WAFATNYA JOEN SOEGANDA –

oleh -141 views


Taufiq Wr. Hidayat *

Bagi orang sepenting Joen Soeganda—yang kaya dan berkuasa, kepergiannya meninggalkan dunia fana ini disebut “wafat” atau “mangkat”. Dan bagi yang tidak sepenting Joen Soeganda, orang akan menyebut kematian seseorang dengan kata “tewas”, “mati”, “modar”, “beres”, “selesai”, “tamat”, atau “dead”. Kata-kata kasar seperti itu sangat tidak layak untuk menyebut kematian Joen Soeganda. Siapa yang berani berkata seperti itu? Joen Soeganda bukan orang sembarangan! Dia orang mulia, orang agung, baik, kaya raya, gemar memberi sembako sama orang-orang miskin. Bahkan kata “wafat” untuk menyebut kematiannya pun terasa kurang sopan.

Pagi itu adalah pagi yang merekah. Cahaya matahari bersinar cerlang menyambut jenazah Joen Soeganda dari luar negeri. Selama seminggu lebih, Joen Soeganda yang sudah berusia 97 tahun itu dirawat di rumah sakit paling bagus di luar negeri. Dokter mengerahkan seluruh kemampuan dan pengalaman kedokterannya selama bertahun-tahun, begitu berhati-hati, dan melakukan pemantauan setiap detik terhadap pasien agung itu. Tapi apa boleh buat? Tuhan berkehendak lain. Joen Soeganda wafat tepat setelah tiga bulan ia merayakan ulang tahunnya yang ke-97.

Siapa yang tidak tahu Joen Soeganda. Di tanah air, ia sosok yang hebat. Apa saja yang dipegangnya jadi emas. Ia memegang lumpur, lumpur jadi emas. Ia menyentuh kelereng, kelereng jadi emas. Ia membelai tepung, berton-ton tepung menjelma emas. Ia berhasil menciptakan kerajaan bisnis yang meraksasa di segala sektor. Negara selalu meminta pertolongannya untuk mengentaskan pengangguran dalam negeri, membujuknya memulihkan perekonomian bangsa.

Pagi itu, para pelayat berjubel memenuhi istana Joen Soeganda. Para pelayat yang terdiri dari orang-orang penting dalam pemerintahan, dari pejabat kecil sampai pejabat besar, tokoh masyarakat, dan tamu mancanegara. Orang-orang penting berkumpul di ruang tamu istana Joen Soeganda, rumah dan halamannya seluasnya dua hektar lebih. Kursi-kursi mewah berlapis emas. Orang-orang yang setengah penting berkumpul di teras istana yang berlantai kaca dengan kolam ikan di bawahnya. Orang-orang yang tidak penting berkerumun duduk di lantai granit halaman istana Joen Soeganda. Dan orang-orang yang sangat tidak penting, nongkrong di tepian jalan aspal di depan istana Joen Soeganda. Jalanan tertutup manusia. Tangis mengharu biru. Keluarga menunjuk seorang tokoh agama untuk menyampai sepatah kata sambutan mewakili keluarga Joen Soeganda yang terdiri dari seorang istri, seorang anak laki-laki, dan tiga orang anak perempuan. Tokoh agama yang sering muncul di tivi itu tampil ke hadapan ribuan pelayat, mengenakan songkok putih yang bertengger di kepalanya, berjubah putih, berambut hitam, alisnya hitam. Ia adalah tokoh agama, pendakwah yang cukup muda dengan empat orang istri. Dipanggil ustadz muda dengan ribuan jamaah. Ia akan menyampaikan sepatah kata sambutan mewakili keluarga besar Joen Soeganda sebelum jenazah diberangkatkan dengan Baby Benz ke pemakaman keluarga.

“Saudara-saudaraku, puji syukur kepada Tuhan. Saya mewakili keluarga yang mulia Bapak Joen Soeganda, mengucapkan terima kasih yang mendalam atas kehadiran saudara-saudara di rumah duka. Kita berduka amat sangat mendalam atas kepergian yang mulia Bapak Joen Soeganda, tokoh kita yang dermawan, yang selalu mengeluarkan uangnya buat orang-orang miskin, orang yang dengan tulus memulihkan perekonomian negara kita, orang yang tiada bandingnya, kaya raya dan baik hati suka tersenyum. Tuhan telah memanggilnya dengan cinta-Nya yang luhur…” kalimat tokoh agama itu terputus di tenggorokan. Air mata mengalir ke pipinya. Ia mengusap air mata di pipinya. Ia terisak begitu pedih. “Kita semua merasakan kehilangan yang sangat mendalam,” lanjutnya.

Orang-orang tertunduk haru. Orang-orang menangis. Beberapa orang histeris. Air mata tumpah, tangis yang dalam dan membiru.

“Kita semua akan menyembahyangkan yang mulia Bapak Joen Soeganda sebelum jenazahnya yang suci dimakamkan. Saya minta semua melakukan penyembahyangan. Agama kita menjelaskan, bahwa jenazah yang disembahyangi lebih dari 40 orang, jenazah tersebut akan langsung masuk surga. Kita di sini bukan 40 orang. Kita di sini ribuan orang. Ribuan orang akan menyembahyangkan jenazah yang mulia Bapak Joen Soeganda tercinta. Beliau pasti masuk surga, yang mulia Bapak Joen Soeganda pasti disambut oleh Allah, karena kita yang akan menyembahyangkannya berjumlah ribuan orang.”

Tangis-tangis makin histeris. Tapi suasana tetap hikmat.

“Mari kita berdoa dan menyembahyangkan dengan khusyuk agar beliau langsung masuk surga dan diterima Allah dengan cinta-Nya.”

Orang-orang menyambut ajakan tokoh agama itu dengan hikmat, mendalam, dan bersungguh-sungguh.

“Tuhan Maha Besar.”

“Maha Agung Tuhan.”

“Puji Tuhan.”

“Damai-damai.”

“Innalillahi wa innailaihi roji’un.”

“Saudara-saudara tercinta, para pelayat yang dimuliakan Allah. Mari kita menyembahyangkan jenazah yang akan langsung masuk surga ini, yang mulia Bapak Joen Soeganda, yang telah ditunggu-tunggu Tuhan di surga-Nya yang maha tinggi.”

Sembahyang jenazah pun dilakukan. Ribuan orang melakukan sembahyang jenazah. Jalanan penuh orang melakukan sembahyang jenazah. Ada yang hanya berdiri tegak sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di dada. Ada yang begitu khusyuk menyilang tanda salib pada dadanya. Semua berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing. Dan setelah sembahyang jenazah selesai, tokoh agama itu kembali menyampai sepatah kata terakhir mewakili keluarga Joen Soeganda, orang yangvkaya raya selama hidupnya.

“Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah. Yang mulia Bapak Joen Soeganda jelas tidak mempunyai hutang semasa hidupnya. Beliau kaya raya, bisnis dan perusahaannya di mana-mana memenuhi negeri ini, mana mungkin dia punya hutang kepada sesamanya? Beliau suka memberi uang kepada sesamanya, yakni sembako sama orang-orang miskin dan hadiah-hadiah. Beliau tidak pernah punya hutang kepada siapa pun. Kitalah yang telah banyak berhutang kepadanya. Dan hingga beliau wafat, kita belum mempertanggungjawabkan hutang-hutang kita kepadanya. Betul, saudara-saudara?”

“Betul.”

“Benar.”

“Joen Soeganda tidak pernah berhutang.”

“Kitalah yang banyak meminta.”

“Kita yang banyak berhutang.”

“Kamilah yang seharusnya membayar.”

Orang-orang menjawab bersahutan. Tokoh agama itu kembali mengambil alih keadaan.

“Baik! Baiklah, saudara-saudara. Yang mulia Bapak Joen Soeganda tidak punya hutang sepeser pun selama hidupnya, beliau selalu memberi. Beliau tidak punya hutang budi kepada siapa pun. Beliau tidak punya hutang hak kepada siapa pun. Beliau bersih lahir dan batin. Betul, saudara-saudara?”

“Betul.”

“Benar.”

“Joen Soeganda tidak punya hutang budi.”

“Joen Soeganda tidak punya hutang hak.”

“Kitalah yang berhutang budi dan hak kepadanya.”

“Joen Soeganda tidak punya salah sedikit pun.”

“Kitalah yang banyak salah selalu merepotkannya.”

“Baik! Baiklah, saudara-saudara. Maka dengan ini, yang mulia Bapak Joen Soeganda saya nyatakan tidak punya tanggungan apa-apa terhadap kita yang masih hidup. Dari semua bisnis dan kehidupan yang dijalani Bapak yang mulia Joen Soeganda bersih lahir dan batin. Setujukah, saudara-saudara?”

“Setujuuuuuu….”

Orang-orang serentak.

“Baik! Baiklah, saudara-saudara. Terima kasih atas perhatian dan kehadirannya. Atas nama keluarga Bapak yang mulia Joen Soeganda, saya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. Sekian.”

Jenazah diusung dengan peti yang mewah, berlapis emas. Peti mati yang berisi jenazah Joen Soeganda itu dimasukkan ke dalam Baby Benz. Iring-iringan jenazah begitu padat dan ramai. Aparat keamanan sibuk mengamankan. Baby Benz berjalan pelan menuju pemakaman keluarga besar Joen Soeganda. Orang-orang miskin dan bersandal jepit, sebagian malah tak beralas kaki, berbaju kotor dan compang-camping berjajar sepanjang jalan memadat. Mereka melepaskan jenazah Joen Soeganda, orang terkaya di negeri itu. Baby Benz berjalan pelan menuju pemakaman keluarga Joen Soeganda, Baby Benz mengantarkan Joen Soeganda ke surga.

Selang beberapa hari kemudian, di selokan kota ditemukan mayat perempuan telanjang. Kedua matanya melotot, mulutnya dikerubung semut, lehernya tercekik. Orang-orang menutup hidung, bau busuk menikam hidung manusia. Petugas mengamankan jenazah korban kejahatan itu.

“Dasar sundal!”

“Pelacur!

“Mampus!”

“Neraka!”

Mobil jenazah petugas mengangkut mayat perempuan telanjang itu. Seseorang berbisik pada kawannya; “ke mana mobil jenazah itu pergi?”

“Ke neraka!” jawab kawannya.

“Kenapa begitu?”

“Sudahlah. Orang miskin ke neraka. Orang kaya ke surga. Orang bodoh diceramahi. Orang tolol kayak kamu, baiknya diam saja!”

“Lalu apa makna hidup ini?”

“Hidupmu susah, segalanya bagimu harus bermakna. Jangan mencari makna hidup, itu hanya dicari orang-orang kaya dan kaum yang memakai baju agama yang berdakwah ke mana-mana. Sedang kita yang paling penting bagaimana bisa hidup, bukan makna hidup, bukan pula makna agama.”

“Ke mana mobil jenazah membawa mayat tragis itu?”

“Neraka!”

Banyuwangi, 2020


*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.