YANG DIJIWAI –

oleh -26 views


Mohammad Afifi *

“Apa yang tak lebih indah dari Cinta. Ia universal.” Ujar kawan saya yang nakal. Pun hampir semua filusuf dan para ilmuwan bersepakat bahwa, “Relasi paling agung antar manusia itu, cinta.” Entahlah.

Masih seputar cinta, bagi Rabi’ah Al Adawiyah ialah kebijaksanaan yang esensial. Ya, tak lebih dari itu. Dalam diktumnya yang masyhur, “Tuhan, jika aku ibadah karena mengharap surga, jauhkan saya dari surga itu. Jika aku ibadah sekedar berharap terhindar dari neraka-Mu, masukkan saja aku kedalamnya. Aku tak butuh surga, tak butuh neraka. Aku butuh Dirimu.” Barangkali tuangan rasa Rabi’ah ini dianggap berlebihan (secara literal). Nyatanya, ya beginilah kira-kira adagium esensial yang pas perihal cinta.

Ungkapan cinta Rabi’ah tak belaka soal dari neraka (minan nar) atau ke surga (ilal jannah), tapi soal “ilaihi raaji’un” –kembali kepada-Nya. Nah, baginya, ilustrasi surga-neraka sekedar iming-iming (media, stimulus) dalam upaya mendekatkan diri kepada-Nya. Bukan semata Tujuan yang diinginkan dan untuk dihindari. Lewat iming-iming tersebutlah komposisi kehambaan terdasar dan tergerak. Dan nyatanya tiap kita sedang belajar, berjalan, dan berbuat menuju-Nya–ridho-Nya.

Nah, oleh kebanyakan, cinta lazim termakna artikan sebagai rasa suka yang datang tiba-tiba semacam anugerah–diistilahkan ‘jatuh cinta–falling in love’. Apakah demikian? Tidak. Bagi Erich Fromm, cinta bagai seni. Mesti dipahami, mesti dipraktekkan. Jadi, bagi Fromm mencintai itu bukan soal “apa yang dicintai”. Justru menyoal “bagaimana mencintai.” Lazimnya realitas, manusia kerap mencari yang dicintainya. Implikasinya pasti bakal pilah-pilih, dan demikian berarti egois –membatasi ruang cinta itu sendiri. Ingat, ia universalitas. Maka pesan Fromm, fokuslah bagaimana mencintai.

Ditegaskan oleh Fromm, cinta itu bukan Falling for, tapi standing in –bukan jatuh cinta, tetapi mendirikan –menegakkan cinta itu sendiri. Dalam term teks suci, biasa dikenal “iqomah”, yang berarti mendirikan. Sebagaimana “iqomatus sholah” –mendirikan sholat. Tak belaka melaksanakan secara formal, tapi menghidupkan dalam prilaku yang situasional. Demikian juga perihal cinta.

Barangkali realitas mencintai, lazim dihadapkan dengan reaksi saling jumpa. Menghadirkan fisik yang dianggapnya utuh. Untuk sekedar bertatap, berkeluh kesah, meletakkan yang dicintai sebagai objek demi mendapatkan ketenangan jiwa. Inilah ghalib ketersalingan realita perjalanan. Ya, tak pernah rampung. Terus mengalir dalam serpihan-serpihan harapan-harapan. Ketenangan-ketidaktenangan, ketenangan-ketidaktenangan, begitu seterusnya. Mencemaskan yang tak cemas, menenangkan tak tenang. Semacam ambigu inilah kenikmatan dari tiap-tiap kenikmatan tersebut.

Boleh jadi sebagai pencinta hendak melabuhkan tiap rasa pada siapapun. Tapi kekokohan penjiwaan mesti terus dilatih. Mencintai tak belaka membebaskan rasa itu semata mencari sebuah ketenangan. Ia mengarifi serpihan-serpihan perjalanan dan meletakkan memungkin-mungkinkan terburuk di ruang yang paling tak penting. Artinya tak kalkulatif. Sebab cinta tak belaka didapati oleh logika, ia bukan soal akal. Tak cukup! Meski tiap pencinta perlu realistis. Tetapi ingat, Ia-lah rasa yang dijiwai. Dilatih kokoh oleh prinsip-prinsip, pola-pola, dan cara.

Maka membangunnya tak mudah, pun sejatinya tak sulit. Bagi pecinta, hendaknya meletakkan yang dicintai sebagai ruang belajar mengokohkan diri. Memantapkan ruang pribadi sebagai perluasan atas terombang-ambingnya berbagai perjalanan realitas yang niscaya. Ia spontan. Mudahnya, ruang itulah boleh dibilang sebentang konfigirasi. Konfigurasi yang tak semata koneksi, ialah sejatinya perwujudan dari sebuah ikhtiyar yang meletakkan yang dicintai agar nyaman atas apapun dan siapapun. Sebab konfigurasi tak mesti seterusnya kuat. Pun tak mesti lemah. Biarlah berjalan semestinya –airkulatif dan dinamis. “Biarlah yang dicintai nyaman atas kehendaknya, pada akhirnya bakal kembali ke rumah (ruang) yang semestinya (kedinamisan itu). Ya, Tuhan maha asyik.” Ujar kawan saya.

Instrumen cinta meletakkan segalanya sebagai ruang bagaimana cara-cara itu dapat ditumbuh-kembangkan. Menciptakan realitas sebagai energi, bahwa kekokohan tak mesti memaksakan kehendak, melainkan suatu penerimaan bahwa tiap perjalanan tak ada yang kebetulan. Maka inilah sebagian dari ruang dimana intervensi sang Maha Cinta sangat kuat, tidak cukup dipungkiri, pun tak terbantahkan. “Ya, sekedar cukup diikhtiyarkan.”

Sebagaimana untaian sosok Sapardi dengan puisi “Hujan Bulan Juni”, Gus Mus dengan “Sajak Cinta”, Khalil Gibran dengan “Cinta Tanpa Tanda Baca”. Semuanya mendalam–mendalami kedalaman dengan sedalam-dalamnya. Rupanya kedalaman itulah kesederhanaan yang apa adanya. Suatu untaian kelapangan yang kaya rasa, sarat pesan-pesan nilai. Pesan ketuhanan, lewat nilai-nilai jiwa kemanusiaan yang ternisacayakan. Ya, cinta itu manusiawi, kemanusiawian yang memanusiakan manusia sesederhana mungkin. Sesederhana ruang refleksi dimana kenyamanan dan keindahan dapat ditemui. Cukup terus arungi!

Syahdan, dalam sajaknya yang agung, bagi Sapardi, mencintai itu–sebagaimana kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Sebagaimana isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Sajak ini masyhur–Inilah tata ruang hidup-menghidupi kejiwaan jiwa itu.

Lalu, sebegitukah keagungan cinta dengan keniscayaannya? Sebuah perenungan yang mesti harus terjalani dengan diksi, nada, irama yang seenjoy-enjoynya, berlabuh lewat narasi-narasi rasa yang sesyahdu-syahdunya. Maka nikmatilah! Hingga wujud cinta tak didikte realitas. Pun pembawaannya ialah wujud kekokohan yang tertempa lewat ilmu, kualitas, nilai dan bentangan pencapaian-pencapaian luhur.

Sebab tiap perjalanan nyatalah sekedar keingintahuan yang sekedar terus diikhtiyarkan, bukan? Maka mulailah untuk terus berdamai dengan diri sendiri. Wallahu a’alam…

Padepokan Nyai Surti, 22 September 2020


*) Mohammad Afifi, lahir di Maskuning Kulon, Pujer, Bondowoso, Jawa Timur 20 April 1994. Koordinator Gusdurian Bondowoso. Bukunya “Mantra dari Langit” dan yang terbaru “Wasiat Nyai Surti” (2020).



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *