berperanan dalam penilaian atau penskoran. Jadi, dalam pengkuran secara tidak langsung hanya ada satu metode penilaian atau penskoran yang objektif sifatnya.

Sebaliknya, metode penilaian atau penskoran dalam pengukuran secara lang-sung bermacam-macam dan para ahli evaluasi pengajaran bahasa tampaknya masih berbeda pandangan mengenai hal ini. Terdapat dua macam metode penilaian atau penskoran tes kecakapan menulis, yaitu (1) metode atomistik dan (2) metode holistik. Pada umumnya metode holistik terdiri atas skala esei, skala analitik, skala dikotomis, penskoran aspek utama, penandaan kesan umum, dan pusat tarikan tanggapan. Namun, pendapat ini tidak disepakati oleh White (1985). White membagi metode penilaian atau penskoran menjadi dua macam saja, yaitu metode analitik dan metode holistik. Dalam hubungan ini tampaknya metode analitik sepadan dengan metode atomistik. Ada ahli lain berpendapat bahwa metode penilaian atau penskoran kecakapan menulis dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu metode global, metode analitik, dan metode penskoran aspek utama. Mengingat persamaan-persamaan di samping perbedaan-perbedaan yang ada, saya cenderung memasukkan ketiga metode tersebut ke dalam metode holistik. Dengan demikian, menurut hemat saya, dalam pengukuran langsung terdapat dua macam metode, yaitu (1) metode atomistik dan (2) metode holistik yang terdiri atas (a) metode global, (b) metode analitik, dan (c) metode penskoran aspek utama.

Metode global digunakan berdasarkan keyakinan bahwa sebuah tulisan merupakan satuan utuh yang bagian-bagiannya tidak bisa dipisah-pisahkan dan dini-lai secara tersendiri. Sebab itu, mutu sebuah tulisan harus diukur secara keseluruhan. Masing-masing tulisan yang dinilai dengan metode global memper-oleh hanya satu angka/nilai yang menggambarkan kesan penilai secara umum ten-tang bagaimana baiknya atau efektifnya tulisan tersebut secara keseluruhan. Sudah barang tentu kesan umum penilai itu didasarkan atas berbagai aspek tulisan, tetapi aspek-aspek itu tidak dilihat satu per satu . Berbagai ahli menyarankan agar dalam metode global ini diperhatikan mutu isi (gagasan), organisasi, suara, pemilihan kata, susunan kalimat, kelancaran, dan konvensi. Berhubung aspek ini tidak diukur satu per satu, cukuplah didefinisikan secara umum.

Penskoran dalam metode global ini didasarkan atas pedoman petunjuk peni-laian yang berisi deskripsi pada masing-masing angka yang digunakan dalam skala pengukuran. Pedoman ini biasanya dibuat berdasarkan mutu tulisan yang akan dinilai. Semua tulisan yang akan dinilai dilihat sekilas, kemudian dipilih yang baik, sedang, dan buruk. Selanjutnya dibuatlah garis besar ciri tulisan yang baik, sedang, dan buruk. Ciri-ciri masing-masing mutu inilah yang dijadikan pedoman penilaian semua tulisan yang akan dinilai.

Kelebihan metode global ini terletak pada kemampuannya menggambarkan kecakapan menulis sebagai satu kesatuan atau keseluruhan. Kelemahannya ialah penilai harus mempertimbangkan banyak aspek dan memberikan hanya satu nilai yang mencerminkan kecakapan penulis dalam semua aspek. Ini memerlukan konsentrasi dan keterampilan yang demikian tinggi dari penilai.

Tidak seperti metode global yang hanya memberikan satu nilai yang harus mencerminkan mutu semua aspek tulisan, metode analitik justru memberikan satu angka terpisah untuk masing-masing aspek tulisan. Karena setiap aspek harus mendapat satu nilai, masing-masing aspek harus didefinisikan secara operasional, tidak dalam definisi umum seperti dalam metode global. Kumpulan/gabungan angka dari masing-masing aspek yang didefinsikan secara operasional ini merupakan profil atau gambaran kecakapan menulis secara keseluruhan.

Kelebihan motode analitik ini terletak pada kemungkinannya untuk dapat menilai semua aspek yang mendukung kecakapan menulis. Kelemahannya terletak pada pengembangan petunjuk penilaian dan pelaksanaan penilaiannya. Pengem- bangan petunjuk penilaian tidak mudah karena setiap aspek harus didefinisikan secara operasional. Bila ada 10 aspek tulisan dinilai, maka harus didefisikan secara operasional 10 aspek itu. Pelaksanaan penilaian juga tidak mudah sebab penilai harus membaca satu kali (atau dua tiga kali) sekaligus memberikan beberapa nilai. Hal ini sangat melelahkan penilai.

Metode penskoran aspek utama terfokus pada penilaian satu aspek utama tulisan yang dinilai. Satu aspek utama ini lazimnya ditujukan pada retoriknya, misalnya mutu deskripsinya atau narasinya atau argumentasinya. Kelebihan meto-de ini terletak pada kemungkinannya memusatkan penilaian pada aspek kecakapan yang hendak diukur. Kelemahannya, kemungkinan adanya aspek penting dalam tu-lisan yang tidak bisa diukur karena salah menentukan aspek utama.

Metode penskoran aspek utama memiliki persamaan dan perbedaan dengan metode global. Pertama, kedua metode ini memberikan satu nilai untuk satu tulisan, tetapi proses pemberian nilai itu berbeda. Penilaian dalam metode global didasarkan atas banyak aspek, sedangkan dalam metode penskoran aspek utama didasarkan atas satu sapek utama saja. Kedua, satu nilai dalam metode global mencerminkan mutu banyak aspek, sedangkan satu nilai dalam metode penskoran aspek utama mencerminkan satu aspek saja. Ketiga, pedoman penilaian dalam metode global lazim dikembangkan berdasarkan tulisan-tulisan yang akan dinilai, sedangkan dalam metode penskoran aspek utama dikembangkan berdasarkan kriteria atau patokan yang ditentukan oleh penilai tanpa terpengaruh oleh tulisan yang dinilai.

Metode penskoran aspek utama juga memiliki persamaan dan perbedaan dengan metode analitik. Pertama-tama aspek yang dinilai harus didefinisikan seopera-sional-operasionalnya berdasarkan patokan atau kriteria yang menjadi tolok ukur mutu satu aspek yang dinilai. Dalam metode penskoran aspek utama hanya satu aspek yang harus didefinisikan, sedang dalam metode analitik minimal lebih dari satu aspek (lazimnya melibatkan banyak aspek) yang harus didefini-sikan seoperasional-operasionalnya. Kedua, penilai dalam metode penskoran as-pek utama hanya membaca satu kali sambil cukup memberi satu nilai saja untuk setiap tulisan, sedang dalam metode analitik harus membaca satu kali sambil memberi banyak nilai pada setiap tulisan.

Metode-metode holistik tersebut, baik metode global, metode analitik maupun metode penskoran aspek utama menimbulkan kesulitan karena lunaknya kuantifikasi hasil penskoran. Ketiga metode ini memang menimbulkan kesulitan mengku-antifikasikan hasil penskoran pada penilai atau korektor walaupun berbagai usaha mengatasinya, misalnya dengan menggunakan model skala penilaian, sudah dilakukan. Dalam mengoreksi, penilai atau korektor sering mendasarkan diri pada intuisi. Hal ini merupakan masalah krusial dalam penilaian kecakapan menulis sebab menyangkut keterandalan tes. Itu sebabnya, para ahli menyarankan digunakannya prosedur penskoran yang berupa jumlah kata yang ada dalam tulisan yang dibuat oleh pengikut tes, dikurangi dengan kesalahan yang dibuat oleh pengikut tes, dan selanjutnya dibagi dengan jumlah kata yang seharusnya ada dalam tulisan.

Bersambung…


*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *