Tiga Aliran Puitika Jawa Timur

oleh -72 views


F Aziz Manna


Situasi kesusasteraan khususnya
perpuisian di Jawa Timur saat ini sangatlah meriah. Bahkan bisa dikata
menegangkan. Bagaimana tidak, hingga kini perbincangan sastra (puisi) di Jatim
menukik ke arah paling vital.


Menajam pada visi dan ideologi puisi. Tapi secara garis besar,perbincangan yang
kerap berujung pertikaian ini terkanalisasi dalam tiga aliran deras. 

Yakni,aliran para pemeluk teguh puisi gelap, aliran peyakin puisi terang, dan
aliran alternatif penganjur suara-suara lain. Aliran terakhir ini lebih
cenderung mengarah pada gerakan politik sastra. Meski begitu,mereka tetap
melakukannya dengan tawaran estetika. Kanalisasi tiga aliran puitika Jatim ini
merupakan kristalisasi dari gerakan sastra sebelumnya. Pada 1993, para
sastrawan Jatim memelopori gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP).

Gerakan ini seakan ingin membuka mata Indonesia bahwa kegiatan bersastra tidak
melulu hadir di Jakarta. Setelah itu, berkecambahlah kantong-kantong sastra di
Jatim. Berdasar pendataan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang dilakukan pada
Maret 1998 tercatat sedikitnya 167 komunitas sastra Indonesia yang muncul di
berbagai daerah dan 33 di antaranya terdapat di Jatim. Menariknya, data itu
tidak menyebut tiga nama komunitas yang menghembuskan tiga aliran besar dalam
perbincangan sastra terkini di Jatim seperti tersebutkan di atas. Ini berarti, pasca
1998 kian membiak pertumbuhan komunitas sastra di Jatim.

Berdasar pendataan terbaru yang dilakukan Balai Bahasa Jawa Timur pada 2010
terdeteksi sebanyak 114 komunitas sastra yang pernah muncul dan beraktivitas di
Jatim.Komunitas ini hampir ada di tiap wilayah Jatim. Para praktisi dan
pemerhati perpuisian Jawa Timur pasti mengetahui tiga kelompok aliran deras
ini.Meski terkadang sebagian dari mereka tidak mengakuinya secara eksplisit.
Aliran para pemeluk teguh puisi gelap dipelopori oleh sekelompok mahasiswa
Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Kelompok aliran puisi terang dimotori
oleh kumpulan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Sedangkan kelompok aliran alternatif yang menawarkan suara-suara lain dipenuhi
oleh beragam jenis kumpulan, mulai dari komunitas di luar kampus, aktivis, pemerhati
seni, pegawai balai bahasa, hingga pedagang, dan pengangguran. Aliran puisi
gelap merupakan kelompok yang cukup militan dan solid sampai saat ini. Mereka
memulai gerakan puitikanya melalui Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar
(FS3LP) dan Teater Gardu Puisi Surabaya (Gapus) sejak era 1990-an. Hingga kini
para personilnya masih berkreasi. Salah satu pemeluk teguh puisi gelap ialah
Indra Tjahyadi.

Dalam manifesto puisi gelapnya,Indra meneriakkan kredo: puisi harus didorong ke
arah pemaknaan yang paling ambigu,yakni dengan menggelapkan makna. Sebab itulah
satu-satunya cara untuk menyelamatkan manusia dari kehancurannya sebab hidup di
dunia kini yang telah dipenuhi kebanalan. Arif Bagus Prasetyo dalam catatan
kuratorial ‘Forum Sastra Indonesia Hari Ini wilayah Jawa Timur‘ yang digelar
komunitas Salihara Jakarta mengakui secara terbuka bahwa sampai hari ini di
Jawa Timur belum muncul gerakan puitik yang semilitan dan seserius puisi gelap.

Mazhab puisi gelap mengekspos panorama kegelapan jiwa dengan kadar kepekatan
dan kemabukan yang belum pernah terpampang dalam khasanah puisi dari berbagai
provinsi lain.Sehingga, kehadiran puisi gelap layak dicatat sebagai kontribusi
unik Jawa Timur dalam sejarah sastra Indonesia kontemporer. Aliran kedua yang
mulai tumbuh di Jawa Timur ialah puisi terang. Kelompok ini muncul pada era 2000-an
dimobilisasi oleh Komunitas Rabo Sore yang bermarkas di Unesa. Kelompok ini
mendapatkan suntikan puitik dari penyair kawak dari Gresik, HU Mardi Luhung. Beberapa
sosok yang mendiami kelompok ini ialah A Muttaqin, Umar Fauzi Ballah, Dody
Kristianto, dan lainnya.

Kelompok ini menyuarakan gerakan puisi terang yang menyuarakan kehidupan
manusia sehari-hari dengan bahasa yang komunikatif dan tidak atraktif. Model
puitika kelompok ini dipasangkan sebagai ‘lawan‘ puisi gelap. Dalam obrolan
mereka yang terekam melalui jejaring sosial,mereka menyepakati bentuk puisi
Gokil sebagai identitas mereka.Gokil merupakan sebuah prokem anak gaul yang
sering diartikan sebagai gila. Namun kegilaan yang dimunculkan dalam puisi kelompok
ini bukanlah penjungkirbalikan logika. Puisi Gokil diterjemahkan dalam kredo
mereka sebagai puisi gegojekan atawa begejekan. Sebuah jenis puisi tidak serius
tapi serius.

Rahmat Giryadi, sastrawan dan dramawan lulusan Unesa menyebutnya sebagai puisi
‘seGo kiKil‘ (nasi kikil) dan puisi ‘soGOKane upIL‘ (alat pencungkil kotoran
hidung). Sebutan Giryadi ini begitu pas untuk menamai gerakan puisi kelompok
Unesa yang mengusung keseharian, ketidakseriusan yang serius. Dalam kredo puisi Gokil
ini,posisi A Muttaqin ditempatkan paling atas sebagai ketua kelompok, menyusul
Timur Budi Raja sebagai wakil ketuanya dan Dody sebagai penanggung jawabnya.

Aliran ketiga yang tumbuh di Jawa Timur merupakan kelompok ‘tengah‘ yang tidak
mendukung puisi gelap pun puisi terang ‘Gokil‘.Aliran ketiga ini cenderung membawa
suara-suara lain. Menawarkan alternatif bentuk puisi. Sayangnya, kelahiran
aliran ketiga ini lebih bernuansa politis daripada puitis. Aliran suara lain
ini dimotori oleh Wahyu Haryanto, AF Tuasikal, serta Puput Amiranti. Belakangan
ini, aliran suara lain terus mengumpulkan kekuatan dengan menggandeng
komunitas-komunitas sastra dan seni di beberapa wilayah di Jatim. Beberapa
komunitas itu tersebar di Mojokerto, Lamongan, Jombang, Malang, Madura, dan
Surabaya.

Aliran alternatif ini menginginkan adanya revolusi generasi penyair Jawa Timur.
Mereka menolak penyairpenyair terdahulu dan menawarkan generasi-generasi
mutakhir. Meski,generasi mutakhir yang ditawarkan belum memiliki karier
panjang. Beberapa penyair alternatif yang coba ditawarkan seperti Abimardha
Kurniawan, Fahmi Fakih, Dadang Ari Murtono, Amal Sejati dan lainnya.

Dalam kredo berjudul ‘Regenerasi Penyair Jawa Timur‘, Puput Amiranti
menyatakan, apa yang terjadi jika generasi-generasi yang terdahulu tetap berada
pada posisi kepemimpinan di atas,sesungguhnya yang mereka lakukan bukanlah
memberikan arah baru atau memberi petunjuk yang lebih baik di masa mendatang
melainkan kenikmatan- kenikmatan memorabilia kejayaan mereka dulu yang pernah
melegenda namun sekarang tinggal rangkaian cerita yang kerap diulang-ulang.

Puput pun menyuarakan lahirnya generasi muda sastra yang berusaha berdiri di
atas pemikiran sendiri tanpa dibayang- bayangi penyair-penyair terdahulu.Aliran
alternatif ini meyakini,penyair-penyair muda yang lepas dari penyair-penyair sebelumnya
memiliki potensi estetik yang besar dan layak diberi tempat. Ketiga aliran ini
merupakan penghuni sah dari peta perpuisian Jawa Timur. Namun yang perlu
diingat, sebagai sebuah provinsi para penyair (meminjam isilah kritikus Ribut
Wijoto), Jawa Timur haruslah bisa menyemaikan lebih banyak lagi aliran puisi.

Saya meyakini,selama kelompok sastra ini bisa berdialog kreatif tanpa saling
membunuh, beberapa tahun ke depan akan bermunculan lagi aliran-aliran baru
puisi Jawa Timur. Semoga.

F Aziz Manna, Penyair, anggota Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP). 

NB : Esai ini tayang pada Harian Sindo regional Jatim pada 12 Maret 2012. Ini esai sempet jadi guyonan pada awal tahun 2012. Karenanya, saya menganggep ini esai yang lucu sekaligus lugu. beruntunglah, cocot si Aziz gagap ini bisa dibersihken dan dibungkem oleh esai kawan saya Arfan Fathoni yang muat di Radar Surabaya



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.